Advertisement

Cerita Penjual Masker di Jogja Gulung Tikar Begitu Pandemi Mereda

Triyo Handoko
Jum'at, 10 Juni 2022 - 10:47 WIB
Budi Cahyana
Cerita Penjual Masker di Jogja Gulung Tikar Begitu Pandemi Mereda Wig Store, salah satu toko masker di Jl. Perumnas, Depok, Sleman, Senin (23/5/2022). - Harian Jogja/Triyo Handoko

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah sudah melonggarkan penggunaan masker di ruang terbuka. Kebijakan itu pun berimbas pada penjual masker di DIY. Mereka mesti merancang bisnis baru yang lebih prospektif. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Triyo Handoko.

Warna-warni masker yang ditata rapi, ditambah suara dangdut koplo yang volumenya maksimal, membuat pengguna jalan menoleh ke toko di Jl. Perumnas, Depok, Sleman.

BACA JUGA: Pemkot Jogja Ternyata Menerima Belasan Aduan Soal Izin Hotel Bermasalah

Toko ini bernama Wig Store. Tidak menjual rambut palsu, toko ini malah menjajakan beragam jenis masker, mulai dari masker kain, KN94, KN95, Buff, hingga N95.

Dangdutan dulu biar enggak bosen,” kata Sigit Cahyo penjaga Wig Store, Senin (23/5/2022).

Sepanjang hari itu baru ada lima pembeli. Sigit yang menjaga toko sendirian pun bosan. Sejak beberapa pekan lalu, kata Sigit, penjualan masker sedang lesu-lesunya.

Baru kali ini penjualan masker sepi. Dia bekerja sebagai penjaga toko masker sejak dua tahun lalu dan saat paling sepi pembeli, tak kurang dari 40 orang datang ke tokonya.

“Kalau sekarang paling banyak 10 orang yang beli, kemarin malah enggak ada yang beli sama sekali,” ujarnya.

“Dulu stok sampai habis-habisan, sekarang stok melimpah sampai bingung mau digimanakan karena enggak ada yang beli.”

BACA JUGA: Ini Strategi Rektor UGM Tuntaskan Kasus Kekerasan Seksual

Advertisement

Dalam sehari saat pandemi sedang mengila, Sigit mampu mengumpulkan omzet hingga Rp1 juta. Sekarang, Rp100.000 saja belum tentu. “Kalau begini terus toko ini bisa tutup dan saya menganggur lagi,” kata Sigit cemas.

Toko yang dijaganya itu milik kerabatnya. Kalau tak ada penjualan, berarti satu langkah menuju bangkrut. Kebangkrutan itu sudah di depan mata, kata Sigit, karena tokonya tak menyetok masker lagi.

Nasib serupa juga kini sedang dialami Dini Safitri, 32, penjual masker keliling di sekitar Stadion Mandala Krida. Bermodal mobil Honda Jazz keluaran 2013, Dini berjualan masker sejak awal pandemi.

Advertisement

“Dulu nyoba-nyoba iseng saja tapi hasilnya lumayan akhirnya keterusan sampai sekarang,” jelasnya, Senin.

Sebelum ada pelonggaran masker, Dini bisa meraup omzet harian hingga Rp500.000. “Sekarang sepi banget, ini saja baru laku dua,” ujarnya.

Tak mau merugi lagi, Dini berencana menyudahi usaha berjualan masker kelilingnya itu.

Udah mau berhenti, ini habisin stok aja karena masih banyak stoknya,” ujar Dini.

Advertisement

Menurut perkiraan Dini, stok maskernya tak akan terjual semua. Ia siap menanggung semua kerugian yang bakal muncul. Toh keuntungan dari berjualan masker selama pandemi juga sudah lumayan.

Usaha menghindari kerugian sudah Dini coba. Pertama dengan membanting harga jual maskernya. Ia juga menitipkan penjualannya ke toko-toko. “Hasilnya percuma, masker tetap sulit terjual,” katanya.

“Pelonggaran dari Presiden Jokowi itu kan mendadak, jadi saya enggak tahu kalau bakal sepi begini.”

Advertisement

BACA JUGA: Transaksi Hewan Kurban Mulai Ramai, Harga Naik sampai Rp2 Juta per Ekor

Namun Dini tak kapok berjualan masker. “Saya memang suka iseng-iseng coba jualan barang-barang baru yang sedang diminati, dulu jual tanaman hias juga pernah,” katanya.

Menurut kalkulasinya, untung sudah datang di awal, sekarang giliran rugi. Ia sadar roda bisnis itu berputar, kadang di atas kadang di bawah. Jadi tak masalah.

Setia dengan Masker

Putri Indah Sari, 17, siswa SMAN 5 Jogja sepulang sekolah langsung menuju mobil milik Dini yang terparkir di sisi timur Stadion Mandala Krida. Satu tujuan Putri adalah membeli masker. “Sudah habis jadi sekalian beli aja,” katanya.

Advertisement

Putri tetap akan memakai masker. “Mungkin karena sudah terbiasa maskeran, sudah nyaman begini juga,” katanya.

Di sekolah, Putri juga masih diwajibkan memakai masker. “Kalau sudah diwajibkan juga kayaknya tetap bakal pakai di mana saja selain di rumah,” kata Putri.

Selain sudah nyaman menggunakan masker, Putri juga menyebut merasa lebih aman dengan barang penutup mulut dan hidung tersebut.

Lagi pula, kata Putri, tak ada yang dirugikan saat memakai masker. Soal uang saku sekolah yang harus terpotong untuk membeli masker, Putri juga tak keberatan. “Buat jaga-jaga biar tetap sehat juga,” ujarnya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Erick Thohir: Rasio Utang BUMN Turun Jadi 35 Persen

News
| Selasa, 05 Juli 2022, 04:47 WIB

Advertisement

alt

7 Makanan Indonesia Favorit Dunia

Wisata
| Sabtu, 02 Juli 2022, 11:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement