Advertisement
Empati Lulusan Perguruan Tinggi Bisa Meminimalkan Ketimpangan Sosial
Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Profesor Fathul Wahid. - Istimewa.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Profesor Fathul Wahid mengingatkna kepada lulusan perguruan tinggi agar memiliki empati sebagai salah satu modal utama untuk mengurangi ketimpangan yang saat ini masih menjadi masalah sosial. Hal itu disampaikan dalam sambutan pelaksanaan wisuda yang digelar di Auditorium Abdul kahar Muzakkir Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Sabtu (27/12024).
Guru Besar Bidang Sistem dan Teknologi Informasi ini memberikan gambaran seorang ibu yang memberikan nasehat kepda anaknya agar rajin belajar agar tidak menjadi orang yang kurang beruntung. Selain itu rajin belajar sebagai modal menjadi orang sukses agar bisa membantu orang yang kurang beruntung.
Advertisement
BACA JUGA : Momen Rektor UII Minta Indra Sjafri Berdiri saat Menghadiri Wisuda Anaknya
Ia mengungkap dari ilustrasi tersebut pelajaran yang bisa diambil yaitu terkait masalah ketimpangan yang masih menjadi masalah sosial di Indonesia bahkan dunia.
"Pendapatan masyarakat Indonesia masih timpang. Salah satunya diindikasikan oleh rasio Gini 38,8 persen pada Maret 2023 berdasarkan BPS. Data di bulan yang sama, porsi masyarakat miskin masih cukup besar, yaitu 9,36 persen atau setara dengan 25,90 juta orang. Bahkan di Papua, proporsi pendudukan yang miskin mencapai 26,03 persen," kata Fathul dalam sambutannya.
Fathul mengatakan ketimpangan dan kemiskinan membawa banyak akibat. Akses ke banyak layanan, termasuk pendidikan, juga terbatas. Misalnya, menurut data Susenas 2023, pemuda usia kuliah yang berkesempatan menikmati pendidikan tinggi hanya 31,19%. Artinya, ada 68,81% atau sekitar lebih dari 17 juta pemuda tidak pernah mengenyam bangku kuliah.
Di sisi lain, Fathul mengambil pesan kedua dari ilustrasi yang ia gambarkan yaitu, terkait kesadaran bahwa yang mempunyai kuasa untuk melandaikan lapangan adalah mereka yang berada pada posisi yang lebih tinggi. Ibaratnya, ketimpangan merupakan seperti ayunan jungkat jungkit dengan dua orang pemain, satu di setiap sisi. Orang yang bisa menjadikan papan ayunan semakin landai adalah pemain pada posisi tinggi. Dengan berat badannya, dia bisa mengangkat pemain satunya.
"Metafora ini tampaknya valid untuk konteks kesuksesan seseorang, seperti nasihat si Ibu pada ilustrasi pembuka. Kesuksesan seseorang akan menjadikannya mempunyai kuasa atau keleluasaan, termasuk dalam membantu orang lain. Bantuan bisa mewujud dalam banyak bentuk, termasuk kebijakan negara atau lembaga, gerakan sosial, maupun aksi individual," ujarnya.
Oleh karena itu ia mengajak semua lulusan terus mengasah empati atau kepedulian kepada orang lain. Selain itu mengelola sikap yang hanya peduli kepada diri sendiri. Karena dengan itu, dunia yang timpang akan menjadi lebih landai, mereka yang berada di atas mau membantu yang tidak beruntung untuk meningkat derajatnya.
"Tetapi sayangnya menurut survei McKinsey terhadap 18.000 orang di 15 negara, ternyata tingkat pendidikan hanya mempunyai korelasi rendah dengan empati seseorang. Tentu, ini memunculkan pertanyaan, bagaimana menumbuhkan empati? Jawaban atas pertanyaan ini dan implementasinya akan membantu mengurangi ketimpangan," ucapnya.
Pada pelaksanaan wisuda UII periode III digelar dua hari yaitu 27-28 Januari 2024 dengan total jumlah wisudawan 717 orang. Terbaru pada Sabtu 27 Januari 2024 sebanyak 361 wisudawan dan Minggu 28 Januari 2024 tercatat 356 wisudawan. Peserta wisuda terbaik untuk Program Doktor diraih oleh Aulia Rahmat dengan IPK 3,96. Kemudian program Magister diraih Hasman Zhafiri Muhammad dengan IPK 4,00 dan Nurul Rohmawati sebagai peserta wisuda terbaik untuk program sarjana dengan IPK 3,97.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement









