Fusion Toilet Bantu Kurangi Cedera Punggung saat Buang Air

Hasil Akhir Prototipe Fusion Toilet - Ist
31 Agustus 2021 17:27 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sekelompok mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) melakukan penelitian Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan judul “Fusion Toilet “Pengalaman Buang Air dengan Kloset Two in One (Duduk dan Jongkok) dengan Menggunakan Fitur Sistem Hidrolik””.

Mereka adalah Farid Agung Waskita (Teknik Industri/ Fakultas Tekonologi Industri), Raihan (Teknik Industri/ Fakultas Tekonologi Industri), Rahmad Rizky Ananda (Teknik Industri/ Fakultas Tekonologi Industri), Muhammad Fahrur Rozy (Teknik Elektro/ Fakultas Tekonologi Industri), dan Muhammad Adzka Alfarab (Teknik Industri/ Fakultas Tekonologi Industri).

Farid Agung menjelaskan latar belakang kelompok mengangkat penelitian itu. Selama ini, masyarakat Indonesia lebih familiar dengan toilet jongkok. Dari sudut pandang kesehatan, posisi jongkok dengan paha tertekuk di perut merupakan posisi yang ideal untuk buang air besar karena dengan cara ini kapasitas rongga perut sangat berkurang dan tekanan intra abdomen meningkat, sehingga akan lebih mendorong feses. Berdasarkan literatur yang kelompok baca, posisi jongkok saat buang air besar mengurangi proses mengejan yang lama, karena mengejan lama dapat mengakibatkan penyakit seperti ambeien.

Hal tersebut yang mendasari tim dalam merancang Fusion Toilet sebagai alat bantu jongkok pada toilet duduk dengan sistem hidrolik yang kuat menampung beban penggunanya sehingga dapat meminimalisir cedera pada penggunanya. “Pembuatan Fusion Toilet ini sejalan dengan misi Sustainable Development Goals pada tahun 2030, yaitu pada poin ke 3 yaitu kesehatan yang baik dan kesejahteraan yang memiliki tujuan untuk memastikan kehidupan sehat dan mendukung bagi semua untuk semua usia dimana akan dirancang toilet yang ergonomis untuk anak-anak dan lansia,” jelas Farid.

Pemakaian energi listrik yang bersih dan terjangkau dimana sejalan dengan poin 7 yaitu energi bersih dan terjangkau yang memiliki tujuan memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua.

Lebih lanjut Raihan menyampaikan penggunaan toilet duduk dan jongkok yang tidak dapat menyesuaikan dengan pengguna toilet sangat berisiko menyebabkan cedera. Hal ini merupakan sebuah masalah tersendiri bagi orang lanjut usia dan anak-anak serta pengguna lainnya karena dapat menimbulkan risiko cedera pinggang, kelainan tulang belakang dan paha. “Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan toilet yang dapat mengurangi cedera bagi orang lanjut usia maupun anak-anak.,” kata dia.

Sementara itu Rahmad Rizky Ananda menjelaskan proses yang dijalani tim. Kegiatan pertama adalah membagi tim menjadi tiga bagian yaitu tim pembuatan prototipe, tim keuangan, dan tim administrasi. Pembuatan prototipe dilakukan selama dua bulan dengan bimbingan ahli di bidang pneumatik. Setelah prototipe selesai dikerjakan, tim masuk ke dalam trial and error. “Percobaan yang ada kami evaluasi kekurangan yang ada pada prototipe dan kami melakukan perbaikan. Pada tim administrasi melakukan penyusunan laporan selama pengerjaan prototipe. Pengelolaan keuangan dilakukan oleh tim keungan untuk mengatur pengeluaran selama PKM,” jelas Rahmad.

Dari kuisioner yang disebar ke masyarakat, dihasilkan bahwa Fusion Toilet dapat membantu masyarakat dalam mengurangi cedera punggung, paha, dan betis. Dari segi usabilitas, Fusion Toilet yang telah dirancang untuk memiliki kemudahan dalam pengoperasian yang dinilai dari tiga atribut yang ada menurut International Standard Organization(ISO), yaitu effectiveness, efficiency, dan satisfaction. Di samping itu, Fusion Toilet tergolong mudah digunakan untuk masyarakat yang ingin menggunakan toilet sesuai dengan keinginan sendiri, bisa duduk maupun jongkok.

Pelaksana telah menyelesaikan kegiatan ini dengan persentase capaian sebesar 90%. Adapun untuk menyelesaikan sisa persentase capaian 10%, pelaksana akan melakukan beberapa rencana tahapan. “Pertama, evaluasi serta perbaikan berkelanjutan terhadap produk Fusion Toilet. Dua, pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Tiga, pembuatan artikel ilmiah untuk diikutsertakan pada konferensi nasional maupun internasional mengenai kegiatan yang telah dilakukan, dan keempat produksi massal Fusion Toilet agar dapat memudahkan penggunanya dalam melakukan buang air,” tutup Muhammad Adzka. (ADV)