Advertisement

Korban Nyawa Suporter Sepakbola DIY Terus Ada, Begini Tawaran Solusi dari Pengamat

Anisatul Umah
Senin, 29 Agustus 2022 - 18:47 WIB
Anisatul Umah
Korban Nyawa Suporter Sepakbola DIY Terus Ada, Begini Tawaran Solusi dari Pengamat Tersangka pembunuh suporter PSS Sleman beserta barang bukti ditunjukkan polisi kepada awak media di Mapolres Sleman, Senin (29/8/2022). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN — Korban meninggal dunia akibat penganiayaan antarsuporter sepak bola masih menjadi pekerjaan rumah saat ini. Terbaru, seorang suporter PSS Sleman meninggal akibat dikeroyok seusai nonton pertandingan bola antara PSS Sleman versus Persebaya Surabaya.

Psikolog Forensik sekaligus Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Koentjoro mengatakan jiwa masa lebih mudah tersulut berbuat kerusuhan. Akan menjadi-jadi saat identitas pribadi tidak diketahui.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

"Kalau malam hari identitas pribadi tidak diketahui, karena gelap sehingga kebrutalan semakin menjadi-jadi," ucapnya saat dihubungi, Senin (29/8/2022).

BACA JUGA: Tanah Sitaan KPK Dipakai Warga Mantrijeron, Lurah: Semoga Bisa Segera Dimiliki Negara

Saat penganiayaan dilakukan bersama-sama, maka rasa tanggung jawab secara individu akan hilang, yang ada individu bagian dari kelompok. Dia menyarankan agar suporter ini dikenalkan dengan perilaku massa dan pencegahannya agar tidak terjadi tindak penganiayaan.

"Jangan semua diserahkan ke polisi. Misalnya undang psikolog kenalkan tentang perilaku massa. Bagaimana mencegah sehingga mereka punya pengetahuan sendiri," jelasnya.

Sementara itu, Sosiolog Kriminalitas Dosen Purna UGM, Soeprapto menjelaskan berdasarkan teori perilaku kolektif di mana dalam situasi keramaian terdiri atas sejumlah masa cenderung terjadi tindakan spontan.

"Tanpa mengkonfirmasi siapa benar siapa salah. Pokoknya right or wrong my friend, meskipun rasa ikut memiliki itu terjadi baru di saat itu, seolah ada kewajiban solider," ungkapnya.

Advertisement

Menurutnya teori kerumunan dalam situasi berkerumun daya pikir rasional seseorang melemah. Dalam tindakan pengeroyokan, bisa diartikan pukul dulu risiko belakangan.

Untuk keluar dari kasus penganiayaan yang terus berulang seperti ini diperlukan kerja sama antara pemerintah, kelompok suporter, serta klub sepakbola. Agar para suporter punya kartu identitas pengenal, sehingga kehadirannya tidak liar. 

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Pekan Ini Jembatan Kretek 2 Diresmikan

Pekan Ini Jembatan Kretek 2 Diresmikan

Jogjapolitan | 7 hours ago

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

BMKG Jepang Klarifikasi soal Erupsi Gunung Semeru Berpotensi Picu Tsunami

News
| Minggu, 04 Desember 2022, 21:47 WIB

Advertisement

alt

Jangan Sampai Salah, Hotel 26 Lantai di China Ini Khusus untuk Babi

Wisata
| Minggu, 04 Desember 2022, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement