Advertisement

Menebarkan Bibit Membaca Melalui Buku Cegah Stunting

Media Digital
Jum'at, 02 Februari 2024 - 06:37 WIB
Abdul Hamied Razak
Menebarkan Bibit Membaca Melalui Buku Cegah Stunting Suasana Sosialisasi Budaya Baca dan Literasi dan Bedah Buku Stunting di Indonesia: Analisis dan Pencegahan di Balecatur, Gamping, Sleman, Kamis (1/2/2024). Harian Jogja - Sirojul Khafid

Advertisement

SLEMAN—Menebarkan bibit-bibit kegemaran membaca buku bisa bermula dari mendekatkan akses bacaan. Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY membagikan ratusan buku berjudul Stunting di Indonesia: Analisis dan Pencegahan di Balecatur, Gamping, Sleman. Pembagian bahan bacaan sembari dengan penyelenggaraan bedah buku oleh para narasumber.

Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Arsip DIY, Martono Heri Prasetyo, mengatakan berbagai usaha menumbuhkan dan meningkat kegemaran membaca senantiasa perlu terus berlangsung. Terlebih saat ini penggunaan ponsel yang kurang tepat bisa berdampak pada tumbuh kembang anak dan cucu. Di depan 150 warga yang datang, Martono berbagi pentingnya buku dalam menambah wawasan, termasuk buku bertema stunting.

Advertisement

BACA JUGA: Pemkab Kulonprogo Berdayakan Takmir Masjid Atasi Stunting

"Ini salah satu usaha kami meningkatkan minat budaya baca di masyarakat DIY. Pada 2023, DIY menduduki peringkat pertama nasional dalam kategori gemar membaca, ini patut kita banggakan," kata Martono, Kamis (1/2/2024). "Harapannya bapak ibu bisa memperoleh ilmu dari buku tersebut, entah seperempat atau setengah atau seberapapun."

Hadir dalam acara bedah buku, Wakil Ketua DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, mengatakan stunting menjadi topik yang sedang gencar-gencarnya menjadi pembahasan masyarakat. Stunting bukan perkara gizi anak setelah lahir, tapi sudah semenjak dalam kandungan. Meski perempuan yang memiliki tugas mengandung, menyusui, dan sebagainya, bukan berarti suami atau laki-laki tidak punya peran.

Anton merasa dalam pengasuhan anak dengan mencegah stunting, perlu kolaborasi dan kerja tim dari suami dan istri. Tidak masalah, saat istri sedang hamil dan masa-masa pengasuhan, kemudian suami membantu memasak dan mengerjakan urusan rumah lainnya.

Di samping itu, suami dan istri juga perlu memperhatikan asupan makanan anak sejak dalam kandungan. "Harapannya saat melahirkan anak-anak, nantinya menjadi generasi emas, dan memaksimalkan bonus demografi Indonesia [pada tahun 2045]. Buku ini bisa dibawa oleh bapak ibu semua, untuk mempopulerkan atau membuat masyarakat gemar membaca, seperti pepatah buku adalah jendela dunia," kata anggota DPRD dari fraksi Partai Gerindra ini.

Salah satu bahan makanan penting bagi anak berupa susu. Apabila diambil rata-rata nasional, mungkin satu anak di Indonesia hanya mendapatkan satu tetes susu perharinya. Akses belum merata. Berbeda dengan India yang memang memiliki budaya minum susu sejak puluhan tahun lalu.

Menurut Anton, budaya minum susu di India, salah satu yang membuat masyarakatnya banyak duduk di posisi penting teknologi dan ekonomi dunia. Selain susu, perlu juga asupan gizi dari makanan seperti telur dan lainnya. "Tidak harus mahal, tapi bisa buat kreasi sendiri, tidak harus daging, tapi bisa sayur dan buah," katanya.

Aktivis Pemuda di Kota Jogja, Muhammad Iqbal Hardian, mengatakan gaya hidup orang tua bisa berpengaruh pada stunting anak. Misal trend anak muda yang lebih mementingkan penampilan tubuh daripada kesehatan. Sebagai contoh, istri yang mengandung namun tidak ingin terlihat gendut.

Alhasil, si perempuan hamil tersebut justru diet. Dia takut makan yang berdampak pada membesarnya badan. "Pengennya nampak cantik jadi diet saat hamil, banyak terjadi di era ini, nanti justru anak yang akan terdampak, karena di dalam kandungan butuh asupan gizi, butuh makanan yang sehat, tapi ibu enggak mau makan takut gemuk," kata Hardian, yang juga Pendamping Posyandu.

Sehingga sejak dalam kandungan, sampai 1.000 hari sejak lahir, orang tua perlu memperhatikan gizi anak. Asupan gizi berdampak pada kecerdasan, kepintaran, dan faktor tubuh lainnya.

Sebagai informasi, stunting merupakan sebuah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Hal ini menyebabkan adanya gangguan di masa yang akan datang, termasuk seseorang berpotensi mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal. Anak stunting mempunyai Intelligence Quotient (IQ) lebih rendah dibandingkan rata-rata IQ anak normal.

Stunting didefinisikan sebagai keadaan status gizi pada anak menurut TB/U dengan hasil nilai Z Score = <-2 SD. Kondisi ini menunjukan keadaan tubuh yang pendek atau sangat pendek hasil dari gagal pertumbuhan. Stunting pada anak juga menjadi salah satu faktor risiko terjadinya kematian, masalah perkembangan motorik yang rendah, kemampuan berbahasa yang rendah, dan adanya ketidakseimbangan fungsional.

Penulis buku Stunting di Indonesia: Analisis dan Pencegahan, Dara Ayu Suharto, mengatakan buku ini membuka tirai dengan menggali konsep dasar stunting, menyajikan gambaran mendalam mengenai kondisi stunting di Indonesia, serta menyoroti langkah-langkah identifikasi dan pengendalian stunting.

Melalui analisis faktor penyebab stunting, buku ini berusaha memberikan pandangan komprehensif dan solusi konkret. "Semoga buku ini bukan hanya menjadi sumber wawasan, tetapi juga menjadi pemicu tindakan nyata dan menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas di tanah air," kata Anggota DPRD Kabupaten Sleman tersebut. (***)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Ternyata Selat Hormuz Sudah Dilintasi Ratusan Kapal

Ternyata Selat Hormuz Sudah Dilintasi Ratusan Kapal

News
| Sabtu, 04 April 2026, 17:57 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement