Sekda DIY Hanya Tidur 2 Jam dalam Sehari Demi Warga  

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Kadarmanta Baskara Aji. - Istimewa
10 November 2021 07:27 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pernah mengalami fase berat pandemi Covid-19. Seluruh pemangku kepentingan berjibaku mengatasinya, termasuk Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Kadarmanta Baskara Aji. DIY kini melewati gelombang kedua pandemi Covid-19 setelah mengupayakan banyak hal.

Selama dua bulan terakhir tepatnya September hingga Oktober 2021 kasus terus melandai. Namun Juni hingga Juli 2021, lonjakan kasus sangat mengkhawatirkan, korban meninggal harian mencapai lebih dari 100 kasus dalam sehari.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Kadarmanta Baskara Aji sebagai salah satu punggawa pemerintahan yang langsung berada di bawah Gubernur DIY dan Wakil Gubernur DIY memiliki peran penting dalam penanganan Covid-19. Baskara Aji memiliki tantangan yang tidak ringan dalam mengorkestra organisasi perangkat daerah (OPD) untuk bersama-sama menangani Covid-19.

Mulai dari perencanaan anggaran hingga eksekusi di lapangan. Karena banyak anggaran yang harus di-refocusing di tengah perencanaan lain yang sudah matang, demi untuk penanganan Covid-19, tentu menjadi pekerjaan yang melelahkan. Saat Covid-19 masuk DIY, Baskara Aji menjabat Sekda, baru sekitar empat bulan, suka tidak suka ia yang berlatar belakang Dinas Pendidikan harus berhadapan untuk menanganinya.

Ia mengaku pada awal Covid-19 tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menanganinya, karena referensi sangat minim. Bahkan sejumlah aturan dari Organisasi Kesehatan  Dunia (World Health Organization/WHO) maupun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun belum banyak. Tetapi ia bersama jajarannya berusaha mencari informasi melalui berbagai referensi terkait virus dari Wuhan yang menggegerkan jagat.

“Waktu itu siang malam cari alat pelindung diri [APD], APD yang seperti apa juga belum tahu yang pasti. Masker saja sulit sekali kami cari waktu itu, sehingga semua serba mencoba-coba. Kami sempat bikin APD sekalian menggerakkan UMKM, setelah dijahit ternyata tidak memenuhi persyaratan karena bocor, masker dari kain ternyata tidak boleh karena tipis maka dibikin rangkap tiga. Perkembangan itu terus sampai kami makin tahu Covid-19 itu apa maka kami jadi lebih pasti untuk melaksanakan tugas di Gugus Tugas bersama TNI polri dan seluruh stakeholder,” katanya kepada, Harian Jogja Sabtu (6/11).

Saat memasuki pengujung 2020 menuju awal 2021 sempat terjadi lonjakan namun masih bisa diantisipasi meski pun angka kematian nyaris dilaporkan setiap hari. Memasuki Mei 2021 sebenarnya masih agak tenang karena waktu itu varian baru Covid-19 yang terkenal cepat penularannya hanya ditemukan di Kudus.

Namun saat Juni hingga Juli 2021 sudah masuk DIY dan petaka itu dimulai, penularannya sangat cepat dan pernah mencapai angka 3.000 kasus positif dalam sehari. Bagi Aji angka-angka itu lebih dari mendebarkan jantungnya. Karena saat angka berada di ratusan pun dinilai sudah mengkhawatirkan.

“Waktu itu kita [DIY] sempat nyaris kehabisan tempat tidur, mau buka rumah sakit darurat nakesnya tidak ada karena juga terpapar Covid-19. Sesuai arahan Pak Gubernur waktu itu akhirnya buka tenda di depan rumah sakit dengan mengambil nakes dari rumah sakit tersebut,” ucapnya.

