Klaster Takziah di DIY Bikin Resah

Ilustrasi - Freepik
06 November 2021 09:27 WIB Tim Harian Jogja Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Warga terpapar Covid-19 dari Klaster Takziah Sedayu Bantul terus bertambah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman memberikan perhatian khusus pada kasus ini, karena per Jumat (5/11/2021) sebanyak 69 warga Sleman sudah terpapar Covid-19 dari klaster ini.

Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama, mengatakan hingga Jumat pagi data persebaran klaster ini di Sleman tercatat menjadi 69 kasus. Dari segi wilayah, persebaran klaster ini terjadi di tujuh kapanewon. Padahal sebelumnya hanya tercatat hanya di empat sampai lima kapanewon.

Saat ini, selain di Kapanewon Seyegan, Gamping, Godean, Minggir dan Moyudan klaster ini juga tersebar di Ngaglik, dan Depok. Hanya saja di Ngaglik dan Depok masing-masing ditemukan satu kasus. "Sebaran kasus Klaster Sedayu Bantul ini berjumlah 69 kasus terdiri dari 47 laki-laki dan 22 perempuan," kata Cahya kepada Harian Jogja, Jumat (5/11/2021).

Dinkes mencatat, kasus terbanyak klaster ini berada di Kapanewon Godean totalnya tercatat 31 kasus. Sebanyak 16 kasus ditangani di Puskesmas Godean 1 dan 15 kasus di Puskesmas Godean 2. Terbanyak kedua berada di Kapanewon Gamping dengan total 16 kasus. Sebanyak 14 kasus tercatat di Puskesmas Gamping 1 dan dua kasus di Pusmesmas Gamping 2.

Di Puskesmas Moyudan tercatat sebanyak 9 kasus, Puskesmas Minggir (6 kasus), Puskesmas Seyegan (5 kasus), Puskesmas Ngaglik 2 dan Puskesmas Depok 3 masing-masing ditemukan satu kasus.

Cahya mengakui penyebaran klastsr ini terjadi begitu cepat sehingga Dinkes menaruh perhatian besar agar jumlah klaster tidak terus bertambah. "Sejak kejadian awal pada 30 Oktober hanya empat kasus tetapi per 5 November atau dalam waktu tujuh hari bertambah menjadi 69 kasus," ujar Cahya.

Cepatnya penyebaran pada klaster ini, lanjut Cahya, karena warga yang terpapar berstatus sebagai orang tanpa gejala (OTG). Selain itu, setelah vaksinasi terjadi pengendoran protokol kesehatan (prokes) sehingga mempercepat penyebaran kasus. Kedua hal ini yang memicu cepatnya penyebaran.

"Karena awalnya empat kasus, karena OTG dan prokes longgar, akhirnya menyebar ke keluarga. Kemudian dari keluarga terus ke SMK 1 Sedayu itu. Sudah kami tracing karena kontak eratnya cukup banyak," kata Cahya.

Untuk mencegah penyebaran kasus, sebagian besar pasien sudah melakukan isolasi di Isoter yang dikelola oleh Pemkab Sleman. Sebagian lainnya masih menjalani isolasi mandiri (isoman). "Sudah banyak yang mau ke isoter, ada sebagian yang isoman dan kami masih terus kami motivasi [untuk ke isoter]," katanya.

Ambil Tindakan

Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengaku masih akan melihat angka kenaikan pasien positif Covid-19 dalam dua hari terakhir sebelum mengambil kebijakan terkait dengan munculnya klaster takziah di Sedayu, Bantul.

Sultan mengaku belum mengetahui jika ada klaster di Bantul. "Dua hari ini harus kita lihat dulu. Dalam arti kecenderungan turun atau tidak? Saya enggak tahu apakah ada klaster atau tidak di Bantul? Kalau memang ada klaster itu kenapa? Jika dua hari ini naik terus ya saya cut," kata Sultan, Jumat.

Artinya, lanjut Sultan, harus ada penanganan. Sebab, jika ada kecenderungan angka mengalami kenaikan berarti ada penularan. Jika ada klaster dan cepat ditangani, dinilai Sultan tidak akan langsung menular. "Kita kan enggak tahu persis ini akibat klaster atau karena Jogja penuh? sehingga ada yang merah. Kita kan enggak bisa ngukur itu," jelas Sultan.

Sultan berharap masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Sebab, saat ini masih pandemi Covid-19. "Ya, hati-hati, bahwa Corona belum selesai. Nyatanya kan tiap hari ada OTG baru," ucap Sultan.

Sementara data di Satgas Covid-19 Kabupaten Bantul, hingga Kamis (4/11), Klaster Takziah Sedayu terus meluas. Jumlah pasien Covid-19 di Kapanewon Sedayu menjadi 28, di Kapanewon Kasihan 9, Kapanewon Pajangan 6, Kapanewon Srandakan 2, Kapanewon Bambanglipuro 1 dan Kapanewon Sewon 1.

Wakil Bupati Bantul yang juga Ketua Harian Satgas Covid-19 Kabupaten Bantul, Joko Purnomo, mengatakan tidak hanya di Bantul, klaster takziah juga meluas ke beberapa kabupaten di DIY.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty, sudah melakukan tracing berkaitan dengan adanya warga Gunungkidul yang tertular virus Corona dari kegiatan takziah di Kapanewon Sedayu, Bantul. Meski demikian, hasil penelusuran dipastikan tidak ada warga lain yang tertular dari klaster tersebut. “Tidak ada,” kata Dewi.

Menurut dia, potensi penularan virus Corona masih terjadi, tetapi jumlahnya terhitung sedikit. Sebagai gambaran, pada Jumat dilaporkan tidak ada tambahan kasus baru. Sedangkan untuk pasien sembuh ada tambahan enam orang.

Meski angka penularan masih terkendali, Dewi mengimbau kepada masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi penularan. Selain terus menggerakan program vaksinasi, warga juga diminta untuk tetap patuh menjalankan prokes.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Bupati Gunungkidul, Sunaryanta. Menurut dia, kedisiplinan dari masyarakat merupakan kunci agar tidak terjadi lonjakan kasus gelombang ketiga di Bumi Handayani. “Masyarakat harus berpartisipasi untuk mencegah terjadinya gelombang ketiga penularan dengan terus menjalankan protokol kesehatan. Selain itu, upaya vaksinasi juga akan terus digencarkan di seluruh wilayah,” katanya.

Penambahan Kasus

Sementara itu, Satgas Penanganan Covid-19 DIY melaporkan terdapat penambahan kasus positif Covid-19 per 5 November 2021 sebanyak 39 kasus. Penambahan kasus positif tersebut didasarkan pada pengujian 7.083 sampel.

Kepala Bagian Humas, Biro Umum, Hubungan Masyarakat, dan Protokol (UHP) Setda DIY, Ditya Nanaryo Aji, Jumat (5/11) mengatakan tambahan 39 kasus tersebut paling banyak dari Bantul dengan 20 kasus, disusul Sleman (16 kasus), Kota Jogja (2 kasus), dan Gunungkidul (1 kasus).

Lebih lanjut Ditya mengungkapkan ada penambahan jumlah kasus sembuh sebanyak 25 kasus, sehingga total sembuh menjadi 150.336 kasus. Pada Jumat, kata Ditya, tidak ada kasus meninggal dunia.

Tambahan 39 kasus di Bumi Mataram itu, membuat DIY masuk lima besar dalam penambahan kasus secara nasional per 5 November. DKI Jakarta berada di ranking pertama dengan penambahan 119 kasus, disusul Jawa Barat (92 kasus), Jawa Tengah (57 kasus), dan Jawa Timur (46 kasus). Total pada Jumat ada penambahan 518 kasus, dengan 648 pasien sembuh, dan 19 kasus meninggal dunia akibat Covid-19.