40 Ribu Lebih Kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul Aktif Lagi
Lebih dari 40.000 kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul kembali aktif setelah penonaktifan PBI akibat penerapan DTSEN.
Ilustrasi. /JIBI-Sunaryo Haryo Bayu
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Anggaran distribusi (droping) air milik BPBD Gunungkidul makin menipis. Diperkirakan dana yang dimiliki habis untuk penyaluran di pertengahan Oktober mendatang.
Total dari target 2.200 tangki, BPBD telah menyalurkan bantuan lebih dari 1.680 tangki air bersih yang disalurkan ke masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, tahun ini mendapatkan anggaran droping sekitar Rp700 juta. Adapun penyaluran sudah mulai dilaksanakan sejak pertengahan Juni hingga sekarang.
Ia tidak menampik, anggaran yang dimiliki semakin hari makin menipis. Terlebih lagi, jangkauan droping juga semakin meluas seiring memasukinya puncak musim kemarau.
Hasil pemetaan BPBD, dari 18 kapanewon hanya Playen dan Karangmojo yang terbebas dari krisis air bersih. Adapun 16 kapanewon lain masuk kategori terdampak, namun hingga sekarang baru sepuluh kapanewon yang meminta bantuan.
Kesepuluh kapanewon ini meliputi Wonosari, Patuk, Semanu, Tepus, Girisubo, Rongkop, Panggang, Paliyan, Ngawen, Semin, Saptosari dan Tanjungsari. “Untuk Kapanewon Nglipar, Gedangsari, Ponjong dan Purwosari belum mengajukan ke BPBD,” katanya, Kamis (16/9/2021).
Baca juga: Warga Terdampak Tol Jogja-Solo Bingung karena Punya Sisa Lahan Segitiga yang Tak Diganti Rugi
Edy memperkirakan, anggaran droping yang dimiliki hanya mencukupi untuk penyaluran sampai minggu kedua Oktober. Meski semakin menipis, didalam pembahasan APBD Perubahan 2021 juga tidak mengajukan tambahan anggaran. “Mudah-mudahan cukup dan akhir Oktober sudah turun hujan,” katanya.
Disinggung mengenai potensi kehabisan anggaran droping, Edy juga mengaku tidak khawatir. Hal ini dikarenakan, BPBD sudah menyiapkan skenario cadangan apabila anggaran yang dimiliki habis.
Salah satunya, dengan mengakses dana Belanja Tak Terduga yang dimiliki pemkab. Namun, lajut dia, untuk bisa memanfaatkan anggaran ini, maka akan ada peningkatan status kekeringan di Gunungkidul.
“Sekarang masih siaga darurat kekeringan. Jika, sampai minggu ketiga Oktober belum turun hujan, maka statusnya akan kami tingkatkan agar bisa mengakses BTT,” katanya.
Panewu Anom Girisubo, Arif Yahya mengatakan, untuk droping air tidak hanya mengandalkan bantuan dari BPBD karena kapanewon juga memiliki anggaran tersendiri. “Sudah berjalan droping terus dilakukan ke masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Arif menjelaskan, sejak tahun lalu terjadi perubahan dalam mekanisme penyaluran yang dibiayai oleh kapanewon. Pasalnya, meski memiliki anggaran tersendiri di dalam penyaluran harus melibatkan pihak ketiga. “Kami tidak bisa menyalurkan sendiri karena harus lewat kerja sama dengan pihak ketiga,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lebih dari 40.000 kepesertaan BPJS Kesehatan di Gunungkidul kembali aktif setelah penonaktifan PBI akibat penerapan DTSEN.
Gempa M7,1 di Jepang diduga berkaitan dengan sesar yang belum retak sejak gempa besar 2016. Ahli ungkap potensi gempa susulan.
KPK menahan anggota DPRD Jatim Moch Mahrus terkait dugaan suap dana hibah pokmas kepada Anwar Sadad.
PSIM Jogja masih mengevaluasi masa depan Nermin Haljeta jelang Super League 2026/2027, sementara Franco Ramos dipastikan bertahan.
BBPOM Yogyakarta mempercepat penerbitan NIE bagi UMKM pangan olahan agar produk lokal Jogja aman, bermutu, dan mampu bersaing.
Wapres Gibran bertemu Hun Many membahas reformasi birokrasi, olahraga, serta penanganan TPPO terkait penipuan daring.