Hujan Berjam-jam, Debit Air Lahan Pertanian di Kretek Bantul Naik

Camat Semanu Huntoro Purbo Wargono (mengenakan topi) meninjau lokasi banjir yang merendam area persawahan di Dusun Semenu Kidul, Desa Semanu, Kecamatan Semanu, Minggu (8/3/2020). - Istimewa/Dokumen Kecamat Semanu
13 November 2021 13:07 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Dampak hujan yang terjadi nyaris siang dan malam mulai terlihat di sektor pertanian. Di Kretek satu sawah mulai tergenang, sementara di wilayah lain debit air di lahan budidaya mulai meningkat.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul, Imawan Eko Handriyanto menyampaikan satu areal persawahan warga mulai terendam pasca diguyur hujan berjam-jam. Sementara di sejumlah titik lainnya, debit air di lahan budidaya mulai naik meski belum sampai menenggelamkan tanaman.

"Yang agak rawan di Tirtohargo. Yang lain ada peningkatan debit air. Tadi di Imogiri di dekat Karangtengah itu tadi juga ada [kenaikan debit air]," tuturnya pada Jumat (12/11/2021).

Secara fisiologis, Imawan menerangkan bila suatau tanaman terlalu lama terendam air, pertumbuhan tanaman dapat terganggu. "Kalau posisi tanaman itu terlalu lama terendam ini bisa membahayakan untuk pertumbuhan [fase] selanjutnya," terangnya.

"Kalau teru-terusan [terendam], tiga hari ke atas bisa nanti cukup rawan untuk tanaman. Apalagi kalau holtikultura tidak terlalu menyukai air. Kalau terendam ya harus waspada. Diupayakan untuk segera mengalirkan air itu," tegasnya.

Baca juga: Ada Anomali di Laut Pasifik! Ini Penyebab Curah Hujan di DIY Naik hingga 60 Persen

Persolannya, bila area budidaya yang terendam luas, pengaliran air harus dilakukan terpadu. "Karena luas, harus dipikirkan secara terpadu. Karena ini menyangkut pembuangan air drainase yang di mana-mana ada air," ungkapnya.

"Ini memang harus terpadu tidak hanya secara sporadis saja. Tetapi ini menyangkut wilayah yang luas. Ya ini harus dikoordinasikan dengan OPD yang lain juga," tandasnya.

Dari skor ketegori penilaian banjir yang terjadi di Tortohargo, Imawan menyebut dampak yang ditimbulkan belum sampai pada kategori puso. Baru beberapa persen tergenang. "Tapi ini kita pantau terus, kebetulan saya di Kretek nanti kita koordinasikan terkait saluran irigasi, buka tutupnya," tukasnya.

Sementara itu Plt. Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Bantul, Joko Waluyo menjelaskan penyebab area budidaya tanaman di Tirtohargo terjadi karena ketidakmampuan saluran irigasi untuk menampung debit air setelah guyuran hujan kurang lebih 12 jam lamanya. Akibatnya air meluap dan memasuki area persawahan warga.

Joko telah berkoordinasi dengan Bidang Sumber Daya Air, DPUPKP Bantul serta PUESDM DIY untuk bisa membuka pintu air di sungai di kawasan Padukuhan Gunung Kunci, Kalurahan Tirtohargo. "Sekarang air sudah mulai surut karena dua pintu air sudah dibuka," jelasnya.

Ditambahkan Joko, penanaman beberapa tanaman di luar musim, khususnya di akhir tahun cukup berisiko karena curah hujan yang tinggi. "Kalau menanam komoditas pertanian pada off season atau diluar musim, risikonya sangat tinggi. Misalnya tanam bawang merah, jika masa penghujan risikonya jauh lebih tinggi. Selain banjir, ada ngoser [moler]," tukasnya.