Sekaten 2026 Digelar Sederhana, Miyos Gangsa Bisa Disaksikan Warga
Sekaten dan Grebeg Maulud 2026 digelar sederhana. Miyos Gangsa di Pagelaran Keraton Jogja dibuka untuk masyarakat.
Pengunjung saat mengangantre untuk menyusuri Goa Pindul di Kalurahan Bejiharjo, Karangmojo. Jumat (6/5/2022)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, SLEMAN--Rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul mengurangi alias memangkas luasan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gunungsewu dikritik banyak pihak. Kebijakan itu dicurigai terkait ekspansi tambang.
Pakar Bidang Hidrogeologi Karst UPN Veteran Yogyakarta, Sari Bahagiarti K. mengatakan pengurangan luasan KBAK di Gunungkidul bisa menimbulkan bencana seperti kekeringan.
Dia menjelaskan KBAK merupakan tempat menyimpan air tanah yang besar. Jika KBAK dikurangi, kata Sari, di mana lagi air tanahnya akan disimpan.
"[dampak bencana] misalnya kekeringan. Gunungkidul sudah identik dengan kekurangan air. Di sisi lain bentang alam karst adalah penyimpan air," ucapnya kepada Harianjogja.com, Jumat (25/11/2022).
Dia menjelaskan di dalam karst banyak sungai-sungai besar dengan air yang melimpah. Jika dibongkar dan ditambang, sungai-sungai ini akan hilang. "Gunungkidul mau dapat air tanah dari mana? impor terus? sekarang saja sudah mengandalkan bantuan dari tempat lain," tegas dia.
Sari tegas tidak sepakat dengan pengurangan luasan KBAK karena dampaknya akan menyasar berbagai sisi. Seperti aspek geologi, geomorfologi, hidrogeologi, arkeologi, pertanian, perkebunan, peternakan, dan lain-lain.
Menurutnya ini baru dampak dari sisi keilmuan, dampak lainnya akan menyasar ke sisi sosial budaya dan keekonomian. Kalau luasan KBAK dikurangi, artinya kawasan non KBAK bebas untuk diapakan saja. Sari menyebut sudah pasti arahnya akan ke penambangan.
"Gak mungkin gak ke sana [penambangan]. KBAK ini boleh diapa-apakan asal gak ditambang dan tidak dirusak. Peternakan, perkebunan, wisata, dan lainnya," kata Sari.
Gunungkidul kata dia, terkenal dengan Gunungsewunya. Gunungsewu ini adalah karst, sehingga jika karst dikurangi Gunungkidul tidak punya ikon lagi.
Pantai-pantai di Gunungkidul juga menjadi primadona karena pantainya karst. Berbeda dengan pantai-pantai di wilayah Utara Jawa yang pesisirnya datar. Pantai di Gunungkidul menurutnya eksotis dengan batu karang terjal, ada bukit-bukit, dan gua-gua.
"Ikon Gunungkidul itu Gunungsewu dan Gunungsewu itu karst gak ada yang punya lahan karst seluas Gunungkidul," jelasnya.
BACA JUGA: Warga di Kulonprogo Terancam Tergusur Kedua Kalinya karena Proyek Tol Jogja-YIA
Lebih lanjut dia mengatakan, jika KBAK ditambang keuntungan yang dirasakan hanya sesaat. Sementara untuk membentuk karst seperti itu dibutuhkan waktu jutaan tahun.
"Setahun dua tahun [habis]. ekonomi [nilainya] hanya semasa pemerintahan. Tidak memikirkan sustainability untuk anak cucu."
Sari menjelaskan selama ini karst dimanfaatkan untuk bahan baku semen, bahan bangunan, campuran kosmetik, campuran pasta gigi, hingga industri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sekaten dan Grebeg Maulud 2026 digelar sederhana. Miyos Gangsa di Pagelaran Keraton Jogja dibuka untuk masyarakat.
Ruben Onsu dijadwalkan diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan penipuan dan penggelapan dengan kerugian korban mencapai Rp3,5 miliar.
Pemain aktif dan mantan pemain mendesak perubahan di FIFA di tengah tekanan terhadap Gianni Infantino dan kontroversi FFE.
DPRD Bantul mendukung pengangkatan guru P3K penuh waktu pada 2027, tetapi meminta kepastian pendanaan agar APBD tetap sehat.
Persija Jakarta resmi melepas Gustavo Almeida jelang Super League 2026/2027 setelah tiga musim dan mencetak 31 gol dari 55 laga.
Ranking BWF terbaru menempatkan Putri Kusuma Wardani di peringkat ketujuh dunia setelah Kejuaraan Dunia 2026 di New Delhi.