Mahasiswa UGM Kaji Penanganan Pageblug Berbasis Budaya dalam Sastra Jawa

Tiga mahasiswa Univeristas Gadjah Mada (UGM) melakukan kajian mengenai penaganan pageblug atau bencana berupa wabah berbasis budaya dalam kesusastraan Jawa. - Istimewa
02 September 2021 16:37 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tiga mahasiswa Univeristas Gadjah Mada (UGM) melakukan kajian mengenai penaganan pageblug atau bencana berupa wabah berbasis budaya dalam kesusastraan Jawa. Mereka adalah Taruna Dharma Jati, Muhammad Ibnu Prarista, dan Zalsabila Purnama. Kajian berjudul 'Lawe Wênang Singid: Benang Merah Kontinuitas Penanganan Pageblug berbasis Budaya dalam Perspektif Kesusastraan Jawa Sebagai Strategi Menghadapi Wabah'. Lawe Wenang Singid dapat diartikan sebagai suatu simbol dari gelang yang menggambarkan kontinuitas penanganan pageblug.

Ibnu mengatakan, memori kolektif yang tersimpan dalam kesusastraan Jawa menyebutkan bahwa pageblug sesungguhnya sudah pernah terjadi pada masa lalu, namun mulai ditinggalkan masyarakat sebagai akibat dari pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Sehingga dapat diketahui bahwa hal yang terabaikan dalam kajian tanggap darurat Pandemi Covid-19 adalah pengetahuan budaya tentang pageblug dan upaya penanganannya pada masa lalu yang termuat di kesusastraan Jawa.

Dalam hasil penelitian kami, penanganan pageblug berbasis budaya dalam kesusastraan tulis dan lisan Jawa dalam kajian ini dibedakan dibagi dalam dua hal yaitu Tataran Konseptual dan Historis. Dalam tataran konseptual, disampaikan bahwa terjadinya pageblug dipahami sebagai sebuah fenomena kosmologi yang mendorong manusia untuk mengembalikan keselarasan antara manusia dengan sesama, manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan. Konsep tersebut dijelaskan melalui sastra tulis berupa naskah Jawa yakni Calon Arang, Kidung Sudamala, dan Kakawin Negarakretagama. –Ujar Taruna kepada Harian Jogja

Selanjutnya, konsep tersebut dijelaskan melalui sastra lisan dalam beberapa ajaran yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat Jawa yakni Mangasah mingsing budi, memasuh malaning bumi, memayu hayuning bawana, Pageblug terjadi karena hukuman dari Bathara Kala kepada orang yang tidak pernah menghargai dan peduli kepada sesama dan lingkungan, Tri Hita Karana, dan Konsep 10 unsur alam (eka bumi, dwi sawah, tri gunung, catur sagara, panca taru, sad panggonan, sapta pandhita, hasta tawang, nawa dewa, dasa ratu).

Penanganan pageblug secara histroris disampaikan melalui sastra tulis berupa naskah Jawa yakni Ngelmu Kawarasan, Lalara Gudhig, Lelara Kolerah, Bab Lelara: Pes lan pratikel minangka panyegahe, dan Lelara Tuberkolose, dan Lelara Influenza yang memuat jejak dan upaya penanganan pageblug secara fisik. Pada intinya, seluruh naskah diatas menjelaskan pentingnya menerapkan pola hidup bersih dan isolasi mandiri bagi orang sakit. Sementara karya sastra lisan historis yang memuat jejak dan upaya penanganan pageblug terbagi menjadi upaya fisik seperti dengan yang termuat dalam naskah maupun upaya kosmologi yang diwujudkan dalam bentuk tradisi budaya yakni Kirab Kanjeng Kyai Tunggul Wulung, Mahesa Lawung, dan Barikan. 

“Oleh karena itu, berangkat dari beberapa data dan literatur mengenai wabah yang melanda Indonesia sejak masa lampau, dapat disimpulkan bahwa pageblug merupakan suatu siklus yang harus diwaspadai kemungkinan muncul kembali pada periode waktu tertentu. Sehingga, dapat diasumsikan bahwa pola kemunculan pageblug pasti disertai pula dengan pola kebijakan dalam penanganannya di masing-masing zaman,” ujar Ibnu.

Zalsabila menambahkan, benang merah penanganan pageblug secara kosmologi menekankan pentingnya menjaga hubungan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan. Sementara penanganan pageblug secara fisik adalah tentang pentingnya menjaga pola hidup bersih diri sendiri dan lingkungan serta isolasi mandiri untuk orang yang sakit.

"Dengan adanya pengetahuan tentang jejak terjadinya pageblug dan upaya penangannya di masa lampau, diharapkan dapat menjadi salah satu strategi menghadapi wabah di masa kini maupun upaya preventif masa depan melalui dua pendekatan yakni pendekatan kebudayaan dan politik kebijakan," ujarnya. (ADV)