Advertisement

Bantul Antisipasi Lonjakan Demam Berdarah

Jumali
Kamis, 30 September 2021 - 13:37 WIB
Budi Cahyana
Bantul Antisipasi Lonjakan Demam Berdarah Ilustrasi - Pixabay

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mengantisipasi kemungkinan melonjaknya kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayahnya.

Meski ada tren penurunan angka kasus DBD di 2021, kewaspadaan dan pemaksimakan pemberatasan sarang nyamuk serta berbagai upaya mencegah terjadinya DBD harus terus ditingkatkan.

Kasi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Bantul Budi Nur Rochmah mengatakan sampai  akhir September 2021, ada 156 kasus DBD di Bantul. Jumlah ini menurun cukup jauh dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1.222 kasus.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Pada 2020, Dinkes Bantul mencatat 1.222 kasus DBD. Dari jumlah tersebut, empat orang meninggal, dari Kecamatan Sewon dengan 2 orang, 1 orang dari Banguntapan dan 1 dari Kasihan.  

Sementara pada 2019, ada 1.323 kasus DBD di Bantul, dengan 4 orang dinyatakan meninggal dunia. Sementara tahun 2018 ada 182 kasus tanpa kematian. Sedangkan 2017, ada 538 kasus dengan 2 kematian. Pada 2016 ada jumlah kasus DBD sebanyak 2.442 dengan angka kematian 4 orang.

"Memang tren ada penurunan, karena musim penghujan yang tidak tentu. Tapi, bisa juga underreporting ketutup tingginya kasus Covid-19. Untuk itu kami tetap meminta warga untuk terus waspada," katanya, Kamis (30/9/2021).

Budi berharap warga untuk memasifkan pemberantasan sarang nyamuk yakni melalui 3 M, menguras tempat-tempat yang menjadi perindukan nyamuk. Menutup rapat-rapat tempat  penampungan air. Dan, memanfaatkan kembali limbah barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

“Untuk fogging harap dilakukan sesuai dengan kebutuhan,” katanya.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul Sri Wahyu Joko Santoso mengungkapkan masih terus mengantisipasi perkembangan leptospirosis di wilayahnya. Sebab, meski angkanya cukup rendah, yakni 80 kasus dengan satu kematian, persoalan leptospirosis tidak boleh dianggap remeh.

Advertisement

“Sama seperti DBD, leptospirosis juga harus terus kami waspadai. Jangan sampai mengalami peningkatan. Untuk itu kami kampanyekan terus upaya pencegahannya," paparnya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

PBB Tak Akui Klaim Kemenangan Rusia Atas Referendum di 4 Wilayah Ukraina

News
| Rabu, 28 September 2022, 23:47 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement