Dukung Pembenahan MBG, HIPMI DIY Desak BGN Lindungi UMKM Mitra
HIPMI DIY meminta evaluasi Program Makan Bergizi Gratis tidak merugikan UMKM mitra yang telah berinvestasi besar untuk mendukung program pemerintah.
Imam jemaah Aolia Gunungkidul Mbah Benu. /Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono.
Harianjogja.com, JOGJA—Jika anda berkunjungan ke Pantai Ngobaran yang terletak di Kecamatan Panggang Gunungkidul akan melihat sebuah bangunan Musala kecil tepat di di atas perbukitan bibir pantai. Ternyata Musala ini dibangun oleh KH. Ibnu Hajar Pranolo alias Mbah Benu.
Kepastian informasi bahwa Musala tersebut dibangun Mbah Benu tertulis dalam karya ilmiah tesis Mohammad Ulyan mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam IAIN Puwokerto tahun 2018 berjudul berjudul Dekonstruksi Mitos Kanjeng Ratu Kidul dalam Pendidikan Akidah Perspektif KH Raden Ibnu Hajar Shaleh Pranolo 1942-Sekarang (2017).
Harianjogja.com berusaha mengkonfirmasi data tersebut ke pihak keluarga Mbah Benu lewat sambungan telepon, pun dibenarkan oleh anak menantunya bernama Daud. "Iya [Musala di Ngobaran dibangun Mbah Benu]," kata Daud, Minggu (7/4/2024).
Musala yang dibangun tersebut memang tidak seperti musala pada umumnya yang menghadap ke kiblat atau barat, namun bangunan di tepi pantai ini menghadap ke laut selatan. Pada karya ilmiah tesis Dekonstruksi Mitos Kanjeng Ratu Kidul dalam Pendidikan Akidah Perspektif KH Raden Ibnu Hajar Shaleh Pranolo diungkap alasan pembangunan musala tersebut meski tidak diungkap tahun pelaksanaan pembangunan.
"KH. Ibnu Hajar mengungkapkan bahwa pendirian mushola tersebut berawal ketika sedang berdzikir di tepi Pantai Ngobaran bersama para jamaah. Kemudian tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Seketika itu para jamaah berlari membubarkan diri agar tidak kehujanan. Setelah itu KH. Ibnu Hajar membangun mushola tepat di tepi Pantai Ngobaran, Kecamatan Saptosari, Gunungkidul. Mushola Aoliya` tersebut berbeda dengan mushola pada umumnya, karena tempat pengimamannya
menghadap ke Selatan, namun demikian tetap ditulis arah kiblat menghadap barat,".
Disebut musala Aolia, bangunannya berlantaikan pasir pantai. Ventilasi khas bermotif logo Jamaah Aoliya menghiasi dinding serta beberapa kaligrafi menambah unik bangunan tersebut. Di sebelah barat berdiri bangunan Pura yang terdiri dari beraneka macam patung menjadikan pemandangan yang khas bagi wisatawan. "Ombak besar laut selatan menghantam karang serta semilir angin pantai menemani penulis ketika melakukan observasi di Pantai Ngobaran. Mushola tersebut merupakan gerbang untuk memasuki Keraton Kerajaan Pantai Selatan," tulis Tesis tersebut.
Keberadaan Musala ini melengkapi sejumlah tempat ibadah di pantai tersebut. Karena di lokasi tersebut juga terdapat Pura yang biasa digunakan oleh umat Hindu. Karena terdapat beberapa tempat ibadah inilah pantai Ngobaran sering disebut sebagai simbol toleransi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
HIPMI DIY meminta evaluasi Program Makan Bergizi Gratis tidak merugikan UMKM mitra yang telah berinvestasi besar untuk mendukung program pemerintah.
Rupiah menguat ke Rp17.922 per dolar AS, didorong efisiensi anggaran MBG dan intervensi Bank Indonesia.
Warga Pracimantoro ajukan 13 tuntutan, desak revisi RTRW Wonogiri dan tolak pabrik semen demi kelestarian karst.
Libur sekolah picu lonjakan penumpang kereta di Jogja hingga 54 ribu, naik 21 persen dari hari biasa.
"Desa Kranggan luar biasa majunya. Ini yang terus kita potret. Kita tadi ajak sebagian kepala dinas kita untuk melihat langsung bagaimana desa ini berkembang"
OJK cabut izin BPR Ceper Klaten. LPS jamin simpanan nasabah dan proses likuidasi hingga Oktober 2026.