Advertisement

Menelusuri Jejak Keislaman di Kraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman

Yosef Leon
Rabu, 27 Juli 2022 - 16:37 WIB
Bhekti Suryani
Menelusuri Jejak Keislaman di Kraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman Pohon beringin Kraton Jogja. - Harian Jogja - Desi Suryanto

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA- Perjalanan sejarah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman tidak bisa dilepaskan dari nuansa dan perspektif Islam. Banyak tradisi seni dan budaya di lingkungan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman yang secara filosofi erat kaitannya dengan nilai luhur keislaman.

Hal ini terungkap dalam Workshop Seni Budaya Islam dengan tajuk "Kasultanan dan Kadipaten Pakualaman DIY dalam Perspektif Islam" yang diselenggarakan Komisi Seni Budaya Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY pada Rabu (27/7/2022) di Masjid Jagokariyan.

Perwakilan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Rintaiswara menjelaskan, ada sederet ikon, simbol, tradisi maupun upacara di lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang sangat erat kaitannya dengan nuansa keislaman. Misalnya saja keberadaan pohon beringin di alun-alun utara yakni Kiai Dewadaru dan Kiai Janadaru.

"Keberadaan dua pohon itu juga dilengkapi dengan puluhan pohon beringin lain yang mengelilingi alun-alun dan ini jumlahnya melambangkan usia Nabi Muhammad SAW saat beliau meninggal dunia jika dihitung berdasar penanggalan Jawa," ujarnya.

KRT Rintaiswara menambahkan, keislaman dan seni budaya tradisi Jawa menjadi dua aspek yang saling terhubung di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keduanya mempunyai benang merah yang saling melengkapi antara satu dengan yang lain. "Agama tanpa budaya kering, sebaliknya budaya tanpa agama akan kehilangan arah," tambah dia.

Pengungkapan keislaman di lingkungan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga bukan hanya pada simbol atau atribut yang tampak saja. Nilai filosofi dan semangat keislaman juga melekat pada hal-hal yang tak kasat mata. Seperti Garis Imajiner dan juga Sumbu Filosofi.

"Sumbu filosofi yang membentang dari Panggung Krapyak menuju Tugu bermakna Sangkan dan Paran atau asal muasal dan tujuan. Kemudian pada garis imajiner yang bermula dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sampai ke Parangkusumo terdapat ikon dan atribut tertentu yang mengadopsi konsep islam yaitu habluminallah dan hablumminannas," jelas dia.

BACA JUGA: Jet Tempur Meraung di Langit Jogja, Ini Penjelasan TNI AU

Ketua Komisi Seni Budaya Islam MUI DIY, Muhammad Jazir menyebutkan, workshop tersebut bertujuan untuk menyosialisasikan konsep keislaman Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan juga Kadipaten Pakualaman ke masyarakat luas. Hal itu diharapkan bisa menjadi jembatan yang bisa menghubungkan aspirasi masyarakat muslim terhadap perkembangan tradisi Islam di wilayah Jogja.

"Kita ingin agar arah kebudayaan di Jogja itu ada strateginya dan mau dibawa kemana DIY dalam perspektif budaya Islam dalam hal ini yang direpresentasikan oleh Kraton dan Pakualaman," ujarnya.

Advertisement

Menurutnya, selama ini belum ada upaya untuk menjembatani dan kajian yang komprehensif berkaitan dengan aspek keislaman Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan juga Kadipaten Pakualaman. "Selama ini kan belum ada jembatan antara ekspektasi publik terhadap Kraton dan Pakulaman. Sehingga strategi pengembangan ke depan publik masih belum tahu," kata dia.

Workshop itu nantinya akan menghasilkan cetak biru mengenai strategi pengembangan aspek keislaman di wilayah Jogja. Cetak biru tersebut akan dijadikan panduan dan digunakan sebagai materi muatan lokal dalam mengembangkan ajaran Islam. "Bisa jadi materi lokal di sekolah dan pegangan para khatib. Karena sekarang banyak benturan antara pesan dakwah dan tradisi budaya, padahal tradisi itu kan bagian dari dakwah Islam," ungkap Jazir.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Streaming Starjoja FM
alt

Alasan Polisi Enggan Beberkan Motif Pembunuhan Brigadir J

News
| Kamis, 11 Agustus 2022, 18:07 WIB

Advertisement

alt

Jajal Keseruan Flying Fox Ledok Sambi, Solusi bagi yang Malas Lewat Tangga

Wisata
| Kamis, 11 Agustus 2022, 13:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement