Gunungkidul Tak Kebagian Kuota Transmigrasi 2026, Ini Penyebabnya
Gunungkidul dipastikan tidak memberangkatkan peserta transmigrasi pada 2026 karena minimnya kuota yang diterima DIY. Padahal, masih ada sekitar 30 kepala keluar
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Warga di wilayah Selatan Gunungkidul mulai kesulitan air bersih. Program droping air untuk masyarakat mulai disalurkan oleh BPBD Gunungkidul atau pemerintah kecematan. Adapun penyaluran air bersih sudah dilaksankaan di Kecamatan Tepus dan Rongkop.
Panewu Tepus, Alsito mengatakan, musim kering tahun ini sedikit terlambat karena adanya fenomena kemarau basah. Hal ini ditandai adanya hujan, meski telah memasuki musim kemarau.
Kondisi ini berdampak terhadap stok air bersih yang dimiliki warga sehingga pelaksanaan droping baru terlaksana belum lama ini. “Kalau Biasanya mulai awal Juli sudah droping. Tapi sekarang stok warga sudah mulai habis karena hujan sudah tidak turun sehingga droping air mulai dijalankan,” kata Alsito, Minggu (31/7/2022).
BACA JUGA: Doa Kraton Jogja untuk Warga DIY di Malam 1 Sura
Dia tidak menampik lima kalurahan di Kapanewon Tepus merupakan daerah yang mengalami krisis air bersih saat kemarau. Kondisi ini tak lepas sedikitnya sumber sehingga warga yang banyak bergantung pada air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menampung di bak penampungan yang dimiliki di masing-masing keluarga.
Untuk mengatasi krisis air bersih, tahun ini Pemerintah Kapanewon Tepus mengalokasikan anggaran sekitar Rp116 juta. Meski demikian, Alsito mengakui bahwa pagu tersebut tidak bisa mengcover seluruh wilayah terdampak kekeringan di Tepus.
Oleh karenanya, sambung dia, penyaluran air bersih juga meminta bantuan ke BPBD Gunungkidul. Hingga sekarang, pemberian bantuan ke warga sudah dilakukan di tiga kalurahan meliputi Purwodadi, Sidoharjo dan Tepus. “Untuk Kalurahan Giripanggung dan Sumberwungu penyalurannya kami mintakan bantuan ke BPBD,” kata Alsito.
Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, sudah mulai ada bantuan air bersih yang diberikan ke masyarakat. Untuk bantuan perdana diberikan kepada warga di Dusun Banombo, Pucanganom, Rongkop yang dilaksanakan Kamis (28/7/2022).
“Baru satu desa yang meminta bantuan. Untuk wilayah lain, kami masih menunggu permintaan secara resmi,” katanya.
Purwono menjelaskan, untuk droping air mengalokasikan sebanyak 1.400 tangki di tahun ini. Berdasarkan pengalaman droping di 2021, wilayah kekeringan terdapat di 41 kalurahan yang tersebar di 11 kapanewon.
“Untuk sekarang belum ada laporan secara resmi. Yang jelas, beberapa wilayah langganan kekeringan seperti Kapanewon Rongkop, Girisubo, Tepus, Paliyan, Panggang dan lainnya,” katanya. (David Kurniawan)
Foto istimewa BPBD Gunungkidul
Petugas BPBD saat menyalurkan air bersih ke bak penampungan warga di Dusun Banombo, Pucanganom, Rongkop. Kamis (28/7/2022)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul dipastikan tidak memberangkatkan peserta transmigrasi pada 2026 karena minimnya kuota yang diterima DIY. Padahal, masih ada sekitar 30 kepala keluar
Kubu Don Ritto berencana mengajukan praperadilan atas penyitaan emas 74 kilogram dan valas dalam perkara yang menyeret eks Jampidsus Febrie Adriansyah.
RANS menerima pengunduran diri Direktur Grandy Prajayakti. Perseroan memastikan operasional tetap berjalan normal dan akan menggelar RUPS.
Kemnaker menargetkan 300 ribu peserta Pelatihan Vokasi Nasional pada 2026 untuk mencetak SDM siap kerja sesuai kebutuhan industri.
Sebanyak 45 Koperasi Desa Merah Putih di Blora mulai beroperasi setelah mengantongi izin usaha lengkap dan berbadan hukum.
Rusia memperpanjang larangan ekspor bensin hingga akhir 2026 demi menjaga pasokan domestik dan menstabilkan harga bahan bakar.