Advertisement

Sedikit-Sedikit Healing, Cara Generasi Stroberi Sembuhkan Depresi

Lajeng Padmaratri
Senin, 14 Maret 2022 - 11:17 WIB
Arief Junianto
Sedikit-Sedikit Healing, Cara Generasi Stroberi Sembuhkan Depresi Pengunjung naik kereta api wisata di Museum Kereta Api Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (6/3/200). - Antara/Andreas Fitri Atmoko

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Padatnya aktivitas, kompleksitas persoalan, serta ritme hidup yang terus berjalan nyaris tanpa jeda memicu stres pada diri seseorang. Inilah yang selalu menjadi alasan bagi seseorang untuk melakukan self-healing, tentunya dengan cara mereka masing-masing.

Beberapa waktu terakhir, jagat maya diramaikan oleh kicauan mengenai self-healing yang menjadi tren di kalangan anak muda. Warganet lantas mengasosiasikan fenomena ini marak menjangkiti kalangan yang belakangan acap disebut dengan istilah Generasi Stroberi.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Konten media sosial dari anak muda yang mengungkapkan bahwa dirinya membutuhkan healing makin sering berseliweran. Dengan istilah lain, mereka kerap menyebut healing dengan self-reward, work-life-balance, mental health, dan sejumlah istilah “sok British” lainnya.

Istilah-istilah itu sejatinya mengacu pada satu makna yang sama, yakni anak muda yang mengaku tertekan akibat beban rutinitasnya sehari-hari, lalu membutuhkan jeda sejenak.

Ahli ekonomi Rhenald Kasali dalam konten di kanal Youtube-nya turut berkomentar terhadap fenomena tersebut. Menurutnya, generasi yang terlalu mudah membutuhkan self-healing adalah bagian dari Generasi Stroberi (Strawberry Generation).

"Adiknya milenial ini bisa disebut juga sebagai the Strawberry Generation. Ini bermula diamati di Taiwan, munculnya generasi baru yang ternyata begitu lunak seperti sebuah stroberi. Stroberi itu kalau disikat dengan sikat besi, gampang sekali rusak," kata Rhenald dalam tayangan Youtube pada 21 Februari lalu.

Meski membenarkan bahwa kesehatan mental kaum muda sangat penting, tetapi Rhenald menyebut bahwa jangan sampai kondisi ini menjadi healing dan depresi bohongan.

Konten tersebut senada dengan buku yang ditulis oleh Rhenald berjudul Strawberry Generation yang diterbitkan pada Februari 2018 lalu. Dia menganggap generasi ini terbilang mudah menyerah dan tidak kuat menghadapi tantangan.

Advertisement

Namun, mereka yang termasuk pada stereotip generasi stroberi ini justru menyatakan sebaliknya. Salah satunya ialah Rina, 22, yang menyatakan bahwa kalangan orang tua atau boomers dan generasi Z memang memiliki masa dan budaya yang berbeda.

"Meskipun apa-apa healing, istilahnya jadi overused ya, tapi isu kesehatan mental menurutku perlu dipahami oleh anak muda dan enggak lagi dianggap tabu seperti di masa lalu," ujar mahasiswa asal Jogja ini, Selasa (8/3/2022).

Dalam pemahamannya, self-healing berarti memulihkan diri dari hal-hal yang membuat tidak nyaman atau mengganggu emosi. Pada praktiknya, hal itu tidak mesti berlibur ke luar kota, tetapi bisa juga sekadar menonaktifkan media sosial dan berkegiatan lain yang menyenangkan.

Advertisement

"Kalau disebut sebagai generasi yang rapuh, kayaknya enggak juga. Justru ketika menyadari tentang mental health dan memahami self-healing lebih dini, bisa jadi di masa mendatang terhindar dari stres dan masalah kesehatan jiwa lainnya," ujar dia.

Pernyataan lain disampaikan oleh Tama, 21. Mahasiswa ini menyebut bahwa self-healing memang tengah menjadi isu yang tren di kalangan anak muda. Namun, dia menganggap bahwa pelabelan generasi muda yang gemar melakukan healing sebagai Strawberry Generation yang mudah rapuh belum tentu benar.

"Sejak dulu generasi muda selalu dicap dengan label tertentu, ya. Milenial yang begini, generasi Z yang begitu, sekarang ada label baru Strawberry Generation yang katanya rapuh," ucap dia.

Tama pun tidak ingin mempermasalahkan pelabelan tersebut. Menurutnya, healing pun tidak hanya bisa dilakukan oleh anak muda. Melainkan siapapun yang merasa membutuhkannya. "Generasi yang lebih tua atau boomers juga boleh self-healing, enggak ada salahnya," kata dia.

Advertisement

Kenyamanan

Menurut psikolog Lucia Peppy Novianti, healing merupakan terminologi yang definisinya bisa luas sekali. "Healing adalah proses dari yang tidak nyaman menjadi nyaman, dari yang tidak sehat menjadi sehat. Artinya ketika konteksnya healing adalah memproses apa yang tidak nyaman, tidak tepat, apa yang tidak sehat menjadi nyaman, sehat, dan tepat," ucap dia, Kamis (10/3/2022).

Lucia menjelaskan bahwa pada prinsipnya kesehatan mental sama dengan kesehatan fisik. Ketika kualitas kesehatannya menurun, maka perlu segera diobati. Misalnya, ketika merasa pusing di kepala, maka bisa diobati dengan mengonsumsi obat bebas di apotek.

Advertisement

Begitu pula dengan kesehatan mental yang dirasa tengah berkurang kualitasnya menjadi tidak fit. Kondisi ini pun bisa diobati dengan cara yang sederhana. Misalnya, dengan mengikuti sejumlah panduan self-healing yang bisa diakses di Internet.

Namun, kini tak jarang banyak anak muda yang mengharuskan healing untuk peningkatan kualitas kesehatan mentalnya dengan pergi ke tempat wisata. Padahal, tak semua kondisi perlu ditempuh dengan cara yang demikian. "Memang kalau ke tempat wisata, staycation di tempat bagus, itu ada sensasi rileks dan nyaman. Tapi kembali pada terminologi kesehatan mental atau kesehatan pada umumnya, healing itu tidak hanya soal sensasi nyaman secara umum, tetapi konteksnya harus dikaitkan atau harus dihubungkan dengan persoalan apa atau konteks apa yang menimbulkan ketidaknyamanan tadi," terangnya.

Tetap Dibutuhkan

Tak jarang, anak muda yang mengeluhkan butuh healing lantaran merasa dirinya stres. Dia merasa mendapatkan berbagai tekanan dalam kegiatan sehari-hari. Padahal, menurut Lucia, tidak semua stres itu buruk.

Advertisement

Dia menjelaskan bahwa terminologi stres berarti seseorang tengah mengalami suatu tekanan. Artinya, sesuatu yang menekan seseorang pasti akan menimbulkan stres. Namun, tidak selalu stres menimbulkan rasa sakit.

"Stres kadang dibutuhkan. Kita butuh untuk merasa terkondisi seperti harus segera, itu kan situasi yang stressful. Dengan seperti itu kan kita jadi kayak lebih mau bergerak, mau belajar, mau bekerja dengan giat. Jadi sebetulnya stres itu bukan suatu kondisi sakit, karena stres itu stimulus," urai Lucia.

Meski begitu Lucia menegaskan bahwa faktor kesehatan mental tidak hanya stres, tetapi juga bagaimana individu tersebut mencerna situasi dan masalah serta memiliki kemampuan adaptasi. Berbagai faktor itulah yang akan mempengaruhi apakah tekanan itu akan menjadi persoalan pada kesehatan mentalnya atau tidak.

Jika tekanan membawa pada kondisi yang negatif, hingga akhirnya kesehatan mentalnya terganggu, maka hal ini perlu diperhatikan. Menurut Lucia, ciri-cirinya ialah selalu memikirkan masalah, tidak nafsu makan, sedih, hingga depresi.

Maka hal ini perlu dikelola agar tubuh dan jiwa bisa nyaman kembali dan berfungsi optimal. Orang dengan mudah menyebut upaya ini sebagai healing. "Ketika kita merasa ada yang tidak nyaman dalam proses berpikir atau proses merasa, tetapi kita masih bisa produktif, memiliki keinginan terhadap kebutuhan harian seperti makan, minum, tidur, maka masih boleh pada tahap itu mengakses berbagai panduan self-healing di situs resmi di Internet. Bagaimana mengelola situasi atau ketegangan yang masih bisa diakses secara mandiri," urainya.

Selain mengelola secara mandiri, ada pula sejumlah orang yang membuat kelompok pendukung. Namun, Lucia meminta jika kondisinya sudah tidak produktif, maka perlu mengakses layanan kesehatan mental. Untuk itu, orang di sekitar perlu menilai tingkat keparahan pada kondisi kesehatan mental tersebut.

"Kalau kita sudah self-healing tapi tetap enggak produktif, enggak nafsu makan, enggak mau ketemu orang, itu tanda bahwa kita perlu mengakses layanan profesional. Termasuk ketika sudah self-healing tapi tetep enggak nyaman. Itu tanda kita perlu didampingi oleh layanan kesehatan mental tergantung kondisi kesehatan mentalnya," kata Lucia.

Dia pun meminta anak muda untuk tidak melakukan self-diagnosis terkait dengan kondisi mentalnya. Sebab, keterbukaan informasi di Internet dan kemudahan aksesnya saat ini rupanya membuat anak muda tak jarang memahami suatu pengetahuan terlalu jauh hingga menjadikannya keputusan untuk mendiagnosis diri sendiri.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

20.000 Buruh Pabrik Foxconn Resign, iPhone 14 Pro dan Pro Max Langka

News
| Senin, 28 November 2022, 21:47 WIB

Advertisement

alt

Sajian Musik Etnik Dihadirkan Demi Hidupkan Wisata Budaya Kotagede

Wisata
| Senin, 28 November 2022, 08:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement