Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Satpol PP memasang spanduk penutupan di perumahan yang berlokasi di tanah kas desa di Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Jumat (23/6/2023)/Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN—Satpol PP DIY kembali menutup perumahan di wilayah Sleman, tepatnya di Kalurahan Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, pada Jumat (23/6/2034). Perumahan tersebut berdiri di atas tanah kas desa (TKD) dan tidak memiliki izin.
Kepala Seksi Penegakan dan Penyidikan Satpol PP DIY, Muhammad Tri Qumarul Hadi, menjelaskan tiga perumahan yang ditutup di bawah pengelolaan PT Nesa Berkah Jaya. Masing-masing perumahan berlokasi berdekatan.
Ketiga perumahan itu masing-masing seluas 1.500 meter persegi, yang kedua 2.200 meter persegi, dan ketiga 3.600 meter persegi. Katiganya sama-sama berada di Kalurahan Sardonoharjo, Ngaglik.
"Dari inventarisasi kami di Nesa 1 sudah ada 12 rumah, 10 sudah dihuni; kemudian Nesa 2 ada 18, yang 16 sudah dihuni; kemudian Nesa 3 ada delapan rumah sama dan dua ruko, tapi semuanya belum berpenghuni," katanya.
Ketiga perumahan tersebut harus ditutup karena melanggar Pergub No. 34/2017 tentang Pemanfaatan Tanah Kas Desa, yang menyebutkan tidak TKD tidak diperbolehkan untuk hunian. Selain itu, kepemilikan aset di atas TKD juga tidak boleh dipindahtangankan.
Karena membangun rumah hunian dan memperjual-belikannya, pengembang melanggar dua poin dalam Pergub Pemanfaatan TKD tersebut. Penutupan merupakan langkah yang diambil setelah adanya peringatan namun tidak diindahkan.
Sebelum penutupan, Satpol PP DIY telah memanggilpengembang pada 13 Juni lalu. Namun dalam pemanggilan pertama, pengembang tidak mau menyepakati penutupan. "Panggilan kedua justru tidak hadir, maka hari ini kami tutup," katanya.
BACA JUGA: Caturtunggal Akui Apartemen Malioboro City Menunggak Sewa Tanah Kas Desa 1,5 Hektare
Satpol PP DIY memasang spanduk penutupan di pintu depan perumahan. Dua perumahan yang telah berpenghuni memiliki akses lainnya sehingga penghuni masih bisa keluar-masuk perumahan.
Ia belum bisa memastikan bagaimana nasib para penghuni perumahan tersebut ke depan, karena itu kewenangan pengambil kebijakan. "Hasil dari kegiatan hari ini akan kami laporkan ke Pak Gubernur melalui Asisten 1 untuk petunjuk berikutnya," ungkapnya.
Saat penutupan ini, di ketiga perumahan tersebut tidak ada aktivitas dari penghuni maupun pengelola. Salah satu penghuni, Endar, mengatakan baru tahu adanya penutupan tersebut karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya.
Ia mengaku menempati rumah tersebut sejak sekitar dua atau tiga tahun lalu setelah dibelikan oleh anaknya. Ia mempertanyakan kenapa tidak sejak awal pembangunannya dihentikan apabila memang bermasalah. "Kok baru sekarang?" Tanyanya.
Menurutnya, selama ini tidak ada permasalahan di perumahan tersebut. Setelah ditutup, ia hanya bisa menunggu keputusan selanjutnya untuk para penghuni seperti apa. "Ditunggu saja," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.