Gegara Sampah Plastik, Produksi Perikanan Tangkap di Gunungkidul Turun hingga 80 Persen

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Minggu, 07 Juli 2024 16:17 WIB
Gegara Sampah Plastik, Produksi Perikanan Tangkap di Gunungkidul Turun hingga 80 Persen

Ilustrasi-Sejumlah nelayan menghitung hasil tangkapan bersama pengepul ikan di Pantai Congot, Kamis (4/10/2018)./Harian Jogja-Uli Febriarni

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Gunungkidul menyampaikan produksi perikanan tangkap nelayan di seluruh pantai di Gunungkidul berkurang 80% dari tangkapan normal akibat keberadaan sampah plastik.

Ketua HNSI Gunungkidul, Rujimanto mengatakan sampah plastik yang berada di kedalaman 100 meter akan naik ke permukaan apabila arus bawah laut kencang. Sampah ini akan tersangkut di jaring nelayan.

“Ikan-ikan itu tidak nyaman dengan sampah plastik dan mereka tidak akan bertahan lama di lautan Yogyakarta,” kata Rujimanto dihubungi, Minggu, (7/7).

Dia mengaku sampah plastik ini dapat memenuhi perahu jungkung nelayan yang memiliki panjang 10 meter (m), lebar 110 centimeter (cm), dengan ketinggian 70 cm. Softex, pampers, hingga sampah kantung plastik dan sachet mengendap di dasar laut atau lumpur. Sampah plastik dalam kondisi terbakar dan tersangkut di jaring akan sangat susah dilepas.

Jelas dia, ada dua habitat ikan yaitu dasar laut/ lumpur dan karang. Jumlah ikan di lumpur lebih banyak daripada di karang.

“Harapan kami, masyarakat perlu mengurangi penggunaan plastik ketika belanja di warung,” katanya.

BACA JUGA: Gelar Labuhan, Pelaku Wisata di Pantai Baron Harapkan Peningkatan Kunjungan

Terlepas dari persoalan sampah, Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul, Wahid Supriyadi mengatakan jawatannya terus berupaya membantu nelayan untuk meningkatkan produksi perikanan tangkap.

Beberapa upaya yang masih dilakukan DKP antara lain fasilitasi pengajuan bantuan hibah armada kapal/perahu dan alat tangkap serta rumpon/rumah ikan baik melalui DKP DIY maupun juga Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Selain itu, DKP juga untuk meningkatkan kompetensi dan keselamatan pelayaran. Penyelenggaraan bimbingan teknis dilakukan bekerja sama dengan DKP DIY maupun KKP.

Adapun total produksi perikanan tangkap pada 2023 mencapai 4.166 ton dengan nilai produksi Rp81.700.429.000 dan biaya operasional melaut mencapai Rp7.173.200.000.

Jumlah produksi tersebut didapat dari tujuh tempat pelelangan ikan (TPI) yang aktif mulai dari Sadeng, Siung, Ngandong, Drini, Baron, Ngrenehan, dan Gesing. Mayoritas jenis ikan yang ditangkap antara lain Cakalang, Layur, Tongkol dan Tuna.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online