Kelok 23 Gunungkidul Dilengkapi Rest Area dan 3 Gardu Pandang
Kelok 23 di perbatasan Gunungkidul-Bantul segera dibuka. Selain gardu pandang, kawasan ini akan dilengkapi rest area dan gerai UMKM.
Aktivitas jual beli di Pasar Argosari di Kapanewon Wonosari yang terlihat sepi jelang Lebaran. Kamis (27/3/2025) Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Sejumlah pedagang di Pasar Argosari, Wonosari, Gunungkidul mengeluh sepinya pembeli, jelang Lebaran yang tinggal menghitung hari. Diduga sepinya aktivitas erat kaitannya dengan menurunya daya beli di Masyarakat.
Keluhan sepinya pembeli dirasakan oleh pedagang pakaian di Pasar Argosari, Basuki. Menurut dia, dibandingkan dengan tahun lalu, aktivitas saat ini mengalami penurunan sekitar 70%
“Kondisinya memang sepi. Padahal ini sudah H-3 Lebaran, tapi belum ada kenaikan transaksi pembelian,” kata Basuki, Kamis (27/3/2025).
BACA JUGA: Lupa Matikan Api untuk Memasak Air, Rumah Warga Gedangsari Hangus Terbakar
Meski demikian, ia berharap di hari-hari terakhir Puasa ada kenaikan penjualan sehingga para pedagang bisa meraup untung dari momen Berlebaran. “Kami masih berharap adanya peningkatan kunjungan ke pasar sehingga bisa membeli pakaian yang saya jual,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh pedagang lainnya di Pasar Argosari, Suyat. Menurut dia, di tahun-tahun sebelumnya, saat jelang Lebaran bisa mendapatkan omset hingga Rp5 juta dalam sehari.
Namun demikian, sambug Suyat, kondisi sekarang tidak mendukung karena pasar relative sepi. “Sekarang bisa mendapatkan penghasilan Rp1 juta dalam sehari sudah bagus. Tapi, rata-rata pendapatan yang masuk kurang dari Rp1 juta,” katanya.
Salah seorang pembeli asal Semanu, Marsiyem mengatakan, masih sering pergi ke pasar Tradisional untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia berdalih tetap mempertahankan aktvitas ini karena di satu tempat bisa memilih beraneka ragam kebutuhan mulai dari bahan pokok hingga berlebaran.
“Jadi bisa memilih sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,” katanya.
Kepala Dinas Perdagangan Gunungkidul, Kelik Yuniantoro saat dikonfirmasi tidak menampik kondisi di pasar tradsional mengalami penurunan pengunjung beberapa hari terakhir. Kondisi tidak hanya terjadi di dalam pasar karena di toko-toko perbelanjaan juga mengalami hal yang sama.
“Biasanya sudah ramai, tapi sekarang masih sepi,” katanya.
Menurut dia, sepinya pusat-pusat perbelanjaan diduga karena menurunnya daya beli di Masyarakat. Hal ini pun memberikan pengaruh aktivitas jual beli jelang Lebaran.
“Pemudik yang datang ke Gunungkidul juga berkurang. Selain itu, penurunan uang yang beredar secara nasional sekitar 10-15% sangat berpengaruh terhadap daya beli Masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelok 23 di perbatasan Gunungkidul-Bantul segera dibuka. Selain gardu pandang, kawasan ini akan dilengkapi rest area dan gerai UMKM.
Petani jagung di Bantul bisa meraup keuntungan sekitar Rp3 juta dari lahan 1.000 meter persegi sekali panen. Harga jagung Rp6.500 per kilogram.
iPhone Duo hadir tanpa SIM fisik dan Apple Intelligence belum mendukung Bahasa Indonesia. Ini yang perlu diketahui calon pembeli di Indonesia.
Atta Halilintar membantah foto viral bersama Mercedes Roa sebagai hasil editan AI. Mercedes dan Aurel Hermansyah juga memberikan klarifikasi.
PSS Sleman kalah dari Bali United pada laga perdana. Pieter Huistra berharap PSS Fans kembali memberi energi saat menjamu Madura United.
Harga iPhone Duo di Malaysia dan Singapura mulai Rp40 jutaan. Simak harga tiap kapasitas, jadwal pre-order, spesifikasi, dan aturan IMEI.