SPMB SMPN 5 Jogja Membludak, Orang Tua Antre Sejak Pukul 05.00 WIB
Hari pertama SPMB SMPN 5 Jogja dipadati pendaftar. Puluhan orang tua mengantre sejak pukul 05.00 WIB demi mendapat nomor verifikasi lebih awal.
Ilustrasi rumah murah bersubsidi/JIBI
Harianjogja.com, BANTUL–Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Bantul menolak berlakunya program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). SPSI menilai program tersebut tidak sesuai dengan kondisi pekerja di Bantul.
Ketua SPSI Bantul Fardhanatun menyampaikan hingga saat ini belum mendapatkan informasi mengenai teknis pelaksanaan Tapera. Meski begitu, menurutnya, ada ketidakjelasan mengenai alokasi anggaran yang akan dikumpulkan melalui program tersebut.
“Kami menolak [Tapera]. Karena itu ujung-ujungnya uang yang terkumpul sekian banyak kita tidak tahu ke mana,” katanya, Minggu (2/6/2024).
Dia mengaku telah mendiskusikan mengenai program tersebut dengan serikat pekerjanya. Menurutnya, program tersebut tidak sesuai untuk diterapkan di Bantul.
Dia menuturkan pendapatan pekerja Bantul bila mengacu pada upah minimum kabupaten (UMK) Bantul hanya mencapai Rp2.216.463 ribu. Dia menuturkan saat ini ada sekitar 6-8 juta orang yang tergabung dalam SPSI, dari jumlah tersebut pekerja yang bekerja di perusahaan yang terdaftar di Disnaker telah mendapatkan upah sesuai UMK Bantul. Sementara menurutnya sebagian lain masih ada pekerja di Bantul yang bekerja pada beberapa UMKM yang mendapatkan upah di bawah UMK.
Baca Juga
Anak Pensiunan PNS Curhat soal Iuran Tapera 30 Tahun, Saldo Cuma Rp8 Juta tapi Sulit Cair
Iuran Tapera Ditolak di Sana-Sini, BP Tapera Coba Jelaskan Urgensinya
Kemenkeu Sebut Iuran Tapera Murni untuk Pembiayaan Perumahan Pekerja, Tak Masuk APBN
Dia menuturkan mengacu pada pasal 15 ayat 1 dan 2 PP No.21/2024 besaran simpanan peserta Tapera ditetapkan 3% dari gaji atau upah. Besaran tersebut terbagi atas 0,5% ditanggung pemberi kerja dan 2,5% wajib dibayarkan oleh pekerja.
Dia menilai potongan 2,5% dari gaji atau upah pekerja dengan gaji UMK Bantul, maka dia sangsi simpanan tersebut mampu menyediakan pembiayaan rumah terjangkau bagi pekerja di Bantul.
“Menurut kami mustahil, dengan kita dipotong 3 persen [untuk Tapera]. Hitungan kami sebulan enggak ada Rp100.000 [potongan untuk Tapera]. Setahun hanya kurang dari Rp1 juta,,” ujarnya.
Padahal menurutnya saat ini harga rumah di Bantul terbilang tinggi. Rata-rata menurutnya mencapai Rp250 juta-Rp300 juta per unit.
Selain itu, menurut dia sebagian besar pekerja di Bantul merupakan warga lokal, sehingga banyak di antaranya yang telah memiliki rumah warisan orang tua.
“Pekerja di Bantul rata-rata sudah punya rumah warisan dari orang tua. Sedikit sekali yang tidak punya,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hari pertama SPMB SMPN 5 Jogja dipadati pendaftar. Puluhan orang tua mengantre sejak pukul 05.00 WIB demi mendapat nomor verifikasi lebih awal.
Pemerintah tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME. Ini tujuan, sejarah, dan maknanya bagi Indonesia.
PT Pegadaian (Persero) semakin menunjukkan performa bisnis yang gemilang di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Spanyol lolos ke perempat final Piala Dunia 2026 usai menang 1-0 atas Portugal lewat gol injury time Mikel Merino.
Harga cabai rawit tembus Rp62.150 per kg. Simak update lengkap harga pangan nasional terbaru dari PIHPS hari ini.
Rangkuman 10 berita terpopuler Jogja hari ini, 7 Juli 2026, dari tol Jogja-Solo, wisata, hingga isu olahraga dunia.