Pembatasan Wisatawan 2 Jam di Malioboro Diterapkan Bareng dengan One Gate System

Wisatawan mengantre di Gate Zonasi Malioboro untuk cek suhu dan kode QR pada Minggu (27/12/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
15 Agustus 2021 19:47 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Pemerintah (Pemkot) Kota Jogja memastikan bahwa rencana pembatasan kunjungan bagi wisatawan dengan durasi selama dua jam di kawasan Malioboro baru sebatas wacana. Aturan itu pun baru akan disimulasikan dengan harapan dapat berlaku optimal setelah PPKM level 4 berakhir dam sebaran Covid-19 dapat dikendalikan.

Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan saat ini pihaknya masih fokus pada upaya penurunan kasus Covid-19 dan kebijakan penanganannya. Hanya saja, selain sektor kesehatan pemerintah juga mesti pula memperhatikan bidang ekonomi agar keduanya bisa berjalan beriringan.

"Yang dilakukan di Malioboro dengan parkir tiga jam dan pengunjung dua jam sekarang masih simulasi. Sebab nanti setelah PPKM kita masih harus menurunkan pertumbuhan kasus Covid-19 di Kota Jogja. Agar kesehatan masyarakat dan roda ekonomi bisa berjalan beriringan," kata Heroe, Minggu (15/8/2021).

Heroe yang juga sebagai Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja menyebut, pihaknya juga telah menyiapkan sejumlah langkah dan persiapan agar rencana itu bisa dilakukan dan berjalan dengan baik di lapangan. Salah satunya dengan mengatur arus kendaraan yang melintas di kawasan Malioboro.

Baca juga: Calon Pengunjung Diminta Bersabar, Objek Wisata di Gunungkidul Masih Tutup

"Misalnya, semua kendaraan akan dilakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan kartu vaksinasi dan hasil swab negatif Covid-19. Itu dilakukan secara acak di sejumlah titik di jalan di Kota Jogja," katanya.

Selain itu, Pemkot Jogja nantinya juga bakal menerapkan kebijakan satu pintu masuk (one gate system) bagi bus pariwisata luar daerah yang akan bervakansi ke wilayah setempat. Semua bus pariwisata yang masuk harus melalui terminal Giwangan dengan harapan pemeriksaan dapat dilakukan terpusat.

"Semua bis yang datang ke Jogja harus masuk melalui terminal Giwangan, sebelum masuk ke destinasi wisata. Di terminal itu semua akan diperiksa lalu kemudian diarahkan tempat parkirnya serta rute masuknya. Jadi selain menekankan protokol perjalanan antar kota, melindungi warga kota dan pelaku wisata, juga penataan arus lalu lintas tujuannya," ujar Heroe.

Petugas Dinas Perhubungan nantinya juga bakal memberi tanda bagi bus pariwisata yang telah memenuhi kelengkapan persyaratan pemeriksaan. Sedangkan bagi yang belum, tidak bakal diberikan akses untuk masuk dan parkir ke dalam kawasan Kota Jogja.

Heroe menekankan, dengan kebijakan one gate system ini diharapkan pengendalian wisatawan terutama di kawasan Malioboro dapat berjalan dengan optimal. Parkir kendaraan nantinya hanya berdurasi tiga jam saja dan pengunjung selama dua jam. Upaya ini demi menekan jumlah kerumunan dan mengurangi dampak penyebaran Covid-19.

Baca juga: Presiden Jokowi Minta Harga Tes Swab PCR Diturunkan Jadi Rp450.000

"Sebagaimana yang telah dideklarasikan, bahwa pengunjung yang masuk ke kawasan Tugu, Malioboro, dan Kraton wajib masker dan vaksin," katanya.

Dalam penerapan aturan itu, pihaknya juga telah menggandeng beberapa instansi terkait semisal Kodim dan Polresta, maupun pelaku pariwisata. "Secara informal ide itu sudah dilakukan diskusi dengan semua pihak. Dan juga sudah disepakati tentang bagaimana tata cara untuk menjaga agar kondisi pariwisata segera pulih, ekonomi bangkit, tetapi protokol kesehatan dipatuhi semua pihak," imbuhnya.

Kebijakan ini dilakukan juga sebagai antisipasi terhadap melonjaknya sebaran Covid-19. Sebab, beberapa waktu lalu momentum liburan kerap kali dimanfaatkan warga untuk berbondong-bondong mengunjungi kawasan wisata, sehingga sebaran Covid-19 jadi kian sulit dikendalikan.

"Kita harus belajar dari kasus yang selama ini dialami. Bahwa setiap aktivitas besar atau liburan sering diikuti dengan naiknya kasus. Pengalaman peningkatan kasus Covid-19 di akhir tahun dan Juli yang lalu harus bisa diantisipasi dan diadaptasi lewat pola penangan dengan protokol yang baru," jelas dia.