Antrean Pasien Jadi Keluhan, Puskesmas Sleman Evaluasi Layanan
Antrean pasien menjadi sorotan di Puskesmas Sleman. Evaluasi layanan dan inovasi pendaftaran online disiapkan untuk kurangi waktu tunggu.
Seorang pengendara motor sedang melintas jalan depan Gunung Api Purba, Kalurahan Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, Sabtu (28/12/2024). - Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pengelola Desa Wisata Nglanggeran, Dedik Widiyanto menyampaikan kunjungan wisatawan di Desa Wisata Nglanggeran mayoritas berasal dari Jakarta dan Bandung, Jawa Barat. Adapun kunjungan sejak Senin (23/12/2024)–Kamis (26/12/2024) mencapai 937 orang.
Rincian kunjungan tersebut, yaitu Senin ada 185 orang, Selasa 332 orang, Rabu 270 orang, dan Kamis 150 orang.
“Mayoritas wisatawan dari Jakarta dan Bandung. Keluarga yang pakai mobil pribadi. Kebanyakan trekking Gunung Api Purba dan Embung,” kata Dedik ditemui di Loket Gunung Api Purba, Sabtu (28/12/2024).
Dedik mengaku tidak ada persiapan khusus selama libur panjang natal. Pengelola hanya membersihkan area dan mengecek keamanan sekitar. Menurut dia, kunjungan libur natal 2024 lebih banyak daripada momen yang sama tahun lalu.
Salah satu faktor yang meningkatkan angka kunjungan di DW Nglanggeran adalah cuaca cerah. Adapun program live in akan mulai banyak pada Januari 2025. Live in digelar di hari-hari produktif. Di hari libur, live in justru sangat jarang.
BACA JUGA: Selama Natal dan Tahun Baru, 18 Ribu Penumpang Kereta Api Turun di Jogja Setiap Hari
Disinggung ihwal perbedaan angka kunjungan dengan kawasan pantai, Dedik mengaku kawasan pantai merupakan destinasi yang dapat dijangkau segala umur. Sedangkan, DW Nglanggeran merupakan wisata minat khusus. Trekking pun lebih banyak diminati kalangan muda.
Penata Lingkungan dan Kawasan DW Nglanggeran, Triyana mengatakan liburan Natal menaikkan angka kunjungan daripada hari-hari biasa di DW Nglanggeran, khususnya Gunung Api Purba.
“Kalau Embung ada peningkatan juga, tapi tidak signifikan. Beberapa hari belakangan tidak hujan jadi menaikkan angka kunjungan,” kata Triyana.
BACA JUGA: Lima Atlet Indonesia Ditarik dari Daftar Peserta Malaysia Open, Ini Alasannya
Triyana menambahkan Tim Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) juga rutin mengecek jalur trekking di Gunung Api Purba, utamanya apabila hujan turun. Hujan berpotensi mengubah struktur tanah.
Ihwal keamanan, Pokdarwis juga bekerja sama dengan Tim SAR, kepolisian, dan TNI dalam memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung.
Senada dengan Dedik, Triyana mengaku jarang ada wisatawan yang mengambil paket wisata selama libur panjang. Paket wisata lebih sering diambil oleh pelaku live in dari bermacam instansi.
“Paket unggulan di Desa Wisata Nglanggeran kan lebih ke live in. Mereka ke sini dan tinggal beberapa hari dan mengikuti paket edukasi seperti bercocok tanam, perkebunan kakao, kebudayaan, kuliner,” katanya.
Pemilik Homestay di DW Nglanggeran, Sutardi mengatakan kunjungan wisatawan mulai ramai sejak Selasa (24/12/2024). Homestay miliknya memiliki tiga kamar. Ada total sembilang orang yang menginap sejak Selasa hingga Sabtu (28/12/2024).
Sutardi menambahkan wisatawan yang menginap di homestay juga berkunjung ke pantai selain di Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran. “Sekarang [Sabtu] ada empat orang menginap dua hari dua malam,” kata Sutardi.
Dia menjelaskan ada sekitar 55 homestay di DW Nglanggeran. Pembayaran homestay dilayani di loket retribusi. Pengelola Desa Wisata nantinya akan membagi wisatawan yang berkunjung ke homestay yang ada. Hal ini dilakukan agar setiap homestay mendapat pemasukan yang rata.
“Tapi kalau ada wisatawan yang memang mau menginap di tempat saya juga tidak masalah. Tapi bayarnya tetap lewat loket,” katanya.
Apabila Sutardi menerima pembayaran langsung dari wisatawan, hal ini akan berdampak pada pengelolaan homestay dan DW Nglanggeran secara keseluruhan. Adapun tarif menginap per malam Rp100.000 tanpa makan dan Rp175.000 dengan makan.
Wisatawan Asal Bekasi, Antok mengaku baru pertama kali mengunjungi DW Nglanggeran. Ketika ditemui Harianjogja.com, dia baru saja tiba dan bersiap menjelajahi kaki Gunung Api Purba.
“Tidak trekking, jalan-jalan saja. Kalau sempat nanti mau ke Embung Nglanggeran juga. Pulang nanti tanggal 31 Desember,” kata Antok.
Antok menyukai wisata minat khusus yang mengunggulkan sumber daya alam. Hal ini dilatarbelakangi background pendidikannya di bidang geografi. “Bentang alam Gunung Api Purba pernah saya pelajari,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Antrean pasien menjadi sorotan di Puskesmas Sleman. Evaluasi layanan dan inovasi pendaftaran online disiapkan untuk kurangi waktu tunggu.
Metode RFA jadi solusi atasi benjolan tiroid tanpa operasi. Minim risiko, tanpa bekas luka, hasil efektif bertahap.
Imigrasi Soetta ungkap dua modus haji ilegal, dari visa wisata hingga visa kerja. Puluhan jemaah berhasil dicegah.
Persib Bandung bantah isu tunggakan gaji. Transfer ban FIFA ternyata terkait kasus kontrak Daisuke Sato.
Krisis Selat Hormuz picu ancaman ekonomi global. IMF, Bank Dunia, IEA, dan WTO soroti pasokan minyak dan energi.
Final Liga Champions 2026 hadirkan duel Rice vs Vitinha. Siapa paling dominan di lini tengah dan bawa tim juara?