Abrasi, Begini Potret Mengerikan Bangunan TPI di Pantai Trisik yang Menggantung

Bangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di kawasan Pantai Trisik, kapanewon Galur, Kulonprogo, terancam ambrol karena terkena abrasi parah imbas gelombang tinggi yang terjadi beberapa hari terakhir di wilayah pantai selatan Kulonprogo. - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
22 Oktober 2021 15:57 WIB Hafiyyan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Sebuah bangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di kawasan Pantai Trisik, kapanewon Galur, Kulonprogo, menggantung dan terancam ambrol karena terkena abrasi parah imbas gelombang tinggi yang terjadi beberapa hari terakhir.

Ketua TPI Bina Bahtera Pantai Trisik, Suratiman, mengatakan bangunan TPI yang terancam hancur tersebut dikelola oleh Kelompok Mina Bahtera Pantai Trisik. Hampir separuh bagian bawah bangunan sudah tidak tertopang karena terkena abrasi.

"Ombak pasang menggerus pasir yang ada di bawah bangunan. Apabila kondisi ini dibiarkan, bangunan yang difungsikan sebagai gudang itu bakal roboh dalam waktu dekat. Bangunan gudang TPI itu sudah hampir roboh. Mungkin beberapa hari lagi kalau masih pasang bisa roboh itu. Dua hari ini gelombang pasang agak tinggi, jadi abrasinya cepat sekali," ungkap Suratiman saat dikonfirmasi pada Kamis (21/10/2021).

Abrasi yang terjadi di wilayah pantai Trisik bukan hal yang baru bagi Suratiman. Berdasarkan catatannya, abrasi sudah terjadi sekitar dua tahun lalu. Ia ingat betul jika jarak tertinggi air pasang sampai dengan 100 meter. Namun, air pasang nyatanya terus mendekat hingga ke kawasan TPI.

Baca juga: Bangunan Tak Layak, Perbaikan TPI Pantai Bugel Kian Mendesak

"Sebagian bangunan TPI yang ada di sebelah barat juga sudah roboh terkena ombak. Bangunan TPI ini masih difungsikan oleh nelayan sebenarnya. Setelah terkena air pasang, biasanya kami bersihkan dulu. Setelah bersih, baru dipakai nelayan untuk sejumlah kegiatan," kata Suratiman.

Dikatakan Suratiman, upaya relokasi ke tempat yang lebih aman dari ancaman abrasi diharapkan menjadi solusi agar TPI pantai Trisik bisa digunakan untuk kegiatan sejumlah nelayan. Pemerintah kalurahan sampai dengan kabupaten diharapkan turun tangan untuk mencari solusi yang terbaik.

"Idealnya ya direlokasi sejauh 100 meter dari titik tinggi air pasang ya. TPI pantai Trisik masih kami gunakan untuk sejumlah kegiatan. Harapannya pemerintah turun tangan untuk mencari solusi terbaik," ujar Suratiman.

Ancaman abrasi juga mengancam sebuah tempat konservasi penyu di wilayah pantai Trisik. Ketua Kelompok Konservasi Penyu Abadi Pantai Trisik Jaka Samudra, 52, warga Dusun Sidorejo, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulonprogo, mengatakan kebutuhan relokasi cukup mendesak. Dikarenakan, bangunan konservasi penyu berada di ambang abrasi.

"Tinggal lima meter itu sudah hancur. Kita dari kelompok konservasi memohon kepada pihak terkait dalam hal ini pemerintah kabupaten Kulonprogo maupun pemprov DIY untuk turut memikirkan pemindahan tempat konservasi penyu. Ini sangat mendesak," kata Jaka beberapa waktu lalu.

"Kondisi abrasi sudah parah ya. Ini gak sampai tiga bulan udah kena [tempat konservasi penyu abadi Pantai Trisik]. Relokasi diharapkan sebelum terjadi lagi abrasi ya. Dana dari kelompok sudah tidak ada. Pemkab Kulonprogo sementara ini belum memberikan solusi," sambung Jaka.

Permintaan relokasi Jaka dan jawatannya di Kelompok Konservasi Penyu Abadi Pantai Trisik sebenarnya sudah disampaikan kepada Pemkab Kulonprogo maupun Pemprov DIY dan sejumlah instansi terkait sejak tahun lalu. Namun, hingga saat ini belum ada realisasi yang dilakukan.

"Kalau permintaan sih sudah beberapa waktu lalu ya. Kami hanya menerima informasi bahwa akan ada upaya pemindahan ya. Tapi ya sebatas informasi. Sedangkan, pelaksanaannya hingga saat ini belum ada. Belum ada realisasi," kata Jaka.

Koordinasi dengan Pemda DIY

Bupati Kulonprogo Sutedjo mengatakan jika permasalahan abrasi yang mengancam tempat konservasi penyu di Pantai Trisik sudah dikomunikasikan dengan Paniradya Keistimewaan, Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Bantuan dimungkinkan melalui pendanaan dengan Dana Keistimewaan ya. Nantinya, Pak Jaka selaku Ketua Kelompok Konservasi Penyu Abadi Pantai Trisik nantinya akan diminta untuk membuat proposal. Karena Paniradya Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta sudah memberikan lampu hijau, ya kami optimis [relokasi segera dilakukan]," kata Sutedjo.

Tempat relokasi juga menurut Sutedjo nantinya ditentukan oleh Kelompok Konservasi Penyu Abadi Pantai Trisik. "Termasuk juga permohonan izin jika relokasi konservasi penyu nantinya menggunakan Pakualaman Ground (PAG)," ungkap Sutedjo.