Herbalife Gandeng Yayasan Cita Sehat Cegah Stunting di Gunungkidul
Herbalife dan Yayasan Cita Sehat meluncurkan program pencegahan stunting di Kedungkeris Gunungkidul yang menyasar 275 penerima manfaat.
Ilustrasi kemiskinan./JIBI
Harianjogja.com, JOGA– Jumlah warga miskin di Jogja membengkak berdasarkan survei terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) DIY. Inflasi dan pengangguran ditengarai menjadi penyebab kenaikan jumlah warga miskin.
Statistisi Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono mengatakan jumlah penduduk miskin di DIY pada September 2022 tercatat sebanyak 463,630 orang dan naik 8,900 orang dibandingkan Maret 2022. Meski dibandingkan September 2021 warga miskin di DIY turun 10,900 orang, namun kenaikan warga miskin di DIY tersebut harus mendapatkan perhatian lebih dari Pemda DIY.
"Kenaikan angka kemiskinan ini perlu menjadi perhatian Pemda DIY mengingat target penurunan angka kemiskinan ekstrim dari pemerintah Pusat pada 2024," katanya saat merilis Profil Kemiskinan di DIY, Senin (16/1/2023).
Menurutnya, ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan selama periode Maret 2022-September. Meski pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan III-2022 terhadap triwulan III 2021 sebesar 5,82% (yoy) atau tumbuh 2,96% (yoy) namun kondisi inflasi selama September 2021 - September 2022 menyentuh 6,81% sementara inflasi selama Maret 2022 - September 2022 sebesar 3,87%.
Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2022 sebesar 98,06%, lanjut Sentot, menunjukkan adanya penurunan sebesar 1,59% poin dibandingkan NTP Maret 2022. "Ini berpengaruh. Sebab saat Maret petani masuk masa panen dan September paceklik. Ditambah lagi adanya penyesuaian harga BBM ikut memengaruhi profil kemiskinan di DIY," ujarnya.
Berdasarkan data BPS, Persentase penduduk miskin perkotaan pada September 2022 sebesar 10,64% dan naik 0,08% poin dibandingkan Maret 2022. Penduduk miskin perdesaan pada September 2022 sebesar 14,00% dan naik 0,35% poin dibandingkan Maret 2022.
BACA JUGA: Warga Miskin di DIY Tambah Banyak, DPRD Sarankan Ini
"Pada September 2022, rata-rata 1 rumah tangga miskin di DIY memiliki 4,20 anggota rumah tangga. Apabila ditinjau secara rumah tangga, maka Garis Kemiskinan rumah tangga mencapai Rp2.315.636 per rumah tangga per bulan," ujarnya.
Faktor lainnya yang ikut memengaruhi angka kemiskinan di DIY, kata Sentot, adalah tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2022 sebesar 4,06%. Kondisi tersebut, katanya menunjukkan adanya kenaikan sebesar 0,33% poin dibandingkan Februari 2022. Peningkatan TPT ini terjadi di masyarakat perkotaan sebesar 0,72% poin. Sebaliknya di perdesaan, TPT mengalami penurunan sebesar 0,88% poin.
"Pertumbuhan ekonomi, inflasi, rendahnya NTP, kenaikan harga BBM dan naiknya TPT ini sangat berpengaruh pada pola konsumsi masyarakat dan meningkatkan angka kemiskinan di DIY. Ke depan, tentu pemerintah daerah diharapkan bisa menekan kembali angka kemiskinan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Herbalife dan Yayasan Cita Sehat meluncurkan program pencegahan stunting di Kedungkeris Gunungkidul yang menyasar 275 penerima manfaat.
Harga BBM hari ini 24 September 2026 masih mengikuti penyesuaian awal September. Pertamax tetap Rp15.950 per liter.
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 5,75% pada September 2026. Stabilitas rupiah dan tekanan pasar keuangan global menjadi pertimbangan utama.
Pendapatan transfer DIY turun Rp583,77 miliar pada perubahan APBD 2026. DPRD meminta PAD diperkuat tanpa menambah beban masyarakat.
Muse AI mencatat 1,8 juta unduhan di AS dan Kanada dalam 12 hari, melampaui ChatGPT. Ini fitur fleksibilitas, keamanan, dan kapabilitasnya.
Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, dipadati lautan manusia dalam acara Jawa Tengah Bersholawat yang digelar sebagai bentuk tasyakuran