Rencana Penataan Kawasan Stadion Kridosono dan Stasiun Tugu Ditunda

Suasana Stasiun Tugu Yogyakarta, Jogja, Senin (17/6)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
07 Desember 2021 11:27 WIB Jumali Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Rencana penataan kawasan Stadion Kridosono dan Stasiun Tugu sebagai kawasan pendukung Malioboro ditunda. Hal ini menyusul belum selesainya penataan kawasan Malioboro dan Stasiun Tugu. Selain itu, penataan Stadion Kridosono dan Stasiun Lempuyangan juga harus terintegrasi dengan penataan kawasan Malioboro dan Stasiun Tugu.

"Jadi sementara ditunda dulu. Sambil menunggu perkembangan penataan Malioboro dan Stasiun Tugu. Karena penataan kawasan Stasiun Lempuyangan dan Stadion Kridosono sangat berkaitan dengan penataan Malioboro dan Stasiun Tugu," kata Kepala Bappeda Kota Jogja Agus Tri Haryono, Sabtu (4/12/2021).

Oleh karena itu, Tri mengungkapkan saat ini pihaknya pilih fokus kepada penataan kawasan Kota Baru. Sejauh ini Pemkot Jogja telah mulai menata pedestrian di sisi kanan dan kiri sepanjang Jalan Suroto dan akan memperlebar trotoar dari sebelumnya satu meter menjadi tiga meter. Penataan trotoar tersebut, lanjut dia, diikuti dengan penataan saluran drainase yang ada di sepanjang jalan tersebut, termasuk memindahkan pohon dan tiang listrik.

"Setelah itu kami kerjakan sirip Jalan Suroto. Untuk Kridosono kami belum sentuh. Karena masih menunggu revisi rencana tata ruang dan wilayah dari Pemda DIY juga soal penataan Malioboro dan Stasiun Tugu. Setelah itu baru akan kami sesuaikan konsepnya untuk Stasiun Lempuyangan dan Kridosono," jelasnya.

Sementara PT KAI sendiri telah memiliki desain untuk Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Tugu yang akan difokuskan kepada sentra pelayanan penumpang di DIY. Di mana ada rencana lokasi bongkar muat kereta barang akan ditata dan dialihkan ke Stasiun Patukan maupun Stasiun Prambanan (Brambanan). Dan, Stasiun Lempuyangan hanya akan melayani penumpang saja.

Baca juga: Percaya dengan Pria di Aplikasi Kencan Online, Perempuan Kulonprogo Tertipu Ratusan Juta

Dalam rencana awal yang sudah disusun PT KAI, pintu masuk ke Stasiun Lempuyangan tidak hanya dari selatan, tetapi juga dari utara. Selain itu akan ada bangunan-bangunan baru yang lebih modern. Area stasiun juga akan lebih luas ke arah utara. Sedangkan bangunan heritage tetap akan dilestarikan dan difungsikan. Bangunan heritage akan dipakai untuk restoran dan loko kafe, hotel budget. Selain itu ada bangunan untuk pertemuan, hotel bintang tiga, parkir, perkantoran, plaza untuk ruang publik, terowongan untuk pejalan kaki dan sepeda, depo, gudang, kondominium, mal, dan ruang kerja.

"Namun, rencana ini bisa berubah seiring dengan perubahan RT/RW dari provinsi. Karena RT/RW untuk Kridosono dan Stasiun Lempuyangan kan juga harus disesuaikan dengan Stasiun Tugu dan kawasan Malioboro," sambung Agus.

Manajer Humas Daop VI Supriyanto mengatakan meski telah ada rencana untuk renovasi Stasiun Lempuyangan secara besar-besaran sejak 2019 lalu, namun realisasi penataan stasiun tersebut sampai kini belum ada kejelasan.

"Sampai saat ini kami belum mendapatkan perkembangan signifikan terkait rencana penataan tersebut. Dan sampai saat ini belum ada persiapan mengarah kesana," katanya, Sabtu (4/12/2021).

Menurut dia, sejauh ini pihaknya hanya melakukan maintenance seperti penggantian bantalan rel dan beberapa pekerjaan yang belum mengarah ke grand desain penataan. Ia memerkirakan, PT KAI kemungkinan akan mulai melakukan penataan Stasiun Lempuyangan, setelah Stasiun Tugu ditata. "Mungkin tunggu yang Stasiun Tugu dulu. Kalau untuk yang lempuyangan belum ada perkembangan sejauh ini," tandasnya.

Sementara Kepala Bappeda DIY Beny Suharsono mengakui jika sejauh ini Pemda DIY telah berkomitmen untuk mengembangkan kawasan Stasiun Tugu. Sehingga butuh kajian, dengan tujuan agar pengembangan Stasiun Tugu terintegrasi dengan pengembangan sumbu filosofi.

"Kalau jadi pusat ekonomi ya [kawasan Stasiun Tugu], tapi kan harus mengikuti perkembangan. Perlu kajian juga. Sehingga antarkawasan harus terhubung," jelasnya.

Tidak Gegabah

Beny mengaku pihaknya tidak ingin gegabah dalam pembangunan Stasiun Tugu. Karena Pemda DIY tidak ingin jika nantinya konsep penataan Stasiun Tugu tidak berkaitan atau justru bertolak belakang dengan penataan kawasan Malioboro yang mengacu kepada sumbu filosofi.

"Kami tidak ingin meninggalkan noktah nantinya karena kawasan satu dengan kawasan lain tidak terhubung," jelasnya.

Oleh karena itu, diakui Beny, target pembangunan 2023 untuk kawasan Stasiun Tugu memungkinkan mundur. Namun, Pemda DIY tetap berkomitmen untuk mengembangkan kawasan Stasiun Tugu.

"Untuk status tanah [untuk pengembangan] ada yang milik Kasultanan dan masyarakat. Untuk yang milik masyarakat nanti perlu pendekatan dan pembicaraan. Sedangkan untuk yang milik Kagungan Ndalem, pasti kan harus minta izin lebih dulu," ucapnya.