Advertisement

Alih Fungsi Lahan dan Berkurangnya SDM Petani Jadi Tantangan Ketahanan Pangan

Newswire
Minggu, 30 Juni 2024 - 00:37 WIB
Sunartono
Alih Fungsi Lahan dan Berkurangnya SDM Petani Jadi Tantangan Ketahanan Pangan Diskusi Coffee Morning Lecture FTSP UII bertema Quo Vadis Petani. - Istimewa.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Alih fungsi lahan yang saat ini mulai melebar hingga wilayah pedesaan hingga minimnya minat generasi muda bergelut di sektor pertanian menjadi tantangan tersendiri bagi ketahanan pangan ke depan. Oleh karena itu sektor pertanian harus terus diberikan dukungan ke depan.

Isu ini dibahas dalam diskusi Coffee Morning Lecture FTSP UII bertema Quo Vadis Petani, membahas tantangan yang dihadapi oleh petani dalam menghadapi krisis iklim, krisis lahan, dan krisis SDM petani. Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Sigit Hardjono mengatakan krisis lahan dan SDM petani memang menjadi tantangan tersendiri bagi pertanian di DIY.

Advertisement

Mengingat alih fungsi lahan dari pertanian ke permukiman atau pembangunan terus terjadi. Selain itu akses lahan menjadi terbatas bagi petani kecil. "Setiap tahun lahan pertanian di DIY mengalami alih fungsi sekitar 150 hektare," katanya dalam diskusi tersebut.

Di sisi lain, sektor pertanian masih didera tantangan minimnya SDM petani. Jumlah petani terus menyusut seiring minimnya minat generasi muda untuk menjadi petani. Berdasarkan data tahun 2018 jumlah petani di DIY berada di angka 615.377 terdiri atas 433.175 laki-laki dan 182.202 wanita.

Dari jumlah itu tercatat petani usia di bawah 25 tahun jumlahnya sangat kecil yaitu 5.718 serta usia 25-34 tahun di angka 35.264. "Populasi petani yang menua, jumlah petani dari tahun ke tahun terus berkurang," ujarnya.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM Profesor Jamhari menambahkan saat ini Indonesia memang sedang menghadapi tantangan pangan dan pertanian. Kapasitas supply pertanian makin sedikit karena lahan yang semakin semakin menyusut dan terkonversi. Di sisi lain perubahan iklim berdampak pada kurangnya ketersediaan air.

"Air dari sumbernya saat ini sudah dipakai untuk berbagai macam, sehingga makin terbatas. Indonesia diprediksi akan mencapai puncak demand di 2062 terkait kebutuhan sandang, pangan dan papan, maka harus diantisipasi sejak sekarang," ujarnya.

Dekan FTSP UII, Profesor Ilya Fadjar Maharika berharap melalusi diskusi itu memperkuat kolaborasi dan berbagi pengetahuan antar pemangku kepentingan untuk mendorong inovasi, peningkatan kapasitas, dan transfer teknologi di bidang pertanian. "Khususnya dalam menghadapi krisis iklim, krisis lahan, dan krisis SDM petani," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Kecaman Keras Muncul Atas Aturan Hukuman Mati Israel

Kecaman Keras Muncul Atas Aturan Hukuman Mati Israel

News
| Sabtu, 04 April 2026, 20:17 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement