Perahu Nelayan Terbalik di Pantai Baru Bantul, Satu Orang Hilang
Perahu nelayan terbalik di Pantai Baru Bantul, satu orang hilang. Tim SAR masih lakukan pencarian di tengah gelombang tinggi.
Ilustrasi./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA — Beberapa hari lalu, Universitas Ahmad Dahlan merilis hasil penelitian terkait dengan tingginya kandungan mikroplastik pada air hujan yang turun di sejumlah titik di Jogja.
Terkait dengan hal itu, UPT Laboratorium Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja mengaku tak bisa memantaunya dengan detail. Pasalnya, hingga kini DLH Kota Jogja belum memiliki standar baku terkait dengan pengukuran kandungan mikroplastik pada air.
"Untuk mikroplastik memang belum ada baku mutu pengujiannya. Karena kan pengujian itu dasarnya adalah standar baku mutu dan ada parameter yang harus dipenuhi dan tidak boleh melebihi standar tadi itu. Ketika sebuah parameternya tidak ada di situ ya sehingga pemantauan juga tidak ada," kata Kepala UPT Laboratorium Lingkungan DLH Kota Jogja, Sutomo, Senin (15/8/2022).
BACA JUGA: Pemda dan DPRD DIY Ingin Pelantikan Sultan Dipercepat, Ternyata Ini Alasannya
Sutomo menerangkan, pengujian maupun pengukuran terhadap kualitas lingkungan harus mempunyai standar mutu yang telah melewati kajian. Setelah ditetapkan dengan standar tertentu, indikator terhadap kualitas lingkungan akan lebih mudah ditentukan dengan mengacu pada standar baku yang telah ditetapkan tadi. Hanya saja kajian terhadap penentuan standar baku itu membutuhkan waktu yang panjang dan cukup kompleks.
"Kami kan instansi pendukung yang mana penentuan kualitas lingkungan itu lebih dulu ada pengawasan. Kemudian untuk standar baku ada peraturan yang diterbitkan. Karena kan pengujian itu nanti akan dibandingkan dengan standarnya apakah memenuhi atau tidak, jadi kalau tidak ada standar kan kita tidak bisa mengukur apakah sesuai standar atau tidak," jelas dia.
Meski begitu, Sutomo berpendapat bahwa kualitas air yang terpapar mikroplastik merupakan hal umum yang terjadi di perkotaan. Sebab, segala aktivitas manusia yang mengandung plastik dan berbagai macam pemicu lainnya bisa mengakibatkan air tercemar dengan partikel itu. Biasanya sungai menjadi tempat yang paling banyak terpapar mikroplastik.
"Yang paling nyata dan mudah ditemui itu ya di sungai karena kan dari sampah yang kadarnya mengandung plastik kemudian berubah menjadi partikel mikroplastik dan sumbernya banyak sekali itu," jelas dia.
Upaya penanggulangan memang harus melibatkan unsur kelompok masyarakat yang lebih luas. Menurutnya, pusat mesti merespons penelitian ini dengan optimal untuk kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dengan berbagai macam kebijakan turunan berkaitan dengan pengurangan sampah plastik. Sebab, segala macam aktivitas manusia yang menggunakan plastik bisa menjadi penyumbang besar bagi kualitas air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Perahu nelayan terbalik di Pantai Baru Bantul, satu orang hilang. Tim SAR masih lakukan pencarian di tengah gelombang tinggi.
Pengumuman UTBK-SNBT 2026 dibuka 25 Mei pukul 15.00 WIB. Simak link resmi, cara cek hasil, dan jadwal unduh sertifikat UTBK.
Asisten pelatih PSBS Biak Kahudi Wahyu menyebut Luquinhas sebagai pemain cerdas dan cocok untuk PSS Sleman di tengah rumor transfer.
Duta Hino Yogyakarta (PT Duta Cemerlang Motors) melakukan peresmian outlet atau cabang 3S
Cuaca panas bisa memengaruhi baterai mobil listrik. Simak 6 cara menjaga baterai EV tetap awet dan efisien saat suhu ekstrem.
Pemkab Kulon Progo berkomitmen selalu proaktif dalam penyelesaian terkait kepentingan masyarakat tersebut dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-kehatian