Potensi Air Banyusoco 200 Liter per Detik, Terbuang Sia-Sia ke Sungai
Lebih dari 20 sumber air di Banyusoco, Gunungkidul, mengalir ke Kali Oya. Tujuh titik memiliki debit hingga 200 liter per detik.
Warga membentangkan spanduk penolakan aktivitas penambangan saat berdemo di Balai Kalurahan Serut, Gedangsari. Senin (2/10/2023)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Puluhan warga mengeruduk Balai Kalurahan Serut, Gedangsari, Senin (2/10/2023). Aksi itu dilakukan warga sebagai bentuk penolakan terhadap beroperasinya tambang tanah uruk untuk keperluan pembangunan jalan tol.
Perwakilan warga, R Suyanto mengatakan aksi demo yang dilakukan merupakan puncak dari kekesalan warga. Terlebih lagi beroperasinya tambang juga belum memiliki izin lengkap.
“Sudah dua tahun beroperasi. Setelah kami cek ternyata izinnya belum lengkap dan ada peringatan dari Pemda DIY untuk menghentikan aktivitas penambangan. Inilah yang jadi dasar menuntut tambang ditutup,” kata Suyanto kepada wartawan, Senin siang.
Menurut dia, selama beroperasinya aktivitas penambangan sangat merugikan masyarakat. Di sisi kesehatan sangat terganggu karena menyebabkan polusi dan menimbulkan penyakit ISPA.
BACA JUGA: Tol Solo-Jogja Melayang di Atas Jalan Ring Road
Adapun dari sisi lokasi juga sangat rawan bencana. Selain longsor, di lokasi penambangan juga masuk zona patahan yang berpotensi terjadi gempa bumi. “Dari sisi operasi juga asal-asalan karena tidak ada Kepala Tekni Tambang yang membawahinya. Jadi, permintaan warga agar tambang ditutup,” katanya.
Suryanto berasalan penutupan bukan tanpa alasan. Pasalnya, sudah ada surat dari Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral No.540/5301 tertanggal 9 Februari 2023. Didalam surat ini memberikan sanksi administrasi peringatan pertama kepada perusahaan pengelola tambang di Padukuhan Rejosari, Serut.
“Diminta untuk menghentikan aktivtas operasi. Tapi, hingga sekarang belum berhenti,” katanya.
Lurah Serut, Sugiyanta mengatakan, keberadaan tambang di wilayahnya menjadi suatu hal yang dilematis. Di satu sisi aturan memperbolehkan penambangan, di sisi lain ada warga yang menolak. “Kami mendegar apsirasi warga, tapi secara kelembagaan, kami tidak bisa menutupnya. Sebab, ada pihak yang lebih berwenang didalam penutupan,” katanya.
Sugiyanta mengungkapkan, aktivitas penambangan sudah berlangsung sejak dirinya belum menjadi lurah. Pasalnya, saat masuk ke kalurahan aktivitas tersebut di 2021 sudah berjalan. “Sudah kami telusuri dan baru saja mendapatkan surat peringatan dari DPUP ESDM DIY lewat awak media,” katanya.
Menurut dia, aktivitas penambangan tanah urug untuk pembangunan jalan tol Jogja-Solo ini sudah ada beberapa kesepakatan antara warga dengan pengelola. Salah satunya memberikan kompensasi sebesar Rp200.000 per bulan. “Untuk lokasi penambangan ini ada yang milik warga, tapi ada juga milk perusahaan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lebih dari 20 sumber air di Banyusoco, Gunungkidul, mengalir ke Kali Oya. Tujuh titik memiliki debit hingga 200 liter per detik.
Kimi Antonelli menjadi yang tercepat di FP1 GP Belanda di Zandvoort. Simak hasil lengkap 10 besar dan kabar terbaru Max Verstappen.
Korban penipuan online di ASEAN naik menjadi 45% pada 2025. Di sisi lain, ekonomi digital Asia Pasifik diproyeksikan mencapai US$1,4 triliun.
Kemenpar merilis statistik pariwisata 2025 di 10 DPP dan 3 DPR. Simak daftar destinasi serta indikator yang menjadi perhatian pemerintah.
PGN Gagas memperluas penggunaan CNG di Jogja dan Jawa Tengah. CNG diklaim bisa menghemat biaya energi hingga 30%.
Forum IHKS 2026 di Jogja menghadirkan 100 ahli ortopedi dari 15 negara untuk membahas sendi, operasi robotik, hingga AI dalam dunia medis.