Dari TKD Mangkrak, Pleret Kembangkan Pertanian Berbasis IoT dan AI
TKD mangkrak di Pleret, Bantul, kini jadi lahan percontohan pertanian berbasis IoT dan AI dengan sistem penyiraman otomatis.
Pemakaman salah satu korban keracunan makanan di Kalurahan Playen, Playen, Gunungkidul, Senin (27/5/2024)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY meminta masyarakat untuk menjaga kebersihan tempat pengolahan makanan. Imbauan ini merespons munculnya peristiwa dua warga yang meninggal dunia akibat keracunan makanan di Padukuhan Tumpak, Kalurahan Ngawu, Playen, Gunungkidul.
Kepala Dinkes DIY, Pembajun Setyaningastutie mengaku akan melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap kasus di Playen itu. Akan teteapi lantaran masih dalam suasana berduka, petugas belum diperbolehkan masuk ke dalam tempat pengolahan makanan yang merupakan rumah warga itu.
"Yang kami sayangkan karena petugas belum diizinkan untuk masuk di tempat karena itu makanan olahan rumahan bukan olahan pihak ketiga," katanya, Selasa (28/5/2024).
Pembajun menjelaskan kasus itu bermula dari acara syukuran. Sejumlah warga dan tetangga diundang untuk mengikuti acara itu. Kurang lebih ada sebanyak 15 orang kerabat yang hadir di acara itu. Empat orang lainnya tidak hadir tapi diberi hantaran. "Masakan itu sendiri tentunya dibuat sebelum maghrib ya pas acara berlangsung dan menurut beberapa korban yang kami tanya memang tidak ada rasa atau bau yang aneh dari makanan itu," ujarnya.
Acara syukuran itu digelar pada Kamis 23 Mei lalu. Para kerabat yang menghadiri syukuran baru merasakan gejala diare dan demam pada Jumat 24 Mei pagi.
Dari 19 orang yang mengkonsumsi makanan syukuran itu tujuh di antaranya menjalani rawat jalan, lima rawat inap dan tujuh lainnya tidak bergejala. "Memang yang jadi sampel makanannya tidak ada. Waktu kami turun ke lapangan sudah tidak ada lagi sisa karena memang sudah lama juga. Kami turun hari Senin, 27 Mei karena baru dapat informasi Minggu, 26 Mei," katanya.
Adapun makanan yang dikonsumsi para kerabat itu di antaranya urap, ayam goreng, tempe dan nasi putih. Ada pula sambal terasi dan bawang serta air mineral. "Yang tidak bisa kami telusuri, apakah keracunan makanan atau minuman itu mohon maaf berasal dari tempat pengolahannya? Karena kami tidak bisa masuk melihat tempat pengolahannya. Belum diperkenankan dari pihak keluarga," ujarnya.
Di sisi lain, petugas juga belum bisa mendeteksi penyebab keracunan yang berasal dari feses para korban. Petugas tidak bisa membedakan apakah itu dari makanan, minuman atau dari bakteri lain. Fenomena ini, kata dia menjadi pekerjaan rumah bagi lintas sektor untuk memberikan edukasi kepada masyarakat luas.
"Memang sekarang olahan makanan itu harus diolah dengan baik. Tidak hanya kualitas makanan tetapi juga tempat pengolahan harus jadi perhatian," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
TKD mangkrak di Pleret, Bantul, kini jadi lahan percontohan pertanian berbasis IoT dan AI dengan sistem penyiraman otomatis.
Olahraga tradisional Nusantara akan menjadi salah satu sajian utama dalam ASEAN Sports Day (ASD) 2026 yang digelar di Jogja pada 31 Agustus-6 September 2026
BPBD DIY menyiapkan dukungan anggaran menghadapi puncak kekeringan Agustus-September 2026. Gunungkidul sudah salurkan 484 tangki air.
Menhub Dudy Purwagandhi menyebut kabut asap karhutla mulai mereda. Transportasi darat, laut, dan udara di Kalimantan tetap beroperasi.
Rencana regrouping SDN Hargomulyo dengan SDN Banjaran ditolak warga. Disdikpora Kulonprogo akan meninjau ulang kebijakan tersebut.
GAIA Cosmo Hotel Yogyakarta berharap aksi solidaritas tersebut dapat menginspirasi lebih banyak pihak, baik dari sektor swasta maupun masyarakat luas