Ini Penyebab Temuan Covid-19 di Gunungkidul Meningkat

Ilustrasi. - Freepik
26 November 2021 23:47 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Jumlah kasus corona di Gunungkidul bertambah 14 orang pada Jumat (26/11/2021). Kenaikan ini terjadi karena hasil dari skrining acak tes Corona di lingkungan sekolah.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, kasus corona di Gunungkidul ada peningkatan dibandingkan dengan penambahan pada Kamis (25/11/2021). Satu hari lalu, penambahan hanya empat kasus baru, sedangkan pada Jumat (26/11/2021) ada penambahan 14 kasus.

Menurut dia, peningkatan ini terjadi karena hasil skrining dengan melakukan tes acak di sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Total hingga kemarin sudah ada 1.402 siswa yang diswab. Meski demikian, belum semua hasilnya keluar karena baru 141 yang diketahui hasilnya.

Dari jumlah ini, ada 16 siswa yang dinyatakkan positif corona. Untuk penyebarannya, lanjut Dewi, ada yang berasal dari siswa Sekolah Luar Biasa (SLB), serta sekolah kejuruan di sejumlah kapanewon seperti Playen, Karangmojo dan Ponjong.

BACA JUGA: Update 26 November 2021: Covid-19 di DIY Bertambah 33 Kasus, Cek Data Lengkapnya

“Untuk siswa yang dinyatakan positif masuk kategori orang tanpa gejala,” katanya.

Dewi memastikan, meski ada kenaikan kasus di lingkungan sekolah, upaya skrening akan terus dilakukan. Ia berdalih, tes di lingkungan sekolah merupakan kegiatan yang terlaksana berdasarkan instruksi dari Pemerintah Pusat.

“Tes akan terus dilakukan sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan penularan corona yang lebih luas lagi,” katanya.

Kepala Balai Pendidikan Menengah Gunungkidul, Agus Muchdiarto hingga berita ini belum bisa dikonfirmasi terkait adanya kasus Corona di lingkungan sekolah. saat dihubungi melalui telepon atau pun pesan WA, yang bersangkutan belum memberikan jawaban.

Sebelumnya, Kepala SLB Negeri 1 Gunungkidul, Widi Pranyata mengatakan, di sekolahnya ada tujuh siswa yang dinyatakan positif corona. kasus ini dikerahui berdasarkan tes swab massal yang diselenggarakan di sekolah.

“Awalnya akan dilakukan secara acak, tapi setelah dilakukan koordinasi dengan puskesmas, maka swab dilasanakan dengan menyasar ke seluruh siswa, guru maupun karyawan di sekolah,” katanya.

Widi menuturkan, adanya temuan kasus ini maka untuk sementara waktu kegiatan belajar mengajar di sekolah diberhentikan. Adapun siswa yang dinyatakan positif juga sudah menjalani isolasi.

“Rencananya sampai 6 Desember, tapi bisa berubah karena tes belum menyasar ke seluruh siswa. Jadi, kebijakan pembelajaran tatap muka akan bergantung dengan hasil tes swab susulan,” katanya.