Katgama Gelar Vaksinasi dan Serahkan 20 Ton Oksigen untuk UGM

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, saat memberi paparan pada Katgama Peduli Berbagi untuk Negeri, di Grha Sabha Pramana, Sabtu (11/9 - 2021).Istimewa
11 September 2021 19:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Keluarga Alumni Fakultas Teknik UGM (Katgama) menggelar Katgama Peduli Berbagi untuk Negeri, di Grha Sabha Pramana, Sabtu (11/9/2021). Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi hadir dalam kegiatan untuk mendukung percepatan penanganan Covid-19 ini.

Ketua Katgama, Agus Priyatno, menjelaskan dalam kegiatan ini Katgama menyerahkan satu truk oksigen likuid seberat 20 ton tahapan kedua untuk UGM. “Akan berlanjut pengiriman 20 ton berikutnya setiap pekan,” ujarnya.

Rektor UGM, Panut Mulyono, mengapresiasi dukungan Katgama dalam percepatan penanganan Covid-19. “Alumni UGM secara keseluruhan guyub-rukun dan menunjukkan kepeduliannya saat bangsa ini membutuhkan. Ini kesekian kalinya Katagama peduli berbagi untuk negeri,” katanya.

Oksigen ini akan digunakan untuk penanganan pasien Covid-19 di RSUP Dr. Sardjito dan RSA UGM. UGM berkepentingan dalam vaksinasi bagi dosen dan tenaga kependidikan, dan masyarakat di sekitar kampus.

“Karena dalam waktu tidak lama lagi kami segera melakukan pembelajaran campuran antara luring dan pembelajaran daring. Untuk kepentingan ini masyarakat di sekitar UGM, tempay mahasiswa tinggal sudah harus memperoleh herd immunity,” ungkapnya.

Retno Marsudi dalam kesempatan ini menyampaikan Indonesia baru saja menerima 358.700 dosis vaksin Astrazeneca ini merupakan batch pertama dari komitmen bantuan Prancis sebesar 3 juta dosis vaksin. “Hari ini dukungan vaksin dari Belanda juga tiba yaitu 500 ribu dosis vaksin Johnson. Sebelumnya Belanda sudah memberikan 657 ribu disus AZ ke Indonesia,” katanya.

Selain dukungan dari negara sahabat, Pemerintah Indonesia juga terus membeli vaksin untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia. “Kemarin misalnya telah tiba 615 ribu dosis vaksin AZ dan 639.990 Pfizer. Siang-malam pemerintah berupaya mendapatkan akses terhadap vaksin untuk memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya bukan hal yang mudah mendapatkan vaksin saat ini. Pertama karena ketersediaan vaksin dunia tidak sebanding dengan permintaan. Permintaan jauh lebih banyak. Kedua, masih terdapat kebijakan sejumlah negara yang menghambat pengiriman vaksin.