Inflasi DIY Mei Naik Jadi 0,15 Persen, Dipicu Tiket Pesawat dan LPG
Inflasi DIY Mei 2026 mencapai 0,15% secara bulanan dan 2,77% tahunan. Kenaikan dipicu tarif angkutan udara, LPG, dan harga cabai.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN– Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY memproyeksikan tiga hari ke depan cuaca DIY rata-rata cerah hingga berawan. Meski terjadi hujan, intensitasnya ringan dan sesekali sedang, terutama untuk waktu sore hingga malam hari. Khususnya di wilayah Sleman dan Kulonprogo bagian utara.
"Potensi hujan ringan di dini hari hingga pagi terutama di wilayah Kulonprogo bagian Selatan, Bantul bagian Selatan, Gunungkidul bagian Selatan," kata Kepala Kelompok Foreskater BMKG YIA Romadi, Jumat (13/1/2023).
Cuaca tujuh hari ke depan akan ada peningkatan curah hujan mulai 17 Januari 2023. Peningkatan curah hujan, dengan intensitas sedang hingga lebat, hampir merata di seluruh wilayah DIY.
Beberapa hari ini intensitas hujan di DIY menurun karena dipengaruhi pola tekanan rendah di Barat Sumatra, Barat Daya Jawa, serta di Utara Kalimantan yang menyebabkan pola angin di wilayah DIY menjadi divergen [menyebar]. Sehingga mengurangi massa uap air hujan di wilayah DIY.
"Wilayah DIY saat ini justru memasuki masa puncak musim hujan yang telah diawali dari akhir Desember 2022 sehingga diperkirakan sampai akhir Januari 2023 ini."
Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun klimatologi Sleman, Etik Setyaningrum mengatakan cuaca cerah akan berlangsung dalam tiga sampai lima hari ke depan. Setelah itu akan kembali normal dengan potensi hujan sedang hingga lebat.
"Kondisi dinamika atmosfer dan laut menyebabkan beberapa hari terakhir ini cuaca cerah dan tidak hujan," ucapnya.
Dua bulan kedepan Februari-Maret 2023 curah hujan diperkirakan kriteria menengah hingga tinggi. "Diprakirakan berakhirnya musim hujan April-Mei 2023."
Dia menjelaskan sampai saat ini secara umum DIY masuk dalam periode musim hujan. Tapi beberapa hari terakhir cuaca cerah disebabkan karena beberapa hal.
Lemahnya pergerakan monsun Asia atau angin baratan yang biasanya membawa hujan belum kuat. Dominasi angin di atas wilayah Jawa khususnya DIY berasal dari Selatan yang bersifat kering.
Berkembangnya pusat tekanan rendah di barat daya Sumatera dan di perairan Australia bagian Barat yang mengakibatkan massa udara tertarik di wilayah tersebut. Sehingga pembentukan awan-awan hujan di wilayah Indonesia bagian Barat dan khususnya wilayah DIY berkurang.
BACA JUGA: Terjepit Pintu Mobil, Eks Bupati Gunungkidul Badingah Terpaksa Dioperasi
"Suhu permukaan laut di selatan Jawa netral yang kurang signifikan dalam pembentukan awan-awan konvektif yang menyebabkan hujan."
BMKG memberikan beberapa imbauan kepada masyarakat selama musim hujan dan masa peralihan yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem. Waspada pada genangan, banjir, hingga longsor khususnya di daerah rawan seperti bantaran kali. "Waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Inflasi DIY Mei 2026 mencapai 0,15% secara bulanan dan 2,77% tahunan. Kenaikan dipicu tarif angkutan udara, LPG, dan harga cabai.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa
BMKG memprakirakan hujan ringan di sejumlah wilayah DIY pada 12 Juni 2026. Gelombang laut selatan juga berpotensi mencapai 4 meter hingga 13 Juni.
Simak jadwal lengkap KA Bandara YIA 12 Juni 2026. Kereta beroperasi sejak dini hari hingga malam untuk mendukung mobilitas penumpang.
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan sebaliknya berdasarkan data resmi KAI Access.
Penjual miras tanpa izin di Bantul dijatuhi denda Rp5 juta. Satpol PP tegaskan penindakan terus dilakukan.