Enam Regu Tim Gabungan Diterjunkan Mencari Selamiyo di Gunung Merapi

Tim gabungan berkoordinasi dalam pencarian Selamiyo, di Posko Bukit Klangon, Kamis (23/9/2021). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
23 September 2021 15:37 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pencarian Selamiyo, laki-laki 35 tahun, warga padukuhan Padukuhan Kalitengah Lor, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan yang dilaporkan menghilang di kawasan bukit Kendil, Gunung Merapi, sejak Selasa (21/9/2021) lalu masih terus berlanjut. Sejumlah regu dari tim gabungan dari SAR DIY dan Basarnas diterjunkan pada Kamis (23/9/2021).

Komandan SAR DIY, Broto Seno, menjelaskan tim gabungan yang terdiri dari SAR DIY, Basarnas, pecinta alam dan sukarelawan baru beroperasi mulai Kamis (23/9/2021) pagi, dengan menerjunkan enam regu. “Kami berangkatkan enam regu, satu regu 10 orang. Sudah naik di atas Kendit,” ujarnya saat ditemui wartawan di Posko Bukit Klangon.

Karena merupakan warga setempat, diprediksi Selamiyo tidak tersesat. Meski demikian karena kondisi kejiwaannya yang labil, ada kemungkinan Selamiyo justru sengaja bersembunyi dari tim pencari. Jika masih dalam kondisi sadar, kemungkinan rute Selamiyo tidak ke arah barat karena jurang, namun bisa jadi ke arah timur, turun ke Kali Woro atau Kali Gendol.

Baca juga: Kabut Tebal Warnai Pencarian Selamiyo di Lereng Merapi

Sebanyak tiga regu juga telah diterjunkan ke kedua kali tersebut. Pencarian direncanakan akan berlangsung sampai pukul 16.00 WIB, mengingat kondisi Gunung Merapi yang masih berstatus Siaga. “Setiap hari sampai ketemu. Tidak akan berhenti kalau nggak ketemu,” katanya.

Lokasi pencarian berada di dalam radius 1 km dari puncak Gunung Merapi. Jarak ini termasuk dalam rekomendasi bahaya karena kurang dari 3 km dari puncak. Sementara kondisi medan yang terjal dan cuaca yang saat ini mulai sering hujan juga menjadi pertimbangan pembatasan jam pencarian.

“Kendit merupakan perbatasan hutan pohonan dengan hutan batuan. Kalau kondisi medan sangat terjal. Apalagi setelah 2010 [erupsi]. Sudah kami siapkan di sini alat untuk medan sulit. Ketika survivor ditemukan, nanti baru apakah memerlukan apa tidak peralatan itu,” katanya.

Lurah Glagaharjo, Suroto, menuturkan Selamiyo merupakan laki-laki 35 tahun warga kalitengah Lor, Kalurahan Glagaharjo. Selamiyo telah izin kepada keluarganya ingin pergi ke Gunung Merapi pada Selasa (21/9/2021) awalnya pukul 03.00 WIB namun tidak diizinkan.

Baca juga: Dendam Pribadi, Pegawai Angkringan Pendopo Lawas Ditusuk

Sejak izin pertama tersebut, keluarga sudah menjaga agar Selamiyo tidak pergi. Namun sekira pukul 09.00 WIB, kemungkinan saat itu penjagaan berkurang, maka pergilah Selamiyo. Saat naik dari bukit Klangon ke arah utara, sebenarnya ada keluarga yang mengikuti.

Namun keluarga kehilangan jejak dan pada sore harinya terjadi hujan sehingga keluarga pun turun. “Kalau saya mendapat laporan dari pihak keluarga memang kondisi Selamiyo normal. Jadi tidak ada kelainan jiwa juga tidak ada, cuma warga ini sering gampang sekali mungkin ada gangguan roh halus atau apa, itu sering sekali,” katanya.

Selamiyo diketahui naik hanya menggunakan kaos yang dirangkapi dan celana hitam. Ia tidak membawa perbekalan apapun. Meski demikian, dengan kondisi fisik yang sehat, kemungkinan bertahan hidup masih cukup tinggi.

Namun karena kondisi medan yang berbahaya, banyak tebing dan air terjun, tidak menutup kemungkinan terjadinya kecelakaan. Di samping itu kondisi cuaca di Gunung Merapi yang sering hujan dan berkabut juga kian membahayakan.