Berdayakan Pelaku Usaha dengan Spirit Blangkon

Suasana focus group discussion (FGD) Desa Mandiri Budaya pada Tahap Desa Preneur Embrio 8 Desa, di Kalurahan Bunder, Kapanewon Patuk, Gunungkidul, belum lama ini. - Istimewa
26 Oktober 2021 18:37 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Salah satu upaya untuk menumbuhkan desa sebagai pusat pertumbuhan adalah melalui optimalisasi semangat entrepreneur pada wilayah perdesaan.  Melalui, konsep Desa Preneur, Pemda DIY berusaha menumbuhkan perekonomian skala perdesaan melalui pengembangan potensi lokal. 

pada dasarnya, Desa Preneur merupakan desa yang memiliki kemampuan untuk menumbuhkan unit-unit usaha skala desa, yang diusahakan oleh warga desa itu sendiri melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan berwirausaha, peningkatan mutu produk/jasa, nilai tambah, dan daya saing. Tujuannya adalah untuk meningkatkan perekonomian desa dan tercapainya kesejahteraan hidup warga.

Melalui Dinas Koperasi dan UKM, Desa Preneur sudah dijalankan sejak 2016 dengan berbagai model pendekatan pada berbagai desa/kalurahan. Mulai tahun ini, ada penambahan model pendekatan tambahan, yaitu Blangkon yang dijalankan oleh Satoeasa untuk Indonesia, melalui konseptornya yang bernama Imam Syafii. 

Imam Syafii merupakan salah satu tokoh muda yang intens dalam pendampingan UMKM dan pernah berkiprah sebagai pendamping UMKM di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Dinas Koperasi UKM DIY.

Filosofi Blangkon

Diketahui, blangkon merupakan tutup kepala yang dibuat dari kain batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Secara makna blangkon merupakan simbol pertemuan antara jagad alit (mikrokosmos) dengan jagad gedhe (makrokosmos). Blangkon mengisyaratkan jagad gedhe, sedangkan kepala yang ditumpanginya mengisyaratkan jagad alit.

Dalam konteks pengembangan Desa Preneur bermodel konsep Blangkon, entitas usaha di desa dalam hal ini pelaku UMKM merupakan jagad alit yang harus mampu menunjukan eksistensinya dan mampu bersaing ke jagad besar (pasar global).

Imam Syafii yang selalu tampil eksentrik dengan memakai blangkon dan memakai kain jarik mengatakan bahwa untuk mewujudkan produk lokal desa agar mampu bersaing di tataran global tentu dibutuhkan upaya besama secara komunal. “Baik itu para pelaku usaha langsung yang ada di desa, pemerintah desa, BUMDes, Koperasi, komunitas lokal desa, maupun stakeholder berkepentingan yang ada,” kata dia, Senin (26/10/2021). 

Secara harfiah, konsep Blangkon yang diterapkan dalam Desa Preneur merupakan akronim dari prinsip Bermuatan Lokal, Bersaing Global, dan Berbasis Komunal. Prinsip ini menjadi konsep pengembangan ekonomi desa berbasis penguatan kapasitas secara komunal masyarakat desa (community development) dengan fokus mengangkat produk lokal unggulan desa sehingga mampu bersaing dalam kancah pasar global.

Dengan mampu bersaing di kancah pasar global maka diharapkan produk lokal desa bisa memicu perputaran ekonomi di tataran desa serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. 

Dalam Desa Preneur model Blangkon ini, peserta yang disasar adalah para pelaku usaha yang mempunyai produk bermuatan lokal seperti penggunaan bahan baku dari desa, ataupun produk yang bahan bakunya berasal dari luar desa tetapi proses produksinya dijalankan di desa. Dengan begitu diharapka ada nilai tambah yang berputar di desa. Selain itu, bisa juga produk yang dihasilkan merupakan produk khas warisan dari nenek moyang atau produk-produk kultur dari desa tersebut.

“Produk unggulan lokal desa ini didorong mempunya daya saing agar mampu bersaing di pasar global,” kata Imam.

Setidaknya ada enam aspek penguatan daya saing pelaku usaha yang ditekankan, yakni aspek produk/produksi; SDM/kewirausahaan; penguasaan pasar; penguasaan digital; keuangan; dan kelembagaan.

Fokus dan Lokus

Dalam pelaksanaannya, Desa Preneur tidak bisa terlaksana tanpa dukungan stakeholder yang ada di desa/kalurahan. Untuk itu diharapkan Desa Preneur menjadi gerakan bersama semua unsur yang ada di desa baik pemerintah desa, pelaku UMKM, kelompok usaha, serta BUMDes. 

Dalam desain program Desa Preneur di tahun ke tiga dengan model Blangkon, perlu diinisiasi marketing hub yang bisa membantu pasar produk-produk unggulan lokal desa. Fungsi ini bisa dijalankan oleh kelompok usaha yang ada di desa namun akan lebih optimal jika bisa berada di bawahnya BUMDes sebagai salah satu unit usahanya.

Kabid Layanan Kewirausahaan KUKM Dinas Koperasi UKM DIY, Wisnu Hermawan mengatakan pendampingan Desa Preneur melalui pendekatan model Blangkon menyasar delapan kalurahan, dengan menggunakan skema Dana Keistimewaan 2021. 

“Kedelapan kalurahan itu, satu lokasi ada di Bantul, yakni Sriharjo, Kapanewon Imogiri; tiga kalurahan di Sleman, yakni Sumberharjo, Kapanewon Prambanan; Tamanmartani, Kapanewon Kalasan; dan Sidoarum, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman; satu kalurahan di Kulonprogo, yakni Giripeni, Kapanewon Wates; serta tiga kalurahan di Gunungkidul, yakni Bunder, Kapanewon Patuk; Kepek, Kapanewon Wonosari; serta Kemiri, Kapanewon Tanjungsari,” terang Wisnu.