Sultan Ungkap Penyebab PPKM di DIY Tak Kunjung Turun Level

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X,s aat ditemui wartawan di Kantor Gubernur DIY, Kamis (21/1/2021). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
31 Agustus 2021 18:17 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Gubernur DIY Sri Sultan HB X menilai masih fluktuasinya angka Covid-19 DIY menyebabkan aturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di DIY belum belum turun level atau masih pada level 4.

Menurut Sultan, selama kasus Covid-19 masih fluktuatif dan angka suspeknya masih turun naik maka level PPKM masih belum bisa turun. Sultan mengatakan mobilitas di perkotaan sudah turun namun masyarakat di perkampungan masih terjadi kerumunan atau nonggo, sehingga penularan Covid-19 dari klaster keluarga masih terjadi.

Pihkanya terus berupaya menurunkan kasus Covid-19, meningkatkan angka kesembuhan, menurunkan angka kasus meninggal dunia. Penurunan tersebut diharapkan ajeg atau tidak naik turun, “Ya kita harus tidak fluktuatif [kasus Covid-19] selama fluktuatif, naik turun suspek dan sebagainya ya tetep levelnya enggak turun,” kata Sultan di Kompleks Kepatihan, Selasa (31/8/2021).

Selain itu positivity rate diakui Sultan juga masih tinggi atau masih di atas 10%. “Karena [untuk menurunkan level PPKM] harus memenuhi ketentuan WHO, 5 persen untuk positivity rate harus 5 persen. Kan kita masih 16 persen, ya harus diturunkan lagi,” ujar Sultan.

BACA JUGA: Fusion Toilet Bantu Kurangi Cedera Punggung saat Buang Air

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji menambahkan sebetulnya penilaian terhadap level PPKM itu dilakukan oleh Kementerian Kesehatan sehingga pihaknya tidak terlalu memikirkan. “Pemda DIY pada prinsipnya bersama pemerintah kabupaten/ kota fokus menurunkan angka kematian serendah rendahnya, kesembuhan setinggi tingginya dan kasus positivity rate serendah rendahnya. Itu saja yang kita lakukan, soal penilaian kita serahkan saja kepada pusat,” kata Baskara Aji.

Demikian angka kematian di DIY diakuinya juga masih cukup tinggi meski sudah ada penurunan dibanding sebelum-sebelumnya. Pihaknya terus berupaya menurunkan angka kematian dan meningkatkan angka kesembuhan setinggi-tingginya tanpa harus memikirkan level PPKM.

Menurut dia, angka kematian lebih didominasi lansia dan pasien yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan. Pasien yang meninggal juga lebih banyak di rumah sakit. Dia berharap pasien yang bergejala berat dan sedang segera mengakses rumah sakit karena Bed Occupancy Rate (BOR) saat ini sudah turun sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak ke rumah sakit.

“Ya penanganan di rumah sakit dan jangan sampai terlambat masuk rumah sakit, jangan sampai sudah parah baru pergi ke rumah sakit, BOR kita sudah rendah, tidak ada alasan ditolak rumah sakit sehingga kalau ada gejala yang mengharuskan ke rumah sakit ya ke rumah sakit, jangan kemudia diobati di rumah,” ujar Baskara Aji.