Soal Prediksi Gelombang Ketiga Covid-19, Begini Penjelasan Epidemiolog UGM

Ilustrasi. - Freepik
25 Oktober 2021 06:27 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Indonesia diprediksi akan mengalami gelombang ketiga Covid-19 pada Desember 2021 dan Januari 2022. Gelombang ketiga menjadi keniscayaan dan seberapa besar terjadinya sangat bergantung pada perkembangan perilaku di masyarakat.

Epidemiolog UGM, Riris Andono Ahmad, menuturkan munculnya gelombang Covid-19 ketiga atau gelombang-gelombang berikutnya sangat tergantung pada kondisi di masyarakat. Mobilitas, interaksi sosial dan kepatuhan dalam implementasi protokol kesehatan di masyarakat merupakan situasi yang bisa memicu gelombang Covid-19.

Virus Covid-19 masih terus ada dan tidak sedikit orang yang tidak memiliki kekebalan. Sementara, pada orang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19, kekebalan yang didapat pun akan menurun seiring berjalannya waktu. “Jadi, tidak hanya satu kali gelombang tiga lalu stop, tapi akan terjadi lagi selama virus masih ada dan bersirkulasi secara global,” ujarnya, Minggu (24/10/2021).

Beberapa negara dengan cakupan vaksinasi relatif tinggi seperti Israel, Inggris, Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa saat ini pun tengah berjuang kembali dengan Covid-19 akibat varian Delta. Saat ada varian Delta dengan tingkat penularan lebih tinggi, membutuhkan cakupan imunitas yang lebih tinggi dalam populasi.

BACA JUGA: Haedar Nashir Tegaskan Indonesia Milik Semua, Kritik Siapa?

Ia mencontohkan sebelum adanya varian Delta, untuk mendapatkan kekebalan kelompok diperlukan sekitar 70% populasi harus sudah divaksin. Namun, sejak adanya varian Delta, maka cakupan vaksinasi ditingkatkan menjadi 80%. Kondisi tersebut dengan anggapan bahwa vaksin yang diberikan memiliki efektvitas 100%.

Dengan kondisi itu artinya vaksinasi di Indonesia untuk bisa mencapai 80% mensyaratkan sekitar 230 juta penduduk harus divaksin. Pelaksanaan vaksinasi sebaiknya juga dilakukan dalam waktu kurang dari enam bulan agar bisa terwujud kekebalan kelompok. “Ini kan sulit, misalnya sanggup pun kekebalan kelompok hanya bertahan beberapa saat dan akan terus berkurang,” katanya.

Maka ia berharap masyarakat untuk tetap waspada dan tidak lengah. Meskipun saat ini kondisi membaik, tetapi pandemi belum usai. Risiko penularan masih ada, terlebih saat adanya pelonggaran aktivitas di masyarakat.

“Saat penularan tinggi dilakukan intervensi besar-besaran dengan PPKM [Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat]. Begitu terkendali aktivitas dilonggarakan karena tidak mungkin terus PPKM karena akan melumpuhkan perekonomian. Namun, pelonggaran ini berisiko penularan akan meningkat lagi,” ungkapnya.

Karenanya ia kembali mengimbau masyarakat untuk tetap patuh menerapkan protokol kesehatan. Di sisi lain pemerintah diminta untuk memperkuat testing, tracing, dan treatment (3T).