Fakta Baru Api Misterius Seyegan, Bukan Gas Alam tapi Material PVC
UGM memastikan api misterius di Seyegan bukan dari gas alam, melainkan terkait resin PVC yang mudah terbakar.
Litto/Little Tokyo-Instagram
Harianjogja.com, BANTUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul berencana meninjau lokasi tempat dibangunnya Little Tokyo (Litto) untuk mengetahui risiko bencana.
"Kalau enggak besok Selasa atau Rabu," ujar Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto, Senin (20/9/2021).
BACA JUGA: Pembelajaran Tatap Muka di Jogja Lancar, Kapasitas Kelas 50% dan Durasi Belajar Hanya 3 Jam
Dwi tengah berkoordinasi dengan tin Geologi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY). "Kami ajak ke sana, mengecek apakah kondisi alam di sekitar situ, kondisi tanahnya rawan longsor atau seperti apa. kami tidak bisa gegabah begitu saja,” ujar dia.
Dwi mengatakan bila daerah pembangunan Litto memiliki potensi bencana longsor, Pemkab bantul akan mengambil langkah. "Apa yang harus kami lakukan untuk mengurangi dampak, antisipasinya seperti apa, mitigasinya seperti apa," tuturnya.
Pemetaan risiko bencana di kawasan Muntuk pernah dilakukan. " Tapi apakah wilayah Litto itu masuk zona kami atau tidak, akan kami buat dulu dokumennya," ucap dia..
"Kami tidak membatasi investasi yang mau masuk ke Kabupaten Bantul. Tetapi kami juga harus perhatikan risiko yang ada.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UGM memastikan api misterius di Seyegan bukan dari gas alam, melainkan terkait resin PVC yang mudah terbakar.
Polres Bantul mengungkap penipuan bermodus modal usaha Rp80 juta. Korban kehilangan dua mobil dan BPKB dengan kerugian sekitar Rp100 juta.
Polisi memeriksa kontraktor dan sejumlah saksi untuk mengusut tewasnya bocah 4 tahun yang terjatuh ke lubang proyek di Tebet, Jakarta Selatan.
BMKG menyiapkan operasi modifikasi cuaca pada awal Oktober untuk menjaga pasokan air waduk dan mengantisipasi kekeringan di Pulau Jawa.
Taman Pintar Jogja memprioritaskan layanan shuttle dari kantong parkir selama libur sekolah untuk memudahkan akses pengunjung.
Bantuan RTLH Kulonprogo senilai Rp20 juta ditolak sejumlah warga karena tidak mampu menambah biaya renovasi rumah.