Malam Tahun 2022: Kembang Api Dilarang, Pentas Seni Tanpa Penonton

Ilustrasi pesta kembang api pada perayaan tahun baru - JIBI
09 Desember 2021 13:47 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, UMBULHARJO – Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022, Pemerintah Kota Jogja menyiapkan berbagai pembatasan aktivitas. Menurut Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi, izin untuk pesta kembang api atau sejenisnya saat pergantian tahun dipastikan tidak ada.

Namun acara berbasis pentas seni dan olahraga dimungkinkan tetap digelar tanpa adanya penonton. “Yang masih dimungkinkan seperti menggelar pameran berbasis ekonomi kreatif atau Usaha Kecil Menengah. Untuk acara pertemuan paling banyak 50 orang. Imbauan yang paling penting kalau tidak ada keperluan penting di rumah saja, artinya tidak perlu ke luar kota,” kata Heroe, Kamis (9/12).

Selama Nataru, destinasi wisata tetap buka dengan pengetatan dan pembatas menggunakan aplikasi Peduli Lindungi serta protokol kesehatan (prokes). Ada kemungkinan juga sistem buka tutup di Malioboro atau ruas jalan apabila terjadi kepadatan. “Tapi tidak akan ada penyekatan, kami memperketat prokes di masing-masing destinasi wisata, hotel, dan restoran,” katanya.

Berharap Kepastian

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan siap melaksanakan aturan dari pemerintah terkait Nataru, termasuk memperketat prokes di hotel dan restoran. Dia juga telah memberikan anjuran kepada seluruh anggota yang tergabung dalam PHRI DIY untuk mematuhi peraturan.

Di sisi lain, PHRI DIY berharap adanya kepastian aturan selama Nataru. Berkaca dari tahun sebelumnya, aturan sempat berubah menjelang hari libur. Sementara hotel dan restoran sudah menambah sejumlah stok bahan makan, termasuk bahan pendukung prokes seperti handsanitizer dan sabun cuci tangan.

"Kami tahun ini wait and see dulu, bagaimana kepastian pemerintah. Sekarang melonggarkan, tapi nanti dua pekan lagi kami mau melihat. Baru kalau ada kepastian dari pemerintah, itu baru kami belanjakan. Kami butuh kepastian, karena kami akan melaksanakan tanpa kepastian dari pemerintah wisatawan juga akan ragu," kata Deddy.

Dalam satu bulan terakhir, okupansi hotel di DIY pada akhir pekan sekitar 40-60 persen. Pemesanan kamar hotel selama Nataru juga tergolong baik. Meski sempat ada wacana pemberlakuan PPKM Level 3, jumlah pengurangan reservasi belum sampai turun drastis. "Artinya belum banyak yang cancel, masih menunggu aturan pemerintah yang pas," kata Deddy.