Advertisement

Jatah Dropping Air di Gunungkidul Masih Sisa Ribuan Tangki

David Kurniawan
Kamis, 15 September 2022 - 18:27 WIB
Arief Junianto
Jatah Dropping Air di Gunungkidul Masih Sisa Ribuan Tangki Ilustrasi. - Antara foto/ Okky Lukmansyah

Advertisement

Harianjogja.com, Gunungkidul – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul memperkirakan alokasi bantuan air bersih di masyarakat tidak akan terserap 100%. Hingga sekarang sekarang kuota dropping air bersih masih sekitar 1.032 tangki.

Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, diprediksi awal musim hujan akan turun lebih cepat karena adanya fenomena kemarau basah.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Tanda-tanda ini sudah terlihat karena di sejumlah wilayah mulai diguyur hujan. “Memang musim hujan di Gunungkidul baru mulai Oktober, tetapi sekarang sudah mulai ada tanda-tanda perubahan musim,” kata Purwono kepada wartawan, Kamis (15/9/2022).

BACA JUGA: Bakar Sampah di Ladang, Lansia di Semin Gunungkidul Ikut Terbakar Hingga Tewas

Prediksi hujan yang turun lebih cepat akan berpengaruh terhadap penyaluran air bersih kepada masyarakat yang mengalami krisis. Di musim kemarau tahun ini, BPBD mengalokasikan bantuan air bersih sebanyak 1.400 tangki.

Meski demikian, sambung Purwono, kuota dropping air yang ada masih tersisa banyak karena penyaluran hingga pertengahan September baru sebanyak 368 tangki.

“Masih ada kuota sebanyak 1.032 tangki yang belum didistribusikan ke warga. Kemungkinan penyaluran juga tidak sebanyak dengan tahun-tahun sebelumnya,” kata mantan Panewu Purwosari ini.

Dia menjelaskan, hingga sekarang ada enam kapanewon yang mengajukan bantuan air bersih. Adapun lokasi penyaluran dilaksankaan di Kapanewon Purwosari; Panggang; Paliyan; Rongkop, Saptosari dan Nglipar. “Untuk yang lain belum mengajukan,” katanya.

Menurutnya, pelaksanaan dropping air bersih tetap mengedepankan asas efisiensi dan efektivitas. Apalagi merujuk pada prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak kemarau sudah terlewati di Juli lalu. “Yang jelas harus ada surat permintaan resmi. Sebelum droping, kami juga harus melakukan verifikasi terlebih dahulu,” katanya.

Purwono memastikan pada saat ada sisa anggaran untuk droping, maka akan dikembalikan ke kas daerah. “Kalau tidak terserap semua maka dikembalikan ke Pemkab,” katanya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Gunungkidul, Irawat Jatmiko mengatakan, upaya pemenuhan layanan air bersih ke masyarakat terus dilakukan.

Menurut dia, pelaksanaan pengedropan air hanya bersifat sementara serta bukan solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis air bersih. “Droping sangat situasional dan hanya sementara,” katanya.

Irawan mengakui, untuk perluasan layanan air bersih melaksanakan sejumlah program berkaitan dengan program pamsimas, spamdes hingga peruasan jaringan instalasi di PDAM. “Program terus dijalankan dengan harapan akses air bersih ke masyarakat jadi semakin mudah,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Pemerintah Akan Rampungkan 30 Proyek Strategis Nasional Rp360 Triliun Tahun Ini

News
| Selasa, 31 Januari 2023, 13:07 WIB

Advertisement

alt

Cacing-cacing di Terowongan Terbengkalai Ini Memancarkan Cahaya Biru di Malam Hari

Wisata
| Selasa, 31 Januari 2023, 11:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement