Advertisement
LITERASI LINGKUNGAN: Bedah Buku Dorong Pengelolaan Sampah
Ratusan peserta mendengarkan penjelasan narsumber mengenai pengelolaan sampah dalam acara bedah buku bertema Cara Mengelola Sampah Mandiri Bersama Komunitas di Balai Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul pada Senin (19/2/2024). Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono
Advertisement
GUNUNGKIDUL—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY kembali menggelar bedah buku berjudul Cara Mengelola Sampah Mandiri Bersama Komunitas. Bedah buku pada Senin (19/2/2024) digelar di Balai Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul yang merupakan kawasan perkotaan.
Pustakawan Ahli Muda DPAD DIY, Hardi Nugroho mengatakan pengelolaan sampah di Kalurahan Kepek masih tergolong sederhana tanpa proses pemilahan terlebih dahulu. “Sumber sampah dari rumah tangga. Jadi dapat diinisiasi dari tingkat terendah. Asumsinya di tingkat lebih tinggi ada bank sampah atau pegiat sampah,” kata Hardi di Balai Kalurahan Kepek, Senin.
Advertisement
Hardi mengatakan pihaknya akan mengupayakan anggaran untuk menindaklanjuti program bedah buku sehingga ada berkelanjutan. DPAD DIY juga akan menggandeng pihak lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Dia menyebut masih ada 17 titik di Gunungkidul yang akan dilakukan
bedah buku. Hanya, tidak semua mengambil tema pengelolaan sampah. Tema yang diangkat menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kalurahan. “Bisa tentang pemberdayaan pertanian, perikanan, dan seterusnya. Kemungkinan berbeda-beda,” katanya.
Hardi menambahkan setelah bedah buku dilakukan, DPAD DIY lantas menggelar monitoring dan evaluasi (monev). Monev tersebut menjadi salah satu cara untuk mengukur tingkat pemahaman atau sasaran program.
Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Imam Taufik mengatakan bedah buku perlu memperhatikan kemaslahatan peserta atau masyarakat. Hal mendesak yang perlu dibahas dalam acara tersebut adalah bagaimana warga dapat memaksimalkan potensi sekitarnya.
“Agar warga atau peserta dapat memberdayakan untuk menambah income masyarakat. Kaitannya berarti buku-buku untuk membekali masyarakat,” kata Imam.
Imam menegaskan hal-hal berkaitan dengan ekonomi ke depan akan mendapat perhatian dari masyarakat. Dengan adanya bedah buku maka warga mendapat pengetahuan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Adapun terkait dengan tema sampah yang dibedah, politikus PKS tersebut menilai persoalan sampah mendesak untuk ditangani. Dia memberi contoh persoalan yang sama di Kota Jogja. Sebab itu, pengelolaan sampah adalah bentuk keterlibatan pemeliharaan lingkungan.
Dalam acara bedah buku tersebut, DPAD DIY turut menghadirkan praktisi yang telah berkecimpung dalam pengelolaan sampah sejak lama, yakni Umdatul Qori’ah. Dia menyinggung praktik membakar sampah yang sebenarnya bukan solusi atas timbunan sampah. Pasalnya, pembakaran sampah tetap berdampak pada lingkungan karena menjadi sumber pencemaran udara.
Salah satu peserta bedah buku, Parmini mengatakan bedah buku tersebut sangat bermanfaat karena selain mendapat pengetahuan pengelolaan sampah juga ada fasilitasi pembentukan bank sampah. “Bedah buku ini perlu juga ada tindak lanjut dengan membuat gerakangerakan kelompok pengelolaan sampah,” kata Parmini.
Parmini telah menerapkan praktik memilah sampah lebih dari 10 tahun. Sampah anorganik akan disendirikan lalu dijual dan sampah organik akan ditimbun. “Di belakang rumah saya juga ada sungai kecil. Kalau meluap, airnya bisa sampai pekarangan dan muncul sampah berserakan,” katanya. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Hujan Lebat Picu Banjir di Jakbar, 12 RT dan 4 Jalan Tergenang
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement






