Menjadi Pahlawan Hari Ini

Tugu Pal Putih. - Istimewa
10 November 2021 07:17 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Apabila dahulu membawa bambu runcing dan mengusir penjajah bagian dari jiwa kepahlawanan, hari ini esensi serupa bisa dilakukan dengan memakai masker. Di tengah “penjajah” baru bernama pandemi Covid-19, memakai masker dan protokol kesehatan (prokes) lain menjadi kontribusi masyarakat pada sektor kesehatan.

Wali Kota Jogja, Haryadi Suyuti mengatakan berjuang untuk kemerdekaan dan menjaga prokes merupakan bentuk kontribusi pada negara. Saat masyarakat taat prokes, maka besar kemungkinan bangsa ini selamat melewati “penjajah” berupa Covid-19.

“Kita tidak bisa mengulang bentuk perjuangan masa lalu, tantangannya tidak sama. Tantangan sekarang adalah menjadi pejuang untuk bisa mengakhiri ‘penjajah’ baru bernama virus [Corona]. Sekarang kita tidak bisa leluasa karena dijajah virus,” kata Haryadi belum lama ini.

Melalui peran semua sektor, pemerintah dan masyarakat, semua harus tampil menjadi pahlawan di masa sulit. Satu sama lain perlu menebar inspirasi agar bersatu melawan pandemi. Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja, berupaya menyelaraskan berbagai program dengan penanganan Covid-19, termasuk melakukan perubahan anggaran.

Selain itu, berbagai inovasi vaksinasi dari sentra vaksinasi, mobil vaksinasi, sampai pada penyusuran di tiap kampung juga terus dilakukan. Apabila vaksinasi sukses, maka kekebalan komunal pada masyarakat juga harapannya terwujud. Percepatan vaksinasi membuat capaian di Jogja dua terbesar bersama DKI Jakarta.

Perekonomian di Jogja yang terdampak pandemi juga perlahan diperbaiki. Beberapa upayanya dengan digitalisasi transaksi di pasar, program bantuan pada Usaha Kecil Menengah (UKM), kerja sama peringanan ongkos kirim dengan e-commerce, dan lainnya. Berbagai program disesuaikan dengan penguatan prokes di setiap sektor. Dalam beberapa waktu ini, pertumbuhan ekonomi Jogja capai 11%.

“Untuk kebangkitan ekonomi syaratnya prokes. Di dalam upaya menangani Covid-19, prokes bagian dari kebangkitan ekonomi, bukan dipertentangkan. Kalau ingin bangkit, prokes dijalankan,” kata Haryadi.

Selain dari Pemkot Jogja, program yang sifatnya menyasar langsung ke masyarakat juga terus digencarkan. Program dapur lansia, dapur balita, lorong sayur, sapa tetangga, bantu tetangga, dan lainnya menjadi upaya mewujudkan kemandirian wilayah. Semua kegiatan ini dalam satu irama bernama Gandeng Gendong. Menggandeng yang setara, dan menggendong yang di bawahnya.

Dari seluruh upaya pemerintah dan masyarakat, pemimpin menjadi vital lantaran menjadi contoh dan inspirator. “Pemimpin harus bisa menginspirasi pada seluruh masyarakat apa yang harus dikerjakan. Memandu langkah apa agar bisa melawan bersama-sama terhadap merebaknya virus [Corona] ini,” kata Haryadi.

“Pertempuran atau peperangan pada virus, sama seperti pertarungan hidup mati. Ini tentang maju mundurnya suatu bangsa. Pesoalan terkait dengan bagaimana masa depan kita semua setelah melewati pandemi.”

Potensi SDM Jogja

Baik di masa pandemi atau tidak, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Jogja menjadi salah satu prioritas. Meski di masa pandemi upaya ini menjadi semakin menantang. Berbeda dengan daerah lain yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) seperti hutan, nikel, emas, batu bara dan lainnya, Kota Jogja tidak memiliki kelimpahan SDA seperti itu.

Salah satu SDA di Jogja berupa letak geografis yang berada di tengah Pulau Jawa dan juga Indonesia. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan banyak orang untuk belajar, wisata, dan lainnya. Terlebih Jogja juga kaya akan seni, budaya, sampai tradisi. Termasuk status keistimewaan DIY yang Jogja termasuk di dalamnya.

“SDM menjadi salah satu fokus pengembangan. SDM ini yang nantinya bisa menentukan SDA bisa memberikan manfaat pada masyarakatnya,” kata Haryadi.

“Meski ada daerah atau negara lain berlimpah SDA-nya, tapi tidak mampu memanfaatkan, maka tidak akan memberikan kesejahteraan atau kemajuan bagi masyarakatnya.”

Apabila SDM terus dikembangkan, maka dia akan semakin potensial dan memberi kemanfaatan pada jangka waktu panjang. Berbeda dengan SDA, apabila dikembangkan terus menurus, ada potensi habis.

“Sehingga kami kuatkan dan matangkan agar SDM di Jogja betul-betul bisa menjadikan Jogja menjadi kota yang tetap dikunjungi untuk pendidikan, wisata, budaya, seni, dan sebagainya,” katanya.

Tidak berhenti pada SDM, Pemkot Jogja juga senantiasa mengembangkan infrastruktur. Berbagai pembangunan infrastruktur ini sebagai penyokong SDM dan SDA yang sudah ada di Jogja. Salah satu bentuknya dalam pengembangan serta penataan jalur pedestrian di Titik Nol KM sampai Ngabean. Selain itu, penataan pedestrian juga berada di kawasan Jalan Sudirman dan sekitarnya.

Tidak hanya jalur pedestrian, Pemkot Jogja juga terus menggaungkan budaya bersepeda. Selain pembangunan infrastuktur pendukung, ada pula program wisata yang fokus pada sepeda seperti Monalisa atau Menikmati Harmoni Jogja dengan Lima Jalur Sepeda.

“Monalisa ini gabungan dari wisata olahraga bersepeda, menikmati harmoni Jogja dari segi bangunan serta masyarakatnya, serta kuliner dan atraksi seni budaya. Dari lima jalur ini, sudah ada paket sepanjang jalur terkait dengan beberapa jenis wisata tersebut,” kata Haryadi.

“Wisatawan tidak perlu repot membawa sepeda sendiri. Mereka tinggal datang ke tempat pemberangkatan dan sudah tersedia sepeda beserta seluruh perlengkapannya.”

Menyokong Wali Kota

Sebagai Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menyokong kepemimpinan Wali Kota dalam upaya penanganan pandemi. Ia menyebut mesti melibatkan banyak pihak guna memberikan hasil yang optimal.

Sebagai orang nomor dua di Kota Jogja, peran dalam menangani pandemi bersama Wali Kota Jogja Ketua Satgas Penanganan Covid-19 mesti selangkah dan beriringan.

Berbagai kebijakan penanganan mesti dilakukan bertahap dan saling terkoordinasi. Seperti pada awal-awal terjadinya lonjakan kasus Covid-19 beberapa waktu lalu, Pemkot Jogja memutuskan untuk menerapkan pembatasan ketat di masa PPKM Darurat, tak terkecuali sektor wisata.

"Karena kami merupakan bagian pemerintahan yang satu dengan Pusat, sehingga koordinasi kebijakan harus sejalan. Termasuk dalam upaya-upaya penanganan pandemi, acuannya tetap dari Pusat dan kami kondisikan dengan keadaan di wilayah," kata Heroe.

Seiring dengan itu, optimalisasi layanan vaksin juga dipercepat. Pemkot Jogja mengerahkan semua elemen masyarakat dan tingkat pemerintahan lintas satuan dalam menyukseskan program vaksin Covid-19. Mulai dari program vaksin berbasis kampung, mobil vaksin, maupun pembentukan Satgas Percepatan Vaksinasi dikerahkan untuk mempercepat penanganan pandemi Covid-19.

Upaya penanganan pandemi pun dijalankan beriringan pula dengan kebijakan pemulihan di sektor ekonomi sambil tetap melaksanakan pembatasan secara teratur. Penyelenggaraan pameran dan acara-acara yang bertujuan untuk mendorong geliat perekonomian mulai dilakukan. Seperti pameran produk UMKM, gelaran Sekati Yk Ing Mal serta pelonggaran berbagai sektor mulai dijalankan. Dengan upaya itu Pemkot Jogja berharap masyarakat bisa mulai beradaptasi.

Menjadi Ujung Tombak

Kehadiran layanan public via daring melalui Jogja Smart Service (JSS) menandakan Kota Jogja telah siap dalam beradaptasi sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Akses terhadap layanan ini bagi masyarakat luas juga merupakan cerminan dan perwujudan program Gandeng Gendong yang diusung Pemkot Jogja bagi masyarakat luas.

Sekretaris Daerah Kota Jogja, Aman Yuriadijaya menyebut layanan JSS ke depannya diharapkan bisa menjadi balai kota di dunia maya. Program itu juga menjadi penanda bahwa Kota Jogja sudah mulai bertransisi menjadi Smart City dan mulai mendorong digitalisasi terhadap berbagai pelayanan publik, transaksi ekonomi, kegiatan masyarakat dan lain lain.

"Sekarang masyarakat bisa mendapat layanan Pemkot Jogja hanya melalui gadget. Urusan surat menyurat, perizinan, usul dan kritik serta memperoleh berbagai data dan layanan lainnya, bahkan sampai antre di puskesmas dan rumah sakit, antre vaksinasi dilakukan melalui JSS," kata Aman.

Aman menambahkan, peringkat Kota Jogja di Smart City di Indonesia termasuk yang paling maju, sehingga sering jadi model pengembangan layanan Smart City bagi kota-kota lain di Indonesia. Di masa pandemi ini terbukti gerakan Gandeng Gendong dan JSS bisa menjadi ujung tombak untuk mengatasi persoalan sebaran virus Corona, maupun upaya kebangkitan dan pemulihan ekonomi. (*)