Pemkot Jogja Minta Pedagang Oleh-Oleh Jangan Layani Bus Wisata Tidak Terskrining

Petugas Satpol PP saat mengecek kelengkapan dokumen rapid tes atau tes swab serta kelengkapan protokol kesehatan pada penumpang bus pariwisata di Pasar Seni dan Wisata Gabusan (PSWG), Sewon, Bantul, (22/12/2020). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
03 Desember 2021 12:27 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pemerintah Kota Jogja meminta para pedagang di sentra oleh-oleh wisata untuk tidak melayani bus wisatawan yang tidak terskrining melewati terminal Giwangan. Pemberlakuan skema satu pintu masuk (one gate system) yang mengharuskan bus wisata terpantau di terminal Giwangan disebut mesti dioptimalkan menjelang akhir tahun guna mencegah potensi lonjakan kasus baru Covid-19.

Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi menyebut, bus wisata yang masuk ke terminal Giwangan dan mendapat pemeriksaan petugas akan diberikan stiker penanda. Stiker itu menandakan bahwa penumpang yang berada di dalam bus telah memenuhi syarat perjalanan antar daerah. Skema ini diberlakukan Pemkot Jogja untuk meminimalisir lonjakan kasus Covid-19.

Oleh karenanya, seiring dengan mulai menggeliatnya sektor wisata di masa PPKM level 2 ini, Pemkot Jogja meminta kepada insan pariwisata mulai dari hulu ke hilir untuk bersama-sama menjaga protokol kesehatan dan aturan perjalanan wisata di masa pandemi Covid-19. Dengan demikian, potensi lonjakan kasus Covid-19 yang berdampak pada semua sektor bisa diantisipasi.

"Saya sudah koordinasikan dengan toko oleh-oleh agar berkomitmen dan tidak menerima bus wisata yang tidak masuk lewat Giwangan. Karena sebenarnya pelapis dan upaya menjaga agar tidak ada lonjakan kasus baru ini adalah upaya dari kita semua," kata Heroe, Jumat (3/12/2021).

Baca juga: Ini Enam Info Penting soal Varian Omicron Menurut WHO

Fenomena yang ditemui, bus wisata yang tidak melewati terminal Giwangan dan tidak mendapatkan tempat parkir cenderung memarkirkan kendaraannya ke lokasi-lokasi sentral oleh-oleh wisata di Kota Jogja. Temuan ini kadang juga membuat akses jalan yang biasanya sempit menjadi penuh dengan badan bus dan tidak jarang dikeluhkan oleh pengendara lain atau warga sekitar.

"Karena banyak yang tidak bisa parkir tapi langsung ke toko oleh-oleh kemarin masih ada itu. Makanya coba kami kondisikan dengan pihak kemantren," katanya.

Heroe menyebut, sentra oleh-oleh menjadi titik rawan bagi bus wisata untuk menurunkan penumpang yang belum terskrining atau diperiksa oleh petugas. Titik-titik lain biasanya minim. "Ya toko oleh-oleh itu yang rawan, selain itu nggak ada. Biasanya bus wisata ini menurunkan penumpang di sana atau parkir lalu nanti dijemput lagi," ungkap Heroe.

Ketua Koperasi Bakpia Sumekar, Sumiyati mengatakan, beberapa penjual oleh-oleh di sentra bakpia Pathuk ada yang dijalankan oleh perseorangan dan tidak tergabung dalam kelompoknya. Hal itu menjadi cukup sulit mengawasi agar layanan kepada bus wisata yang tidak masuk lewat Giwangan disetop. Beberapa pedagang juga mengaku pengecekan terhadap wisatawan atau bus wisata yang masuk ke Giwangan sulit dilakukan saat mereka berbelanja.

"Kalau kita di sentra itu tempatnya di kampung gang kecil jadi tidak menerima tamu yang pakai bus wisata. Yang untuk tujuan bus wisata itu, bakpianya tidak ikut dalam kelompok kita, berdiri sendiri," ungkap dia.

Namun begitu, ia mengakui bahwa sejak sektor wisata perlahan-lahan bangkit aktivitas di daerah itu maupun lalu lintas bus wisata jadi kian padat. Apalagi pada akhir pekan, Jalan KS Tubun yang relatif kecil kadang bisa tertutup penuh oleh bus wisata yang parkir di kawasan itu. "Biasanya kami memang ada sentra parkir bus yang milik lahan pribadi. Saya juga kurang tahu apakah bus tersebut sudah melewati Giwangan atau belum. Tapi kalau pas ramai memang mengganggu akses jalan utamanya di KS Tubun," katanya.

Sumiyati menyebut, dalam persiapan menghadapi masa Natal dan Tahun Baru nanti kelompoknya telah berupaya menerapkan aturan protokol kesehatan di kawasan penjualan masing-masing. Kawasan tersebut dipastikan bakal padat oleh wisatawan yang ingin berbelanja oleh-oleh selepas berpelesir di Kota Jogja. "Kalau di tempat kami setiap rumah disediakan tempat cuci tangan, yang jualan pakai masker dan protokol kesehatan kami terapkan sebagaimana mestinya," ucap dia.