Advertisement

BMKG: Puncak Musim Hujan hingga Februari, Hujan di Sleman Paling Lebat

M Faisal Nur Ikhsan
Jum'at, 21 Januari 2022 - 18:37 WIB
Budi Cahyana
BMKG: Puncak Musim Hujan hingga Februari, Hujan di Sleman Paling Lebat Ilustrasi hujan lebat. - Reuters

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA - Hujan lebat diperkirakan akan terus berlangsung di DIY hingga Februari nanti. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim hujan akan berlangsung pada akhir Januari sampai Februari.

Prakirawan BMKG Stasiun Iklim Yogyakarta Eliya Ulfa mengatakan curah hujan lebat bakal terjadi di wilayah Sleman dan Gunungkidul bagian utara.

Advertisement

BACA JUGA: BMKG: Cuaca Ekstrem Landa Jogja Hingga Sepekan ke Depan

"Kemudian untuk Februari dasarian kedua itu seluruh DIY berpotensi curah hujannya lebih dari 100 mm per dasarian. Itu masih cukup tinggi, dari 60-80 persen. Jadi sampai pertengahan Februari peluangnya cukup tinggi," kata Eliya dalam diskusi yang digelar secara daring pada Jumat (21/1/2022).

Eliya menjelaskan pada Desember lalu, curah hujan di DIYa masih masuk pada kategori rendah. Sebaran hujan juga tidak merata dengan sifat hujan mulai di bawah normal hingga normal.

"Tapi ketika sudah masuk tanggal 19-20 [Januari] itu, curah hujannya meningkat dan cukup merata di seluruh DIY, jadi kategorinya bahkan sampai ada yang 300 mm per dasarian," jelasnya.

Meningkatnya curah hujan serta sebaran hujan di DIY, menurut Eliya, menandakan masuknya periode puncak musim hujan. "Prakiraan untuk puncak musim hujan 2021-2022 untuk wilayah DIY, diperkirakan akhir Januari-awal Februari," jelasnya.

Berdasarkan catatan Stasiun Iklim Yogyakarta, curah hujan di wilayah DIY pada dasarian kedua Januari masuk dalam kategori sangat tinggi. Bantul, Sleman, dan Kulonprogo menjadi wilayah dengan curah hujan menengah hingga sangat tinggi. "Intensitasnya mulai 51-300 mm per dasarian, jadi memang cukup tinggi," jelas Eliya.

BACA JUGA: Banyak Pohon Tumbang di Bantul akibat Hujan Deras, Ini Saran BPBD

Advertisement

Sementara itu, Nur Hadi Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta menjelaskan tingginya curah hujan di DIY juga terjadi secara menyeluruh di Jawa. Penumpukan sirkulasi angin di sekitar wilayah Sumatera bagian selatan dan Laut Jawa berdampak pada peningkatan potensi pembentukan awan selama beberapa hari terakhir.

"Hal ini diperkuat dengan kondisi suhu muka air laut yang hangat di sekitar Pulau Jawa. Kemudian dari pantauan dinamika atmosfer juga ENSO dalam kondisi La Nina lemah, sehingga dalam beberapa hari terakhir meningkatkan potensi curah hujan khususnya di wilayah DIY," jelas Hadi.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement