Gunungkidul Tak Kebagian Kuota Transmigrasi 2026, Ini Penyebabnya
Gunungkidul dipastikan tidak memberangkatkan peserta transmigrasi pada 2026 karena minimnya kuota yang diterima DIY. Padahal, masih ada sekitar 30 kepala keluar
Perpusda Gunungkidul./Facebook Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Gunungkidul memperkirakan butuh waktu sekitar tujuh tahun lagi untuk mewujudkan Transormasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) di seluruh kalurahan. Pasalnya, hingga sekarang dari 144 kalurahan, baru terbentuk di 65 kalurahan di Bumi Handayani.
Kepala Bidang Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Gunungkidul, Arif Yahya mengatakan, program TBIS merupakan program Pemerintah Pusat yang diinisiasi oleh Perpustakaan Nasional. Diharapkan, perpustakaan berbasis inklusi sosial ini dapat didirikan di seluruh kalurahan.
BACA JUGA: Dihantam Ombak, Perahu Nelayan Terbalik di Kawasan Pelabuhan Sadeng Gunungkidul
Hanya saja, ia mengakui dikarenakan keterbatasan anggaran, maka pembangunan belum bisa menyasar ke setiap kalurahan. Pasalnya, hingga sekarang baru terbentuk di 67 kalurahan di Kabupaten Gunungkidul.
“Targetnya bisa terbentuk di 144 kalurahan, tapi hingga sekarang baru terbangun di 67 kalurahan,” kata Arif, Selasa (29/7/2025).
Menurut dia, program TPBIS tak serta merta langsung terbentuk di setiap kalurahan. Hal ini dikarenakan program dilakukan secara bertahap.
“Mungkin butuh waktu enam hingga tujuh tahun agar perpustakaan kalurahan berbasis inklusi sosial terbentuk di seluruh kalurahan di Gunungkidul,” ungkapnya.
Disinggung mengenai peran dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Gunungkidul dalam pembentukan TPBIS, Arif mengakui terus mendorong perpustakaan di setiap kalurahan menerapkan program ini. Selain itu, juga mendorong pengusulan dibiayai melalui Pagu Wilayah Indikatif Kapanewon (PIWK) atau penganggaran lewat musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang).
“Kami juga berupaya menggandeng pihak ketiga maupun universitas untuk membentuk TPBIS di setiap kalurahan,” katanya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Gunungkidul, Kisworo mengatakan, perpustakaan di tingkat kalurahan tidak hanya untuk sarana literasi seperti membaca, meminjam atau mengembalikan buku. Pasalnya, fasilitas yang diberikan lebih luas karena bisa sebagai pusat pembelajaran maupun kegiatan Masyarakat.
“Program ini dikenal dengan perpustakaan berbasis inklusi sosial dan akan dikembangkan di seluruh kalurahan,” katanya.
Oleh karena itu, keberadaan perpustakaan bisa untuk kegiatan lain selain peningkatan minat baca. Hal ini dikarenakan di lokasi yang sama bisa menggelar kegiatan seperti senam, line dance, berbagai pelatihan mulai dari barista kopi, membuat bucket atau lainnya.
“Jadi juga sebagai bagian untuk menyemarakan dan menghidupkan keberadaan perpustakaan di kalurahan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul dipastikan tidak memberangkatkan peserta transmigrasi pada 2026 karena minimnya kuota yang diterima DIY. Padahal, masih ada sekitar 30 kepala keluar
Lonjakan bot jahat di Asia Pasifik mencapai 63% pada 2025. Pengguna e-commerce dan layanan AI menghadapi ancaman siber yang semakin besar.
Rekomendasi 6 speaker Bluetooth terbaik 2026 dari JBL, Sony, Bose, Marshall, Anker, hingga Tribit. Temukan speaker yang sesuai kebutuhan Anda!
Myanmar vs Malaysia di Piala AFF 2026 berakhir 2-1. Brace Paulo Josue bawa Harimau Malaya comeback setelah tertinggal lebih dulu
Justin Hubner dipastikan absen membela Timnas Indonesia di Kejuaraan ASEAN 2026 setelah Fortuna Sittard menolak melepas sang bek karena turnamen tidak masuk kal
Forbes 2025 menempatkan 25 perempuan dari industri teknologi dalam daftar kaya mandiri AS. Judy Faulkner, Thai Lee, dan Jayshree Ullal masuk jajaran teratas.