Lumpuh, Difabel Kulonprogo Ini Jadi Youtuber

Arifin (kanan) - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
09 Desember 2021 07:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO - Arifin warga Dusun Jati, Kalurahan Gerbosari, Samigaluh, Kulonprogo, lumpuh setelah mengikuti vaksinasi polio. Bagaimana kisah pemuda tersebut? berikut laporan wartawan Harian Jogja, Hafit Yudi Suprobo.

Bangunan dari kayu dan bambu menjadi tempat tinggal sehari-hari Arifin, 20, di Dusun Jati, Gerbosari, Samigaluh, Kulonprogo.

Bilik berukuran sekitar 3x3 meter menjadi tempat Arifin menghabiskan waktunya. Tak banyak perabotan di rumah tersebut.

Kamar itu menjadi saksi bisu saat Arifin duduk di bangku kelas empat SD dan mengikuti kegiatan vaksinasi polio pada 2011 silam. Tidak disangka-sangka, vaksinasi polio tersebut justru merenggut kebahagiaan masa kecilnya.

"Setelah saya mengikuti vaksinasi polio dan disuntik, justru tubuh saya ini jadi lemas dan lama-kelamaan tidak bisa digerakkan," kata Arifin pada Rabu (8/12/2021).

Mata Arifin menerawang jauh ke masa lalu menjelaskan bagaimana proses awal ia bisa lumpuh.

Setelah lumpuh, praktis hidup Arifin berubah total 180 derajat dari kondisi saat ia normal. Semua aktivitas yang ia lakukan harus dibantu ibunya, Sutinah, 55. Bahkan untuk aktivitas dasar seperti makan, mandi, hingga buang air, ia harus dibantu oleh keluarganya.

“Praktis, hampir sebagian besar waktu saya ya hanya bisa dilakukan di atas ranjang," ujar Arifin.

Sebenarnya keluarga Arifin tidak tinggal diam. Sejumlah upaya telah dilakukan demi menyembuhkan Arifin. Apa daya, kenyataan berkata lain. Arifin tetap belum bisa menjalani hidup normal sampai ia menginjak usia 20 tahun.

"Kami [keluarga] sebenarnya sudah mencoba mengobati Arifin. Pernah terapi tiga bulan tapi tak ada hasil. Selain itu juga sudah dirujuk ke rumah sakit, hasilnya sama. Anak saya tetap lumpuh," ungkap Sutinah.

Kondisi Arifin juga berdampak pada aspek pendidikan. Arifin harus digendong oleh ibunya untuk berangkat sekolah. Sejak lumpuh sampai duduk di bangku SMP, ibunya harus menggendong Arifin menuju ke sekolah.

"Namun, saya sudah tidak kuat lagi jika harus menggendong Arifin menuju ke sekolahnya. Jarak dari rumah menuju ke SMA cukup jauh. Jadi, saya putuskan sekolahnya tidak dilanjutkan hanya sampai jenjang SMP," ujar Sutinah.

Arifin adalah anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Sutinah dan Bambang Wakidi. Sang ayah, telah tutup usia saat usia Arifin masih sangat belia. Sang Ibu otomatis harus menjadi tulang punggung keluarga.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Sutinah menjual gula Jawa di pasar maupun warung yang ada di sekitar rumah. Kakak Arifin, dulu bekerja sebagai driver online. Namun, setelah istrinya melahirkan, pekerjaannya sebagai ojek online tidak dilanjutkan.

"Jadi ya, sekarang saya yang kerja. Biasanya ya saya jualan gula Jawa. Hasilnya bisa dapat Rp50.000 sampai Rp100.000, tapi itu tidak pasti karena tidak tiap hari jualan. Kalau pas enggak jualan ya paling ke sawah jadi buruh tani," ungkap Sutinah.

Sutinah mengaku sudah mendapatkan bantuan pengobatan dari Pemkab saat Arifin dinyatakan lumpuh. Namun, hasilnya belum bisa mengembalikan kondisi Arifin menjadi normal.

"Untuk mengobati Arifin, membutuhkan biaya tidak sedikit. Kami sudah tidak sanggup lagi. Akhirnya, kami pasrah dengan keadaan," ujar Sutinah.

Arifin yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah gemar bermain gim. Akhirnya tercetus ide untuk membuat konten gim. Bahkan, ia punya akun Youtube berisi aksinya yang sedang main gim bernama Find Gaming17.

"Siapa tahu dengan membuat konten saat bermain gim dan diunggah ke Youtube bisa membantu perekonomian keluarga. Syukur-syukur bisa dapat uang. Membuat konten ini ya buat mengisi waktu luang dan mencoba peruntungan di Youtube," jelas Arifin.

Saat bermain Mobile Legend, Arifin langsung merekamnya. Kemudian diunggah di kanal Youtube-nya. Hingga, Rabu sore subscriber-nya hampir 1.000.

Berikan Bantuan

Dukuh Jati, Susi Windarti, mengatakan keluarga Arifin masuk dalam kategori warga miskin yang harus menjadi perhatian Pemkab.

Keluarga Arifin merupakan potret kecil dari sejumlah keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan. Warga di pedukuhan Jati memang rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan. Kebanyakan, warga menjadi buruh tani yang penghasilannya pas-pasan.

"Dari 68 kepala keluarga yang hidup di pedukuhan Jati, kebanyakan petani. Mayoritas ini hidup di bawah garis kemiskinan dan masuk dalam program bantuan pemerintah," ujar Susi.

Sejumlah bantuan telah diupayakan oleh pedukuhan kepada keluarga Arifin. Bantuan juga menyasar rumah keluarga Arifin yang kondisinya sangat memprihatikan.

"Semoga, bantuan dari sejumlah pihak berkenan untuk diberikan kepada keluarga Mas Arifin," kata Susi.