Advertisement

Pakar UPN Sebut Deforestasi Pemicu Bencana Hirdometeorologi

Lajeng Padmaratri
Senin, 15 November 2021 - 08:37 WIB
Sunartono
Pakar UPN Sebut Deforestasi Pemicu Bencana Hirdometeorologi Banjir di Dusun Ngipik, Bumirejo, Lendah akibat luapan drainase Wonokasih-Kengkeng dari hujan deras sejak Rabu (4/3/2020) sore hingga Kamis (5/3/2020) pagi. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA - Peningkatan hujan cukup besar yang terjadi beberapa waktu terakhir dikarenakan adanya La Nina sudah terdeteksi saat DIY memasuki awal musim hujan. Hal ini dikatakan Ketua Pusat Studi Manajemen Bencana UPN "Veteran" Yogyakarta Eko Teguh Paripurna sekaligus meminta masyarakat mewaspadai potensi bencana yang terjadi.

"Cuaca lokal lebih dipengaruhi oleh situasi cuaca global. Sepertinya tidak dipengaruhi oleh kondisi tata guna atau alih fungsi lahan di Jogja, yang faktanya tidak terjadi secara ekstrem. La Nina menjadi penyebab peningkatan curah hujan di Indonesia," terang Eko melalui pesan singkat, Minggu (14/11).

Pada kondisi berat, lanjutnya, fenomena La Nina bisa memicu berbagai bencana alam, seperti banjir, banjir bandang, dan longsor. Ia pun meminta seluruh pihak untuk berhati-hati dan melakukan mitigasi terhadap potensi hujan ekstrem yang memicu kehadiran banjir, banjir bandang, dan longsor.

Sementara itu, di sejumlah daerah lain di Indonesia, mulai terjadi bencana banjir pada November ini. Pengamat Hidrologi Hutan dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Ekosistem Universitas Gadjah Mada, Hatma Suryatmojo turut meminta seluruh pihak untuk memberi perhatian khusus terhadap perubahan daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang memiliki peran penting untuk melindungi kawasan di bawahnya.

Ia mengungkapkan bahwa DAS saat ini banyak diubah menjadi kawasan produksi, seperti pemukiman, budi daya intensif, dan lain-lain yang berujung pada penurunan fungsi dari kawasan hulu. Alih fungsi DAS ini disebutnya menjadi salah satu faktor penyebab banjir, di samping faktor hidrologis seperti perubahan iklim dan anomali cuaca.

"Beberapa kegiatan tentu jadi pemicu [banjir], seperti pembukaan lahan hutan, perubahan fungsi lahan, deforestasi, perkembangan urbanisasi dan penyempitan tubuh air [sungai] akibat kebutuhan pemukiman," terang Hatma dalam keterangan tertulisnya.

Menurutnya, deforestasi turut jadi pemicu kejadian bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor. Meski begitu, ada banyak faktor fisik alami yang dapat berpotensi menjadi pemicu kejadian bencana hidrometeorologis, seperti faktor topografi dengan kemiringan lereng yang tinggi dan curah hujan ekstrem yang biasanya lebih dari 100 mm.

“Memang sangat perlu mengedukasi seluruh lapisan masyarakat tentang peran penting DAS sebagai sistem penyangga kehidupan yang akan mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan," ucapnya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Streaming Starjoja FM
alt

Cacar Monyet Menyebar melalui Pria Gay yang Berhubungan Seks?

News
| Selasa, 09 Agustus 2022, 11:37 WIB

Advertisement

alt

Dulu Dipenuhi Perdu Liar, Kini Pantai Goa Cemara Jadi Primadona Baru Wisata di Bantul

Wisata
| Senin, 08 Agustus 2022, 15:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement