Advertisement
Disbud Kenalkan Tradisi Rempah Masyarakat di Sumbu Filosof
rnKegiatan Dialog dan Jelajah Sejarah yang digelar Kundha Kabudayan DIY dengan mengangkat tema Tradisi Rempah di Kawasan Sumbu Filosofi: Ramuan Boga dan Usada di Masyarakat Tradisional Jogja,rnSelasa (24/10/2023). (Harian Jogja - Yosef Leon Pinsker)\\r\\n
Advertisement
JOGJA—Guna mengenalkan potensi sejarah lokal kepada generasi muda, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menyelenggarakan Dialog dan Jelajah Sejarah dengan mengusung tema Tradisi Rempah di Kawasan Sumbu Filosofi: Ramuan Boga dan Usada di Masyarakat Tradisional Jogja, Selasa (24/10/2023).
Kepala Seksi Sejarah Kundha Kabudayan DIY, I Gede Adi Atmaja mengatakan, Dialog dan Jelajah Sejarah ini merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahun. Kali ini jajarannya mencoba metode berbeda dengan menyasar kalangan masyarakat umum dari semula pelajar.
Advertisement
Tujuannya untuk memberikan pemahaman lebih luas kepada masyarakat. "Kami juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui tempat bersejarah yang ada di DIY agar mereka bisa memahami dan muncul niat serta keinginan untuk menjaga serta melestarikan sumber sejarah," katanya.
Menurutnya, tema besar yang diangkat menyesuaikan dengan dukungan terhadap penetapan Sumbu Filosofi sebagai warisan budaya dunia. Gede menyebut, Sumbu Filosofi punya nilai luas berikut subtema yang bisa diangkat, salah satunya berkaitan dengan sejarah perkembangan rempah-rempah di sekitar Sumbu Filosofi.
"Kami mencoba mewujudkan dengan tema rempah. Bagaimana perkembangan rempah di Sumbu Filosofi, kemudian tradisinya yang bisa berbentuk boga atau makanan dan usada atau pengobatan dalam masyarakat tradisional Jogja," katanya.
Ketua Panitia Dialog dan Jelajah Sejarah, Dutajogja menyebut peserta yang ikut terdiri dari generasi muda usia 17-25 tahun. Mereka sebelumnya telah mengikuti seleksi dengan mengirimkan karya tulis esai sesuai dengan tema yang diangkat. Adapun pendaftaran dibuka melalui sosial media yang dimulai 4-20 Oktober dan berhasil menjaring 30 dari 50 orang pendaftar. "Harapannya mereka bisa menyebarkan apa yang didapat dari kegiatan ini," katanya.
Duta menjelaskan, kegiatan ini berlangsung selama dua hari yakni Selasa dan Rabu (24-25/10). Hari pertama peserta mengikuti sesi pemaparan tentang rempah dari sejumlah narasumber, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk melihat aktivitas tradisi, serta berburu rempah dan melihat jenisjenisnya di Pasar Beringharjo.
Peserta juga diajak meracik rempah yang dipilih di Kampung Mataraman. “Pada hari kedua acara dipusatkan di Girirejo, Imogiri, Bantul untuk melihat cara meracik jamu tradisional," katanya.
Salah satu narasumber yang hadir, Ridwan Rustamaji membawakan materi soal Jampi Pawukon tradisi tetamban dalam teks pawukon Kiai Jotirto. Pawukon merupakan istilah yang digunakan sebagai patokan siklus alam atau juga disebut ilmu titen. Total terdapat 30 wuku dalam pawukon dengan setiap siklusnya ada tujuh hari. "Khusus untuk jamu wuku, ini adalah ramuan obat
tradisional yang terekam dalam teks Serat Pawukon Kiai Jotirto atau disebut jampi pawukon karena ramuannya menyesuaikan diagnosa siklus wuku kelahiran seseorang," katanya. Kini ramuan tersebut dimunculkan kembali dan dikembangkan oleh Desa Wisata Sidorejo. (BC)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jam Lengkapnya
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
Advertisement
Advertisement








