Waduh! Satu Siswa Positif Covid-19, PTM di SD Bantul Timur Ditutup

Suasana PTM di SDN Serayu, Jogja, Rabu (28/4/2021). - Harian Jogja/Sirojul Khafid
05 Oktober 2021 12:07 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul menutup kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) di SD Bantul Timur, setelah salah satu siswanya positif Covid-19.

Untuk mencegah terjadinya kejadian berulang, Disdikpora akan mengeluarkan surat edaran untuk tidak memberikan izin mengikuti PTM bagi siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Kepala Bidang SD Disdikpora Bantul, Edy Sutrisno membenarkan terkait penutupan PTM di SD Bantul Timur tersebut. Ia mengungkapkan penutupan kegiatan PTM di Bantul Timur dilakukan setelah ada satu siswa terkonfirmasi positif Covid-19. Siswa tersebut tertular dari orang tuanya.

"Jadi ini karena ketidakjujuran orang tua. Di mana, orang tua tersebut positif tapi nekat mengantar anaknya ke sekolah," kata Edy, Selasa (5/10/2021).

Alhasil, kata Edy, untuk mencegah penularan, dilakukan tracing oleh Dinas Kesehatan Bantul terhadap 15 orang yang melakukan kontak erat dengan siswa tersebut. Sementara siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19 belum diizinkan mengikuti PTM dan harus menjalani isolasi. Sedangkan untuk pelaksanaan PTM di SD Bantul Timur masih menunggu hasil tes PCR.

Baca juga: Menkes Pamer Capaian Vaksinasi Covid-19 RI Nomor 5 di Dunia, Ini Datanya

Menurut Edy, sejauh ini PTM SD khususnya untuk kelas 6 diperbolehkan digelar, sepanjang memenuhi ketentuan. Agar peristiwa serupa tidak terjadi di SD lain, Disdikpora Pemkab Bantul akan mengeluarkan surat edaran untuk tidak memberikan ijin mengikuti PTM bagi siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19.

"Selain itu, kata dia, akan dilakukan tes secara berkala kepada siswa untuk memastikan tidak terdapat siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19," katanya.

Sementara Kepala Disdikpora Bantul Isdarmoko berharap peristiwa ini tidak menimbulkan ketakutan bagi guru dan siswa untuk menggelar PTM. "Selama protokol kesehatan dilakukan dengan ketat, kemungkinan adanya klaster sekolah dapat dicegah," imbuh Isdarmoko.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Raharjo memastikan, tracing akan tetap dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal dilakukan kepada guru dan teman satu kelas. Tes dilakukan dua kali untuk setiap sasaran agar mendapatkan penegakan diagnosa.

"Bila menemukan hasil positif maka tracing akan diperluas," katanya.