Di tengah lonjakan kasus yang membuat situasi cukup mencekam, pemerintah sebenarnya sudah menyediakan selter dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Mulai dari hotel hingga gedung milik pemerintah. Namun tak sedikit pasien tanpa gejala enggan ditempatkan di selter. Hingga akhirnya meminta bantuan ke Pusat dan diterjunkanlah pasukan Kopasus dari Grup II Surakarta untuk menjemput pasien Covid-19 dengan gejala ringan untuk menempati isolasi terpadu.

Saat terjadi lonjakan kasus yang membuat situasi genting selama Juni hingga Juli tersebut Baskara Aji rata-rata hanya tidur selama dua jam dalam sehari. Ponselnya terus berdering setiap menit. Bahkan ia sempat tidak tidur sama sekali selama dua hari untuk mengawal oksigen demi menyelamatkan warga DIY yang banyak dirawat di rumah sakit hingga penuh.

“Kami mengawal oksigen dengan Pak Tri Saktiyana [Asisten Sekda DIY] sampai Semarang, Klaten untuk mendatangkan oksigen waktu itu dua hari tidak tidur. Waktu itu di mana-mana tidak ada, habis semua. Setiap saat Ngarso Dalem itu mungkin juga menggalih [memikirkan] kadang tengah malam menelepon saya untuk paring [memberikan] instruksi apa yang harus dilakukan besok pagi. Jadi saat itu rata-rata saya hanya tidur dua jam sehari,” kata Baskara Aji.

Membuahkan Hasil

Berbagai upaya yang dilakukan bersama jajaran di Pemda DIY pun secara perlahan membuahkan hasil. Bersamaan dengan penanganan dari sisi pasien, warga yang sehat pun digenjot vaksinasi. Sehingga kasus di DIY terus menurun. Meski hingga pertengahan November 2021 kasus terus melandai bagi Baskara Aji bukan berarti menjadi waktu untuk berleha-leha.

Ia justru merasa khawatir karena mulai banyak wisatawan yang berdatangan ke Jogja, meski sampai saat ini belum ada dampak penambahan kasus positif dari klaster wisatawan.

“DIY termasuk melandai tetapi saya termasuk ketar-ketir soal pendatang yang sifatnya tujuan wisata di mal tempat umum orang euforia datang ke Jogja,” katanya.

Baskara Aji kasus terus melandai, sehingga pada Tahun Anggaran 2022 bisa fokus pada pemulihan ekonomi dengan menyasar pada warga maupun UMKM terdampak Covid-19. Penanganan dilakukan melalui OPD terkait. Akan tetapi penganggaran Covid-19 tetap disediakan melalui Biaya Tak Terduga (BTT).

Dari sisi kesiapan oksigen saat ini DIY sudah bisa memproduksi sendiri dengan tiga unit alat untuk oksigen berbentuk gas dengan kapasitas produksi rata-rata sebanyak 50 tabung besar setiap unitnya. Kemudian rumah sakit tetap harus mempersiapkan layanan Covid-19.

“Selter tetap dipersiapkan dan bisa dioperasikan setiap saat. Antisipasi ketika terjadi lonjakan atau gelombang Covid-19 tetap kami persiapkan baik dari sisi anggaran maupun fasilitas. Harapannya kesiapan ini tidak digunakan dan Covid-19 terus melandai,” katanya.

Semangat Pengabdian

Di hari Pahlawan 10 November ini Baskara Aji berpesan kepada seluruh masyarakat maupun ASN agar menjadikan semangat pahlawan dalam melakukan introspeksi dan berprestasi maupun kontribusi terhadap negara. Bahwa dalam melaksanakan tugas harus dilandasi dengan semangat pengabdian dan tidak menjadi warga negara yang transaksional. Apa yang diberikan kepada negara selalu lebih diutamakan daripada apa yang didapatkan dari negara. 

“Ini harus jadi catatan juga untuk generasi muda, seperti saya kan ke depan akan diganti para milenial, maka mari kita teladani bagaimana pahlawan menyumbangkan dirinya untuk bangsa dan negara. Tidak muluk-muluk, dari [hal] kecil seperti memberikan manfaat untuk orang sekitar kita, di desa atau tempat tinggal, itu sudah sangat berarti,” ujarnya. (*)