Waduh! Klaster Takziah Sedayu Merembet ke Sleman, Gunungkidul dan Kulonprogo

Ilustrasi. - Freepik
02 November 2021 11:17 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Jumlah warga terpapar Covid-19 dari klaster takziah Sedayu Bantul terus bertambah. Tidak hanya menyebabkan enam warga SMKN1 Sedayu dan delapan warga SD Sukoharjo terpapar, namun juga menyebar ke tiga kabupaten di DIY, yakni Gunungkidul, Kulonprogo dan Sleman.

Ketua Harian Satgas Covid-19 Kabupaten Bantul Joko Purnomo menyatakan hasil tracing terakhir dari penularan Covid-19 di SMKN1 Sedayu yang berasal dari klaster takziah berjumlah 25 warga Bantul. Di mana, ada 15 warga Sedayu positif Covid-19, Kasihan 4 warga, Pajangan 3 warga, Bambanglipuro 1 warga, Sewon 1 warga dan Srandakan 1 warga.

"Selain itu juga menyebar ke tiga kabupaten di DIY. Di Gunungkidul 1 kasus, Kulonprogo 3 kasus dan Sleman 12 kasus," kata Joko Purnomo, Selasa (2/10/2021).

Oleh karena itu, Satgas Covid-19 Kabupaten Bantul kemudian menggelar rapat terbatas dengan mengundang Panewu Pajangan, Panewu Sedayu, Panewu Sewon dan Panewu Kasihan. Selain itu, semua lurah di empat kapanewon tersebut juga diikutkan dalam rapat tersebut.

"Ini kami lakukan agar tidak muncul kembali klaster di wilayah Bantul bagian utara. Kami khawatir karena sekarang penerapan protokol kesehatan di masyarakat mulai kendor. Kami minta penerapan prokes ini diperketat. Termasuk mengaktifkan kembali jaga warga, tujuannya agar jangan sampai muncul klaster baru," lanjut Joko.

Baca juga: Klaster Takziah Sedayu: Jumlah Siswa Positif Bertambah 2 Orang & Menyebar ke Kasihan

Mengenai jumlah kasus aktif Covid-19 di Bantul, Joko menyebut sampai Selasa (2/11/2021), ada total 111 kasus dan saat ini mereka sedang melakukan isolasi mandiri.

"Tentu kami tidak ingin angka ini terus bertambah. Kami harus ketatkan penerapan prokes," ucap Joko.

Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Raharja mengatakan, sampai saat ini pihaknya terus melakukan tracing terhadap kontak erat dari klaster takziah di Sedayu. Untuk memastikan tidak ada penularan baru, pihaknya telah bekerja sama dengan Disdikpora Bantul dan Disdikpora DIY agar menutup aktivitas kegiatan pembelajaran tatap muka di SD Sukoharjo dan SMKN1 Sedayu. Selain itu, Dinkes juga akan memasifkan edukasi kepada masyarakat terkait dengan penerapan protokol kesehatan.

"Selain itu, kami juga akan mengadakan tes PCR acak ke 120 sekolah SD dan SMP dengan sasaran 1.700 siswa, guru dan petugas TU di bulan ini. Untuk pelaksanaannya nanti akan melibatkan puskesmas terdekat," jelas Agus.

Berawal dari Jenazah Positif Covid-19

Agus mengatakan munculnya klaster sekolah itu berawal dari klaster takziah di Argorejo, Sedayu. Di mana, saat itu ada satu warga suspek Covid-19 meninggal dunia. Oleh rumah sakit, jenazah warga itu diminta dikebumikan dengan protokol kesehatan. Namun, ditolak oleh warga. "Alhasil, dilakukan pemakaman tanpa prokes dan ada tahlilan," jelasnya.

Dalam perkembangannya, 2 Oktober 2021 muncul hasil swab bagi jenazah suspek tersebut. Hasilnya, jenazah tersebut positif Covid-19. Satgas kapanewon Sedayu pun melakukan tracing, testing dan treatmen kepada kontak erat. Dari tracing awal didapatkan dua orang anggota keluarga jenazah positif Covid-19. Di mana salah satu anggota keluarga tersebut adalah guru.

Tracing kemudian dilanjutkan. Didapatkan tiga orang positif. Ketiga orang itu adalah seorang guru, anak guru tersebut dan satu karyawan swasta. Tracing juga dilakukan kepada seorang karyawan sekolah dan guru yang juga anaknya terpapar positif Covid-19.

"Hasilnya ada delapan siswa SD positif dan terpapar dari guru yang mengajar," katanya.