Kisah Pelaku UMKM Jogja "Selamat" Berkat TUKONI

Angga Kusuma Arybowo (kiri) bersama Revo Suladasha (tengah) di gerai TUKONI, Babarsari, Kledokan, Caturtunggal, Depok, Sleman, beberapa waktu lalu - Ist
31 Desember 2021 09:37 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Banyak cerita pelaku UMKM di Jogja yang mampu bangkit dari pandemi Covid-19. Mengubah konsep penjualan dari tradisional ke kekinian. Bisa bertahan dan berkembang. Bagaimana kisahnya? Berikut laporan wartawan Harian Jogja Abdul Hamid Razak.

Angga Kusuma Arybowo bersyukur usaha yang dikelolanya bisa keluar dari hantaman pandemi Covid-19. Ia juga tak lagi bingung untuk tetap melestarikan usaha keluarga besarnya, Jadah Tempe Mbah Carik. Angga merupakan generasi keempat yang menjalankan bisnis keluarga ini.

Angga lebih menyasar kalangan milenial untuk memasyarakatkan panganan legendaris itu. Salah satu kuliner hits di Jogja ini berada di jalan Palagan Km 16, Pakem, Sleman. "Kuliner [jadah tempe] ini harus terus dilestarikan [meski masa pandemi]. Itu misi saya, saya menyasar kalangan milenial yang melek teknologi. Tapi, kalau mau yang heritage [pelanggan] bisa ke outlet kami yang di Kaliurang," kata Angga kepada Harian Jogja, beberapa waktu lalu.

Diakui Angga, pandemi Covid-19 sangat memukul bisnis keluarganya. Sebagai kuliner khas Jogja, panganan ini sejak dulu biasa dihidangkan di tempat. Mereka mengandalkan konsumen yang datang ke warung dan menjual secara offline. "Kami belum pernah melakukan transaksi secara online [sebelum pandemi]," ujar Angga.

Ketika pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat, kondisi itu sangat berdampak pada penjualan. Angga saat itu bingung karena hanya mengandalkan jualan offline.

Dampaknya pun terasa, omzet penjualan jadah tempe terjun drastis. Sejumlah karyawan sempat dirumahkan karena tak ada lagi pemasukan. Angga sangat terpukul. Masa kelam itu tak berlangsung lama. Angga memutar otak, mencari ide untuk menyelamatkan nasib karyawan dan usahanya.

Tak ingin kondisi yang dihadapi tidak bertambah sulit, lewat jejaringnya, Angga pun berdiskusi dengan Revo Suladhasa, creative agency di Jogja. Pucuk dicinta ulam tiba. Revo yang saat itu bersama Eri Kuncoro, seorang konsultan marketing dan Siti Alfiah sebagai finance, membawa gerbong Yuk Tukoni. Revo saat itu membangun TUKONI sebagai wadah bagi UMKM yang sedang berjuang menyelamatkan usaha dari pandemi.

"Setelah berdiskusi, saya pun menjadi mitra TUKONI karena memiliki satu misi. Bagaimana menyelamatkan karyawan dan tetap melestarikan panganan tradisional ini," ucap Angga.

Angga belajar bagaimana berjualan secara online. Ia mendobrak tradisi penjualan jadah tempe yang selama ini hanya dilakukan secara offline. Tradisi yang sudah ia jalankan secara turun-temurun. Dalam hati kecilnya, meski pandemi UMKM harus tetap survive bahkan harus bisa lebih baik dari sebelumnya.

Tidak kalah penting, lanjut Angga, jualan online dilakukan untuk mengobati rasa kangen pelanggan yang tidak bisa ke Jogja karena pandemi. "Pandemi ini harus menjadi momentum bagi UMKM untuk bangkit. Kalau kami tidak belajar berlari, maka kami akan tetap berjalan. Ketinggalan jauh. Padahal tuntutannya sudah berbeda," kata Angga.

Edukasi dan pendampingan mengenai produk Angga terima dari TUKONI. Mulai dari pengemasan, antisipasi produk gagal hingga mengatasi masalah komplain. Transformasi dari penjualan offline ke online, kata Angga, direspon pasar dengan baik. Angga bahkan tak menduga, banyak pelanggan jauh di kota sana yang kangen dengan jadah tempe.

"Saya mendapatkan pendampingan, learning by experience. TUKONI banyak memberikan masukan, misalnya paket-paket yang disukai pelanggan dan sebagainya," ujar Angga.

Kolaborasi dengan TUKONI sebut Angga, membuahkan hasil. Hampir dua tahun pandemi Covid-19, kata Angga, Jadah Tempe Mbah Carik tak lagi kebingungan berjualan. Pemasukan kembali stabil bahkan karena jumlah pelanggannya bertambah.

"Alhamdulillah, respon pasar bagus. Saat PPKM Darurat kami tidak merumahkan karyawan lagi bahkan jumlah karyawan bertambah. Pelanggan semakin banyak dari luar kota. Kami juga berencana membuka reseller, nanti dikelola TUKONI," ujarnya.

Rumah UMKM

Revo Suladasha adalah orang di balik kesuksesan Yuk Tukoni atau TUKONI. Dalam bahasa Jawa, yuk tukoni bermakna ayo dibeli untuk mengajak masyarakat membeli produk UMKM. Aplikasi ini merupakan matketplace kuliner asal Jogja, dibangun untuk membantu pelaku UMKM yang penjualannya terpukul akibat pandemi.

"Awal-awal pandemi ada sekitar 10 UMKM yang bergabung menjadi mitra, saat ini sudah lebih dari 250an dengan 400-500 jenis produk. Baik dari DIY Jateng, sebagian luar luar," kata Revo.

Memiliki latar belakang bisnis di bidang food and beverage, Revo merasakan betul bagaimana badai pandemi Covid-19 menghempaskan pelaku UMKM. Mereka dalam sekejab kehilangan pendapatan dan tak punya pegangan. "Itu juga pernah saya rasakan dulu. Nggak ada yang nolongin, tapi ketika ada yang nolongin, pasti happy," canda Revo.

Pria kelahiran 1986 ini pun melihat kondisi UMKM dan rekan-rekannya yang saat itu terdampak pandemi. TUKONI pun lahir untuk membuka tabir kebingungan pelaku UMKM agar mereka bisa bertahan menghadapi pandemi. "Ada yang UMKM sudah hopeless padahal produknya bagus. Bisa dipoles lagi, kami ajak untuk semangat lagi, ayo bangkit," katanya.

TUKONI memberikan polesan penjualan yang berbeda dengan sebelumnya. Kebutuhan pangan yang dikemas secara aman dan higienis. Kemasannya dapat disimpan cukup lama sehingga dapat dikirim ke luar kota. Ini untuk memudahkan pelanggan agar mendapatkan makanan yang diinginkan selama pandemi melanda.

"Kami masih lakukan riset untuk pengemasan agar bisa bertahan lebih lama tanpa ketergantungan dengan freezer. Sebab ada teknologi yang ternyata makanan bisa bertahan sampai satu tahun," ujar Revo.

Pengelolaan UMKM yang sebelumnya biasa-biasa saja, sejak ditangani TUKONI mulai dikemas secara modern. Platform ini juga memberikan pendampingan kepada UMKM yang menjadi mitra. Untuk pemasaran, mereka menyalurkan web melalui www.tukoni.id dan Instagram @yuktukoni. Ekosistem TUKONI berjalan dengan merangkul tim-tim ekspedisi untuk mengantarkan pesanan bagi pelanggan.

Pada akhirnya, ratusan UMKM terbantu dengan kehadiran platform ini di tengah pandemi. Sebagaimana yang dirasakan oleh Angga Jadah Tempe Mbah Carik. Berkat usahanya dalam membantu ratusan UMKM kuliner di DIY Jawa Tengah yang bangkit dari dampak pandemik, Revo mendapatkan penghargaan untuk kategori khusus dari Astra Indonesia. Revo dinilai menjadi Pejuang Tanpa Pamrih di Masa Pandemi Covid-19.

Sama seperti tahun sebelumnya, SATU Indonesia Awards menjaring anak muda di seluruh penjuru Indonesia yang tak kenal lelah memberikan manfaat bagi sekitarnya. Apresiasi diberikan kepada lima anak bangsa atas setiap perjuangan di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, Teknologi serta satu kategori yaitu kelompok yang mewakili bidang tersebut

Revo pun mengaku sejak mampu membangkitkan UMKM perasaannya campur aduk, antara bangga, terharu dan optimistis pelaku UMKM bisa bangkit. "Rasanya nano nano. Dengan segala dinamikanya, apalagi Jogja dengan budayanya yang nrimo, sakmene wae, itu memang nggak salah. Tapi kami ingin mengubah mainset mereka. Kalau produknya lebih dikenal luas, UMKM bisa lebih berkembang," katanya.

Saat ini, TUKONI mulai melakukan pengembangan seperti reseller, keagenan dan gerai-gerai baru di berbagai kota. "Kami benar-benar ingin membangun UMKM mengembangkan potensi UMKM. Kami berharap sudah ada SOP yang bisa dilaksanakan UMKM untuk dapat berkembang bersama-sama," ujar Revo. ([email protected])